HomeBeritaGeliat Perdamaian dari Pesantren...

Geliat Perdamaian dari Pesantren Al-Mukmin Sragen

Aliansi Indonesia Damai – Pesantren memiliki kontribusi yang besar dalam mewujudkan perdamaian di Indonesia. Santri turut menjadi generasi muda yang menentukan arah masa depan bangsa Indonesia. Karena itu, santri diharapkan menjadi pionir untuk melestarikan perdamaian di Indonesia.

Harapan itu disampaikan salah satu peserta Diskusi dan Bedah film ”Tangguh” yang digelar di pelataran Masjid Pondok Pesantren Al-Mukmin Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Minggu (24/11). Menurutnya, paham-paham ekstrem makin marak tersebar, maka nilai dan pesan-pesan di dalam film ”Tangguh” harus disebarluaskan pula kepada masyarakat luas. ”Film ini bagus sekali dan penting disebarluaskan karena paham-paham yang mengajak kepada tindakan kekerasan makin tersebar pula,” katanya.

Baca juga Alim Ulama Sukoharjo Ajak Masyarakat Cintai Perdamaian

Ia mengajak para santri untuk menjaga amanah para kiai untuk tidak terlibat pada segala bentuk tindakan yang mengarah pada kekerasan. ”Kita harus membawa almamater pondok pesantren kita. Jangan sampai membawa apa-apa yang tidak menjadi mandat dari kiai. Apalagi kita melakukan perbuatan yang melanggar hukum,” tegas salah satu ustaz asal Pondok Pesantren Wali Songo, Sragen tersebut.

Fasilitator diskusi, Ustad Ahmad Tuba, yang juga alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian AIDA mengatakan, pengeboman telah merusak kehidupan banyak orang. Menurutnya, begitu banyak korban tak bersalah terkena dampak aksi terorisme, seperti kehilangan sebagian anggota tubuh, nyawa, bahkan tak sedikit pula menderita seumur hidup akibat luka serius yang dialaminya.

”Terorisme merugikan banyak orang, memakan banyak korban. Bayangkan begitu banyak luka fisik yang harus diderita korban seumur hidup. Di film tadi korban harus meminum obat begitu banyaknya selama bertahun-tahun. Coba bayangkan kalau kita yang minum obat setiap hari. Ada juga korban kehilangan orang-orang yang dicintainya, kehilangan anggota tubuhnya,” paparnya.

Baca juga Mendengar Pertaubatan Mantan Pelaku Terorisme, Tokoh Agama Tersentuh

Ia mengajak peserta untuk mengambil pembelajaran (ibroh) dari korban terorisme yang mampu bangkit dan berdamai dengan diri sendiri. ”Korban itu luar biasa. Mereka pasti marah, ingin memukul, ingin menghantam pelaku. Namun mereka justru memaafkan. Bisa menerima bahwa ini sudah menjadi takdir dan bagian hidup mereka. Korban mengajarkan kita untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan,” jelas Tuba.

Sementara salah satu santri putri pesantren Walisongo, Sragen mengatakan, agama Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan. Perbuatan teror menurutnya bertentangan dengan nilai-nilai Islam. ”Kita harus peka terhadap lingkungan, masyarakat dan orang lain, jangan mementingkan diri sendiri. Apalagi sampai terjerumus ke dalam kelompok teroris,” tegasnya.

Seorang santri putri pesantren Al-Mukmin ini menyatakan bahwa tindakan terorisme bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Sebab, akibat aksi tersebut, begitu banyak korban yang harus menanggung derita. ”Apalagi bagi korban yang masih hidup, harus mengalami luka, cacat tubuhnya bahkan harus kehilangan bola matanya, sekujur tubuhnya terbakar, itu sudah tentu sangat merugikan,” katanya.

Ia juga mengajak peserta untuk selektif memilih guru dan teman agar tidak terjerumus ke dalam kelompok dan paham ekstremis. ”Kalau kita lihat mengapa orang menjadi teroris di film itu, karena faktor sahabat, guru dan lain-lain. Ada yang bilang pengeboman itu jihad. Padahal pengeboman merugikan korban serta keluarganya. Kehilangan keluarga, anggota tubuhnya bahkan menderita seumur hidup. Kita harus selektif memilih teman, guru dan berhati-hati dengan paham-paham yang membahayakan,” pungkasnya. [AH]

Baca juga Ikhtiar Tokoh Agama Wujudkan Perdamaian Indonesia

Most Popular

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...