Home Berita Menjalin Soliditas Tim Perdamaian AIDA
Berita - 04/11/2019

Menjalin Soliditas Tim Perdamaian AIDA

Aliansi Indonesia Damai- Perdamaian adalah kebutuhan hidup bagi setiap manusia. Basis paling dasar untuk menciptakan perdamaian adalah jalinan persaudaraan dan soliditas yang kuat di antara sesama, sehingga setiap kita bisa saling mengenal dan memahami satu dengan yang lain. 

Pesan itulah yang dikemukakan Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo saat memberikan sambutan dalam Pelatihan Tim Perdamaian Tingkat Lanjut yang digelar AIDA di Desa Bumi Gumati, Sentul Bogor, Sabtu-Minggu 21-22 September 2019 lalu. Hadir dua puluh delapan tim perdamaian AIDA yang terdiri dari mantan pelaku terorisme dan korbannya (penyintas). 

Imam mengatakan, kegiatan ini penting karena tim perdamaian bisa saling mengenal, bukan hanya sekedar nama, tetapi mengenal dalam arti saling memahami sehingga tercipta jalinan soliditas untuk saling menguatkan. Menurut Imam, para penyintas dan mantan pelaku ekstremisme yang telah bertaubat adalah orang-orang hebat. Pasalnya, di tengah-tengah maraknya pihak yang memilih jalan kekerasan, tim perdamaian justru memilih menebar kebaikan dan perdamaian. 

Baca juga Keakraban, Kedamaian dan Pesona Bromo

“AIDA mengajak kita untuk saling mengenal. Tim ini hebat, di tengah-tengah banyak orang membuat kekerasan, kita semua di sini memilih menyuarakan perdamaian. Kalau setan saja bisa berjejaring, maka pasukan perdamaian kenapa tidak,” ungkap Imam.

Pada kegiatan yang sama, direktur AIDA, Hasibullah Satrawi memaparkan, duta perdamaian adalah representasi uluran cinta dan kedamaian. Keberadaan mereka menjadi bukti betapa setiap manusia membutuhkan perdamaian. “Duta perdamaian jangan sampai terjebak ke jalan kekerasan,” katanya. Namun demikian, duta perdamaian bukan berarti tidak memiliki kekurangan, tetapi melalui kekurangan itu kita berbagi, “Kita berbagi dalam keterbatasan,” lanjut Hasibullah.

Kegiatan ini lebih sekedar merayakan kedekatan antarkorban terorisme (penyintas) dan mantan pelakunya. Lebih dari itu, kegiatan melebur menjadi wahana untuk menyampaikan kesan dan pesan selama menjadi duta perdamaian. Salah satu mantan pelaku ekstremisme, Ali Fauzi mengatakan, penyintas adalah orang-orang yang telah menyelamatkannya dari jalan kekerasan. Pasalnya, menurut Ali, dari penyintas ia bangkit dan belajar betapa kekerasan telah melukai, bahkan mengambil nyawa orang-orang tak bersalah. “Penyintas adalah pahlawan bagi saya. Kalian yang membuat saya bangkit,” paparnya.

Setelah keluar dari jaringan ekstremisme, Ali bertekad memperbaiki kesalahan-kesalahan masa lalunya. Ia  berkomitmen untuk mengajak teman-temannya di jaringan ekstremisme kembali ke jalan perdamaian. Ia mengaku terinspirasi dari AIDA untuk terus menyuarakan perdamaian. Karena itu, Ali bersama sejumlah mantan pelaku ekstremisme mendirikan Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) sebagai wadah untuk mencegah penyebaran virus ekstremisme. YLP juga membantu kehidupan mantan pelaku selepas keluar dari penjara dengan memberdayakan mereka. “AIDA inspirasi saya membuat Lingkar Perdamaian,” pungkasnya. [AH]

Baca juga Mendalami Makna Perdamaian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *