HomeInspirasiAspirasi DamaiMenaklukkan Hati dengan Hati

Menaklukkan Hati dengan Hati

Aliansi Indonesia Damai- “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (qalbu)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sabda Nabi Muhammad SAW tersebut menunjukan bahwa hati tidak selalu benar dan baik. Ada kalanya hati dapat mengarahkan pemiliknya pada tujuan salah. Contoh jika hati memiliki sifat dendam, maka kemampuan akalnya akan mendorong untuk melakukan kejahatan. Hati dan akal adalah ada dua entitas tak terpisahkan pada diri manusia.

Baca juga Generasi Z Menghadapi Ekstremisme

Fenomena kekerasan yang melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia, seperti aksi-aksi perampasan harta yang disertai tindak kekerasan, pembunuhan, teror pengeboman, dan semacamnya berawal dari hati yang rusak. Korban yang berjatuhan akibat peristiwa tersebut harus menanggung dampak besar sepanjang kehidupan mereka. Sedangkan para pelaku kerapkali tidak menyesali perbuatannya. Sejumlah teroris bahkan meyakini perbuatannya sebagai kebenaran.

Penulis pernah mendapatkan cerita dari teman, petugas lembaga pemasyarakatan yang membina narapidana terorisme (napiter). Salah seorang napiter binaannya memiliki watak yang keras walaupun masih berusia remaja. Ia enggan mengakui perbuatannya meracik bom secara ilegal adalah kesalahan, menolak program-program pembinaan di Lapas, dan bersikap tak ramah terhadap para petugas. Sebagian petugas Lapas sempat menginginkan napiter tersebut segera dipindahkan ke Lapas lain.

Baca juga Dari Penyintas Muda untuk Perdamaian Indonesia

Namun teman penulis memiliki pemikiran lain. Dalam hati kecilnya tersembul optimisme bahwa remaja binaannya ini bisa berubah. Teman penulis lantas menggali informasi tentang keluarganya. Diketahui bahwa keluarga napiter tidak mendukungnya terlibat dalam kelompok-kelompok kekerasan. Ia merasa ada peluang untuk mengubahnya menjadi pribadi yang baik dengan dukungan dari keluarganya.

Ia juga rajin mengajaknya berdiskusi dan berbincang tentang pelbagai hal, terutama mengenai pendidikan formalnya yang berantakan dan masa depannya setelah lepas dari masa hukuman. Tentu saja pendekatan ini tak dalam hitungan hari. Butuh kesabaran dan keluasan hati.

Topik perbincangan lain adalah tentang kehidupan korban terorisme. Ia berbagi cerita penderitaan korban terorisme yang tak lain adalah saudara-saudara sebangsa, bahkan seagama. Korban adalah orang-orang tak bersalah yang harus menanggung derita berkepanjangan akibat aksi-aksi terorisme yang diklaim sebagai jihad. Namun demikian para korban terus berupaya bangkit dari keterpurukannya, bahkan kemudian memilih memaafkan para pelaku serangan yang membuat mereka menderita. Si napiter sama sekali tidak membantah narasi tentang korban terorisme.

Baca juga Teladan Pemaafan dari Nabi

Secara perlahan sikap dan perilaku napiter berubah; mau mengikuti program pembinaan di Lapas, ramah terhadap para petugas, dan melanjutkan pendidikan formal yang diselenggarakan pihak Lapas bekerja sama dengan salah satu sekolah tingkat atas. Kebenciannya terhadap negara terus memudar.

Dari kisah teman penulis, kita bisa belajar bahwa hati manusia memiliki kecenderungan menerima “pendekatan hati”. Hati adalah raja dalam jiwa; berkedudukan seperti penguasa yang mengatur pasukan dengan kewenangan mutlak; mengeluarkan instruksi kepada anggota badan lain untuk mencapai keinginannya. Hati akan menentukan seluruh anggota badan ke jalan yang benar atau salah. Karena itu untuk menaklukkan hati memang harus dengan “hati” karena memiliki derajat setara.

Baca juga Mantan Ekstremis Bicara Jihad

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....