HomePilihan RedaksiJalan Panjang Kebangkitan Korban...

Jalan Panjang Kebangkitan Korban Bom Bali 2002: Penyembuhan Luka (Bagian I)

Aliansi Indonesia Damai- Oktober 19 tahun silam, Pulau Dewata diguncang oleh bom berkekuatan dahsyat. Tercatat setidaknya 202 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami cedera fisik. Di antara korban luka adalah I Gede Budiarta, pelayan di Sari Club Kuta Bali, kala itu. Akibat peristiwa tersebut, ia mengalami luka bakar hampir di sekujur tubuhnya.

Malam itu, seperti biasa Gede bertugas menyiapkan minuman untuk tamu-tamu yang berdatangan di Sari Club. Malam semakin larut, pengunjung justru kian banyak. Sekitar jam 11 malam, ia mendengar suara ledakan yang sangat kencang dari arah selatan tempat ia bekerja. Gede berpikir itu adalah Gardu Listrik yang meledak. Belakangan ia mengetahui bahwa sumber suara adalah bom yang meledak di Paddy’s Club.

Baca juga Kekerasan Tidak Menyelesaikan Masalah

Para tamu dan karyawan Sari Club berhamburan keluar untuk melihat situasi. Namun sesaat berikutnya, bom kedua meledak. Gede tak lagi bisa mengingat apa yang terjadi. Ia baru menyadari telah menjadi korban bom 10 hari setelah peristiwa. Ia siuman di ranjang Rumah Sakit Sanglah Denpasar dan mendapati tubuhnya penuh perban. Dari informasi dokter, kedua tangan dan kakinya mengalami luka bakar, besi pagar tanaman sempat menancap di paha kirinya sedalam 5 sentimeter.

Ia bersyukur masih selamat. Padahal posisinya hanya sekira 3 meter dari titik ledakan. Dari keluarganya, Gede mengetahui bahwa dirinya sempat diletakkan bersama puluhan jenazah korban lantaran diperkirakan sudah meninggal dunia. Beruntung, ayahnya yang datang dari kampung asalnya di Singaraja mencari keberadaannya di RS Sanglah setelah mendengar kabar ledakan.

Baca juga Karena Dendam Tak Boleh Diwariskan

Gede menjalani perawatan selama 2 bulan di RS. Ia harus menjalani operasi kulit sebanyak 6 kali untuk menyembuhkan luka bakarnya dan satu kali operasi telinga untuk mengembalikan pendengarannya. Meski demikian operasi yang ia jalani ternyata belum bisa membuat kondisinya pulih. Gede terpaksa harus dirujuk ke salah satu rumah sakit di Australia, untuk menjalani operasi pada telinganya.

“Setelah operasi, telinganya sampai borok, nggak sembuh-sembuh, lalu dikirim ke Australia. Di sana, (dokter: red) kaget, karena ternyata di sini penanganannya kurang bagus. Di sana dipermak lagi telinganya, tapi ga bisa lagi diselamatkan karena (gendang: red) telinga sudah pecah,” ujar Gede.

Baca juga Menyembuhkan Luka Batin Anak Korban Bom

Kini, Gede hanya bisa mendengar dengan telinga kanannya. Ia masih sering merasakan sakit di telinganya ketika harus bepergian ke dataran tinggi. Telinganya kerap berdengung dan mengeluarkan cairan. Meski telinga kirinya gagal diselamatkan, Gede tetap bersyukur operasi kulit yang ia jalani cukup berhasil.

Alhamdulillah, atas saran dokter untuk tidak makan yang berlemak dan makan sesuai anjuran dokter, operasi (kulit: red) saya hasilnya lebih bagus dari yang lainnya,” kata Gede sembari tersenyum dalam salah satu kegiatan virtual AIDA belum lama ini. (Bersambung)

Baca juga Penyintas Bom Bali Menjadi Ibu Sekaligus Bapak

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Enam tahun telah berlalu. Awal tahun 2016 menjadi kenangan suram bagi...

Refleksi Hari Ibu: Perempuan, Kasih Sayang dan Perdamaian

Oleh Linda Astri Dwi WulandariAsisten Program Manager Rehabilitasi AIDA Momentum Hari Ibu,...

Kisah Inspiratif Korban Bom Bali 2002 I Gede Budiarta: Bangkit Melawan Trauma untuk Menggapai Kepercayaan Diri

Aliansi Indonesia Damai - Terorisme selalu lekat dengan kehilangan, kehancuran, dan...

16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Hari ini, tepat 16 tahun yang lalu, Indonesia berduka. Tiga serangan...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...