4 weeks ago

Menumbuhkan Jihad Belajar

Aliansi Indonesia Damai- Jihad bukan hanya bermakna perang, namun sangat luas. Jihad adalah segala upaya yang diniatkan untuk mencari ridha Allah, seperti menuntut ilmu dan berdakwah menyampaikan ajaran Islam secara damai.

Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Mukhtar Khairi, kepada puluhan siswa-siswi SMAN 1 Kendal, Jawa Tengah, Senin (31/8/2020). Ia berbagi kisah hidupnya terlibat dalam kelompok ekstremis hingga akhirnya bergabung dalam Tim Perdamaian AIDA untuk mengampanyekan perdamaian bagi masyarakat luas.

Baca juga Bangkit Berkat Dukungan Orang Terdekat

“Di masa lalu, saya pernah menempuh jalan yang bukan jalan perdamaian, dengan kata lain jalan kekerasan. Alhamdulillah Allah kasih hidayah mulai berubah,” ujar Mukhtar saat menjadi narasumber dialog interaktif virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang digelar AIDA.

Salah satu faktor yang mendorongnya bergabung dalam kelompok ekstrem adalah pengaruh pertemanan. Ia diajak mengikuti pengajian-pengajian eksklusif yang mengembangkan narasi kezaliman terhadap umat Islam. Hal itu menumbuhkan kebencian dalam diri Mukhtar hingga ingin membalaskan dendam dengan cara kekerasan.

Baca juga Inspirasi Pemaafan Pelajar Bandung

Mukhtar juga sempat mengikuti pelatihan militer di Aceh hingga belajar cara membuat bom dan merakit senjata. Ia terlibat baku tembak dengan aparat sampai menimbulkan korban jiwa dan akhirnya dipenjara. Saat di balik jeruji besi, Mukhtar justru semakin ekstrem karena bergaul dengan orang yang lebih ekstrem. Mukhtar bahkan pernah mengkafirkan orang tuanya sendiri.

Empat bulan sebelum keluar dari penjara, Mukhtar mulai membuka diri karena merasakan kejanggalan-kejanggalan dalam kelompok ekstrem. “Mereka selalu mendukung aksi-aksi pembunuhan. Membunuh orang yang tidak sepaham. Saya rasa Islam tidak mungkin mengajarkan pertumpahan darah,” ucapnya.

Baca juga Penyintas Bom: Jangan Berhenti Bercita-cita

Perlahan ia berubah dan mau mengikuti kajian-kajian di luar kelompoknya. Ia berusaha keluar dari komunitas, meskipun awalnya sangat berat karena sempat dibenci. Puncaknya, pertemuan dengan korban terorisme membuatnya semakin menumbuhkan rasa empati dan kesadaran akan pentingnya perdamaian. “Ketika mendengar kisah-kisah korban, saya berpikir betapa gegabahnya apa yang dilakukan kelompok saya,” ucapnya.

Kini Mukhtar telah bertobat dan menempuh jalan-jalan kebaikan melalui jihad lain seperti mengajar, menumbuhkan semangat cinta literasi di lingkungannya, dan bergabung bersama AIDA untuk menyebarluaskan perdamaian.

Usai mendengar kisah Mukhtar, salah satu siswa menyampaikan kesannya. “Setiap manusia tak luput dari kesalahan, namun setiap manusia juga punya kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan itu,” ujar siswa tersebut. [LDAW]

Baca juga Pelajar Lampung: Terima Kasih, Penyintas Terorisme

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *