HomeBeritaMenjauhi Ajaran Kekerasan

Menjauhi Ajaran Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Sadisme kelompok teroris dalam melakukan aksi-aksinya tak bisa diterima secara logis oleh masyarakat kebanyakan. Bagaimana tidak, perbedaan ideologi bisa menjadi alasan menghalalkan seseorang untuk dibunuh. Bahkan lebih dari itu, mereka juga berambisi melakukan serangan-serangan yang tidak hanya mencelakai orang lain, namun juga merenggut nyawanya sendiri.

Pemikiran itu menyulut pertanyaan, “Kenapa seseorang bisa sangat percaya dan tega melakukan semua aksi kekerasan itu?” ujar seorang siswa SMAN 8 Bandar Lampung dalam Dialog Interaktif “Belajar bersama menjadi Generasi Tangguh” yang selenggarakan AIDA secara daring, Selasa (10/11/ 2020). Ia menanyakannya kepada Kurnia Widodo, mantan narapidana terorisme.

Baca juga Dialog Pelajar Lampung dengan Mantan Ekstremis

Kurnia menjelaskan, Islam sama sekali tidak mengajarkan kekerasan atau anarkisme. Setiap peperangan yang dilakukan oleh umat Islam adalah bentuk pembelaan diri. Dalam Islam dilarang keras untuk melakukan perbuatan zalim. “Apabila seseorang melakukan anarkisme sehingga menzalimi orang lain, maka itu bukan membela Islam namun justru akan menjadi citra buruk bagi Islam,” katanya.

Menurut dia, salah satu narasi yang kerap dipakai oleh kelompok ekstremis adalah tentang akhir zaman. Dunia dianggap sudah dikuasai oleh kejahatan, kesesatan, dan fitnah terhadap umat Islam. Kelompok tersebut meyakini bahwa hanya kelompoknya yang benar dan selamat. Sedangkan mayoritas umat tersesat dan tidak akan selamat. Karena itulah mereka melakukan aksi-aksi kekerasan untuk memerangi kelompok yang dianggap sesat.

Baca juga Semangat Siswa Lampung Menebar Damai

“Kita seharusnya bersyukur negara kita damai, tidak terfitnah. Kita sebagai umat Islam dapat beribadah bebas tanpa merasa tertekan. Apalagi kalau pengakuan mereka melakukan serangan di Indonesia untuk membela umat Islam seperti di Palestina, mereka sangat salah,” katanya.

Senada dengan Kurnia, Ketua Pengurus AIDA, Hasibullah Satrawi mengatakan, kelompok teroris pandai memilih keadaan untuk meyakinkan kepada calon anggota jaringan bahwa apa yang mereka katakan adalah kebenaran mutlak. Sebagai contoh mereka mengatakan bahwa beragama Islam harus total, sehingga harus memerjuangkan terbentuknya Negara Islam.

Baca juga Generasi Tangguh Belajar dari Pengalaman

“Banyak cara yang mereka lakukan, bahkan logikanya seperti orang jual jamu. Dibikin simpel tapi bisa diterima seakan-akan benar. Itu sangat berbahaya sekali,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut Hasibullah berpesan kepada para siswa untuk menghindari kelompok yang menyampaikan pemahaman yang berbeda dengan apa yang diajarkan oleh kebanyakan guru dan orang tua.

Di akhir acara, seorang siswa menyampaikan pembelajaran yang ia dapatkan dari kegiatan itu. Ia mengatakan bahwa sebagai generasi muda harus berhati-hati dalam bergaul dan menerima informasi. Hal itu tak lain sebagai upaya untuk menjauhi ajaran-ajaran sesat. [FL]

Baca juga Menumbuhkan Jihad Belajar

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...