HomeBeritaDialog Pelajar Lampung dengan...

Dialog Pelajar Lampung dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai-Beberapa waktu lalu, AIDA menggelar kampanye perdamaian secara virtual kepada pelajar SMA di Bandar Lampung. Secara berurutan, kegiatan ini diadakan di SMAN 5, SMAN 7, dan SMAN 9. Tim perdamaian yang terdiri dari unsur mantan pelaku ekstremisme kekerasan dan korban terorisme berbagi kisah ketangguhan.

Mantan pelaku yang dihadirkan adalah Kurnia Widodo. Ia berbagi pengalaman hidup kepada 55 siswa peserta kegiatan di setiap sekolah. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada para peserta untuk berdialog langsung dengan Kurnia.

Baca juga Semangat Siswa Lampung Menebar Damai

Salah seorang siswi SMAN 7 meminta pendapat Kurnia mengenai dugaan keterlibatan pemerintah maupun tokoh-tokoh politik yang menunggangi aksi terorisme untuk menjatuhkan umat Islam.

Kurnia menampik hal tersebut. Ia berkaca pada dirinya sendiri yang murni terlibat dalam kelompok terorisme karena pemahaman. Menurut dia, ekstremisme bukan hanya terjadi di satu agama saja (Islam), melainkan di agama lain juga. Misalnya aksi serangan terhadap jamaah shalat Jumat oleh Brenton Tarrant di Selandia Baru.

Baca juga Generasi Tangguh Belajar dari Pengalaman

Sementara siswa SMAN 9 Bandar Lampung menanyakan mengenai kasus kekerasan/perkelahian, terutama perundungan, yang dapat membuat korbannya stress dan depresi. “Jika dalam posisi korban, apa yang harus dilakukan untuk menghindari kekerasan?” ucapnya.

Menurut Kurnia, membela diri memang diperbolehkan. Namun hal itu tidak boleh berlebihan. Upaya pembelaan jangan sampai menciptakan ketidakadilan yang baru. Karenanya dia berpesan agar para pelajar mengutamakan pendekatan selain kekerasan. Bagi Kurnia, pelaku perundungan saat itu sedang sakit dan tidak sadar. Maka perlu mendoakan agar pelaku bisa sadar. “Penting memberi kesempatan pada orang lain berubah,” katanya menasihati.

Baca juga Menumbuhkan Jihad Belajar

Peserta lainnya dari SMAN 9 menanyakan respons Kurnia dalam menghadapi stigma negatif dari orang lain terkait masa lalunya. Kurnia membenarkan bahwa hal tersebut beberapa kali menimpanya. Stigma tersebut justru banyak datang dari teman-teman di kelompoknya dulu. Selain mendapatkan ancaman kekerasan, ia juga dikafirkan.

Kurnia memilih tidak membalas dengan hal serupa, sebaliknya berupaya mengajak berdiskusi, baik secara langsung maupun lewat media sosial. Hasilnya, sebagian temannya ada yang berubah dan meminta maaf karena perbuatannya. [MSH]

Baca juga Bangkit Berkat Dukungan Orang Terdekat

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di ...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI),...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...