HomePilihan RedaksiKekerasan Tidak Menyelesaikan Masalah

Kekerasan Tidak Menyelesaikan Masalah

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Oktober tahun 2002 menjadi bulan kelam yang sulit untuk dilupakan masyarakat Pulau Dewata. Pada bulan itu, bom mahadahsyat meledak di kawasan Legian, Kuta Bali. Tercatat 200 lebih korban meninggal dunia, sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa itu menjadi peristiwa teror paling besar sekaligus paling mematikan dalam sejarah terorisme di Indonesia.

Salah seorang korban tidak langsung dari ledakan itu adalah I Wayan Sudiana. Ia mengalami trauma karena harus kehilangan seorang istri. Semenjak peristiwa itu,  Wayan, sapaan akrabnya harus menjadi bapak sekaligus “ibu” bagi anak-anaknya yang masih kecil. Meski demikian, Wayan tetap bersabar hingga mampu menerima kenyataan yang telah terjadi.

Baca juga Karena Dendam Tak Boleh Diwariskan

Dia bergabung bersama tim perdamaian AIDA dengan harapan kisah hidupnya dapat memberikan inspirasi perdamaian bagi khalayak luas. Dalam salah satu acara virtual AIDA di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, 21 September 2020 lalu, Wayan turut menjadi narasumber untuk berbagi kisahnya kepada mahasiswa.

Kepada seratusan mahasiswa yang hadir secara daring, Wayan mengisahkan bahwa pada malam itu ia sedang akan bekerja. Meski tidak menduga bahwa ledakan keras yang menggetarkan tanah adalah peristiwa pengeboman, namun ia khawatir bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.

Baca juga Menyembuhkan Luka Batin Anak Korban Bom

Ia lantas mengecek sumber ledakan. Wayan begitu shock karena bumbungan asap tebal dan api yang berkobar itu berasal dari tempat istrinya bekerja. Dengan tubuh bergetar ia mencari keberadaan sang istri. “Saya merasa kaget. Hati saya teriris. Saya melihat serpihan bangunan dan beberapa potongan tubuh manusia,” tutur Wayan mencoba mengingat peristiwa itu.

Setelah hampir satu jam tak kunjung menemukan sang istri, ia pun diminta oleh keluarga untuk mencarinya di RS Sanglah Denpasar. “Saya sempat marah kepada keluarga, kenapa cari di RS ini. Ternyata semua orang yang terkena ledakan, harus dibawa ke RS tersebut,” cerita Wayan.

Saat itulah Wayan menyaksikan banyak hal mengerikan. ”Saya melihat ada beberapa korban meninggal dunia dengan kondisi yang sangat mengerikan. Badannya terbakar,” tuturnya.

Pada akhirnya, Wayan menemukan potongan tubuh istrinya. Dilakukanlah upacara pemakaman Ngaben.

Baca juga Kisah Perempuan Korban Bom Bali 1: Mengganti Peran Sosok Ayah

Kehilangan seorang istri bukanlah perkara mudah bagi Wayan. Pasalnya, selama ini sang istri yang selalu mendidik anak-anaknya. Meski begitu, Wayan tetap mencoba membahagiakan anak-anaknya. ”Karena dorongan untuk membahagiakan anak-anak, saya memberanikan diri untuk mengajak anak-anak jalan-jalan,” ungkapnya.

Beberapa tahun setelahnya, Wayan bergabung bersama Isana Dewata, komunitas yang menghimpun para korban bom Bali. Ia juga mendapatkan amanah untuk menjadi ketua dalam komunitas itu. Pada akhir kisahnya, Wayan mengajak mahasiswa sebagai agen perubahan untuk selalu menjaga perdamaian di Indonesia. Ia juga berharap tidak ada lagi kekerasan, apalagi kekerasan mengatasnamakan agama.

“Generasi muda adalah generasi penerus bangsa. Marilah terus menebarkan perdamaian, menjaga rasa guyub, dan jangan membalas kekerasan dengan kekerasan karena kekerasan tak mungkin bisa menyelesaikan masalah,” ucap Wayan memungkasi kisahnya.

Baca juga Penyintas Bom Bali Menjadi Bapak Sekaligus Ibu

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mengelola Amarah

Setiap orang tentu pernah mengalami hal yang tidak disukai dalam kehidupannya,...

Dakwah Islamiyah untuk Perdamaian

Oleh Fahmi SuhudiAlumni PP Darussunnah Ciputat Dakwah merupakan salah satu fondasi dalam...

Beragama dengan Aman

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak suku dan budaya yang berbeda...

Mengarifi Konflik

Agama bisa menjadi sumber inspirasi membangun perdamaian. Ia mengajarkan banyak nilai...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...