HomeBeritaBelajar Dari Ketangguhan Korban...

Belajar Dari Ketangguhan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai – Pagi itu, aula Madrasah Aliyah Negeri 2 Surakarta, Jawa Tengah telah dipenuhi oleh puluhan siswa-siswi, Kamis (17/10). Mereka bersiap mendapatkan pembelajaran dari kegiatan Dialog Interaktif yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA).

AIDA menghadirkan sejumlah korban (penyintas) dan mantan pelaku terorisme sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman hidup. Salah seorang mantan pelaku, Kurnia Widodo mengatakan, ketika masih muda ia memiliki ghiroh yang tinggi untuk belajar Islam. Namun demikian, akibat salah memilih pertemanan, ia terjerumus ke dalam paham dan ajaran-ajaran kekerasan. Di dalam kelompok kekerasan, ia mengaku kerap menyalahkan, bahkan mengkafirkan orang lain. 

Saat ini, pria kelahiran Lampung tersebut telah meninggalkan paham dan kelompok kekerasan. Bagi Kurnia, pertaubatan dirinya terjadi ketika ia dipenjara dan dipertemukan dengan sejumlah korban dari aksi kekerasan.  Ia merasa apa yang dilakukannya dahulu telah melukai orang-orang tak bersalah. 

Sejak bergabung dengan AIDA, Kurnia mulai berani mengisahkan kekeliruan kelompoknya dahulu yang kerap membenarkan cara-cara kekerasan. Ia pun berpesan agar generasi muda bisa mengambil pembelajaran dari kisahnya, dan tidak mengikuti jalan kekerasan.

“Saya berpesan kepada generasi muda, untuk tidak mengikuti jejak yang dahulu pernah saya jalani, dan jangan suka mengkafirkan orang lain, pemahaman keagamaan (kami) itu tertutup. Orang-orang Islam di Indonesia dianggap hanya Islam KTP saja,” ujar Kurnia. 

Baca juga Komitmen Pelajar Surakarta Menjadi Duta Damai

Ketika ditanya oleh seorang siswa, apa yang membuat kelompok Kurnia merasa istimewa, ia menjawab bahwa kelompoknya dahulu menganggap orang atau kelompok yang berbeda pandangan dengan kelompoknya sebagai kafir, meskipun orang tersebut beragama Islam. Kini ia menyadari bahwa tak ada seorang pun yang berhak memvonis keimanan orang lain, karena hal itu merupakan hak prerogatif Allah. “Pesan saya jangan sampai generasi muda sempit dalam memahami pesan agama. Setiap agama mengajarkan kebaikan dan perdamaian. Sementara dendam tidak akan menyelesaikan masalah,” jelas Kurnia. 

Selain belajar dari kisah pertaubatan mantan pelaku ekstremisme, para siswa juga belajar dari kisah-kisah korbannya. Sebagai korban, banyak kepiluan hidup yang harus mereka jalani. Sejumlah korban mengalami luka bakar yang proses pengobatannya berlangsung selama bertahun-tahun. Ada pula yang kehilangan sebagian anggota tubunya. Bahkan, yang paling menyedihkan, tidak sedikit para korban yang harus kehilangan istri atau suami tercinta akibat terkena ledakan bom.

Baca juga Menyemai Damai di Kalangan Muda Melalui Film

Salah seorang korban Bom Bali 2002, R. Supriyo Laksono juga berbagi kisahnya kepada para siswa. Sony, sapaan akrabnya, mengalami luka-luka di bagian kepala akibat reruntuhan bangunan saat peristiwa bom. Ia juga harus kehilangan istri tercinta karena meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. Meski demikian, setelah belasan tahun ledakan itu terjadi, ia tidak menaruh dendam, bahkan telah memaafkan para pelaku. “Karena saya sudah berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan mantan pelaku (Kurnia), maka hal itu membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” tuturnya.

Sejak 2015, Sony bergabung dengan tim perdamaian AIDA dan menyuarakan perdamaian bagi kalangan muda Indonesia. Ia berharap, melalui kisahnya, banyak orang lebih peka akan bahaya terorisme, sehingga masyarakat luas lebih memiliki kesadaran yang sama untuk mewujudkan perdamaian Indonesia.

Di akhir sesi, Deputi Direktur AIDA Laode Arham menyimpulan bahwa dari kisah mantan pelaku diharapkan tidak ada lagi yang menjadi pelaku terorisme, dan dari kisah korban tidak ada lagi orang yang menjadi korban. Laode juga mengajak para siswa agar senantiasa menjaga perdamaian, minimal bagi teman, keluarga dan di lingkungan sekitarnya. [FS]

Baca juga Dari Jalan Kekerasan, Menjadi Duta Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...