HomeBeritaMenjalin Soliditas Tim Perdamaian...

Menjalin Soliditas Tim Perdamaian AIDA

Aliansi Indonesia Damai- Perdamaian adalah kebutuhan hidup bagi setiap manusia. Basis paling dasar untuk menciptakan perdamaian adalah jalinan persaudaraan dan soliditas yang kuat di antara sesama, sehingga setiap kita bisa saling mengenal dan memahami satu dengan yang lain. 

Pesan itulah yang dikemukakan Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo saat memberikan sambutan dalam Pelatihan Tim Perdamaian Tingkat Lanjut yang digelar AIDA di Desa Bumi Gumati, Sentul Bogor, Sabtu-Minggu 21-22 September 2019 lalu. Hadir dua puluh delapan tim perdamaian AIDA yang terdiri dari mantan pelaku terorisme dan korbannya (penyintas). 

Imam mengatakan, kegiatan ini penting karena tim perdamaian bisa saling mengenal, bukan hanya sekedar nama, tetapi mengenal dalam arti saling memahami sehingga tercipta jalinan soliditas untuk saling menguatkan. Menurut Imam, para penyintas dan mantan pelaku ekstremisme yang telah bertaubat adalah orang-orang hebat. Pasalnya, di tengah-tengah maraknya pihak yang memilih jalan kekerasan, tim perdamaian justru memilih menebar kebaikan dan perdamaian. 

Baca juga Keakraban, Kedamaian dan Pesona Bromo

“AIDA mengajak kita untuk saling mengenal. Tim ini hebat, di tengah-tengah banyak orang membuat kekerasan, kita semua di sini memilih menyuarakan perdamaian. Kalau setan saja bisa berjejaring, maka pasukan perdamaian kenapa tidak,” ungkap Imam.

Pada kegiatan yang sama, direktur AIDA, Hasibullah Satrawi memaparkan, duta perdamaian adalah representasi uluran cinta dan kedamaian. Keberadaan mereka menjadi bukti betapa setiap manusia membutuhkan perdamaian. “Duta perdamaian jangan sampai terjebak ke jalan kekerasan,” katanya. Namun demikian, duta perdamaian bukan berarti tidak memiliki kekurangan, tetapi melalui kekurangan itu kita berbagi, “Kita berbagi dalam keterbatasan,” lanjut Hasibullah.

Kegiatan ini lebih sekedar merayakan kedekatan antarkorban terorisme (penyintas) dan mantan pelakunya. Lebih dari itu, kegiatan melebur menjadi wahana untuk menyampaikan kesan dan pesan selama menjadi duta perdamaian. Salah satu mantan pelaku ekstremisme, Ali Fauzi mengatakan, penyintas adalah orang-orang yang telah menyelamatkannya dari jalan kekerasan. Pasalnya, menurut Ali, dari penyintas ia bangkit dan belajar betapa kekerasan telah melukai, bahkan mengambil nyawa orang-orang tak bersalah. “Penyintas adalah pahlawan bagi saya. Kalian yang membuat saya bangkit,” paparnya.

Setelah keluar dari jaringan ekstremisme, Ali bertekad memperbaiki kesalahan-kesalahan masa lalunya. Ia  berkomitmen untuk mengajak teman-temannya di jaringan ekstremisme kembali ke jalan perdamaian. Ia mengaku terinspirasi dari AIDA untuk terus menyuarakan perdamaian. Karena itu, Ali bersama sejumlah mantan pelaku ekstremisme mendirikan Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) sebagai wadah untuk mencegah penyebaran virus ekstremisme. YLP juga membantu kehidupan mantan pelaku selepas keluar dari penjara dengan memberdayakan mereka. “AIDA inspirasi saya membuat Lingkar Perdamaian,” pungkasnya. [AH]

Baca juga Mendalami Makna Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....