HomePilihan RedaksiKeikhlasan yang Berbuah Kedamaian

Keikhlasan yang Berbuah Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai – ”Saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Itu kehendak Tuhan. Saya ikhlas dengan semua kejadian ini,” tutur Ni Made Kembang Arsini, salah seorang korban Bom Bali 2, dalam sesi tanya jawab Pelatihan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Surakarta beberapa waktu lalu.

Ni Made Kembang Arsini atau sering disapa Kembang memulai cerita sebelum ledakan terjadi. Ia merupakan ibu rumah tangga sekaligus penyaji makanan di sebuah restoran di Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali. Semuanya berubah kala serangan bom itu terjadi. Dilansir dari Global Terrorism Database, Bom Bali 2 yang terjadi pada tahun 2005 itu mengakibatkan 23 orang tewas dan 196 orang luka-luka.

Baca juga ”Saya Bersyukur Merasa Hidup Kembali”

Kejadian tersebut membuat Kembang mengalami luka fisik maupun mental.  Ia mengisahkan, saat mengantarkan makanan ke tamu restoran, ledakan tiba-tiba terjadi. Tak lama kemudian ia merasakan sakit di tangan bagian kanan, seperti tertembak peluru. Saat itu Kembang tidak sadarkan diri. Beberapa saat kemudian setelah ia sadar, pendengarannya terganggu dan telinganya merasakan bising serta tangannya mulai membengkak.

”Tolong…tolong…tolong,” teriak Kembang. Ia pun mendapatkan pertolongan dan dilarikan ke klinik Jimbaran, tapi ternyata ditolak. Setelah itu dibawa ke Rumah Sakit Graha Asih, Bali. Kembang dirawat di rumah sakit tersebut dan menjalani operasi untuk mengangkat gotri yang bersarang di lengan kanannya.

Baca juga Supriyo Laksono, Bangkit Berkat Kehadiran Keluarga

Setelah dilakukan menjalani intensif selama lima hari, Kembang diperbolehkan pulang dan untuk menjalani rawat jalan. Banyak dukungan dari lingkungan sekitar agar ia segera pulih dan tidak trauma atas bayang-bayang serangan keji tersebut. Terutama Yayasan Penyintas Indonesia (YPI) telah mendukung kemajuan psikologisnya sampai saat ini.

”Walaupun tangan terasa sakit, kesemutan, tidak bisa mengangkat barang yang berat, saya bersyukur bisa diberikan kesempatan untuk menikmati hidup sekali lagi,” ujar Kembang seraya membangkitkan keikhlasannya menerima semua luka yang diderita.

Trauma luar biasa akibat serangan teror itu memang dialami Kembang. Akan tetapi, ketika mengikhlaskan semua peristiwa yang menimpanya, trauma tersebut lambat laun makin pulih. Ia pun telah mengikhlaskan segala yang terjadi dan tidak menyalahkan siapapun karena ingin perdamaian tetap lestari di Indonesia. [NOV]

Baca juga Eka Laksmi, Ketangguhan Istri Korban Terorisme

Most Popular

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....