HomeBeritaMenumbuhkan Jihad Belajar

Menumbuhkan Jihad Belajar

Aliansi Indonesia Damai- Jihad bukan hanya bermakna perang, namun sangat luas. Jihad adalah segala upaya yang diniatkan untuk mencari ridha Allah, seperti menuntut ilmu dan berdakwah menyampaikan ajaran Islam secara damai.

Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Mukhtar Khairi, kepada puluhan siswa-siswi SMAN 1 Kendal, Jawa Tengah, Senin (31/8/2020). Ia berbagi kisah hidupnya terlibat dalam kelompok ekstremis hingga akhirnya bergabung dalam Tim Perdamaian AIDA untuk mengampanyekan perdamaian bagi masyarakat luas.

Baca juga Bangkit Berkat Dukungan Orang Terdekat

“Di masa lalu, saya pernah menempuh jalan yang bukan jalan perdamaian, dengan kata lain jalan kekerasan. Alhamdulillah Allah kasih hidayah mulai berubah,” ujar Mukhtar saat menjadi narasumber dialog interaktif virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang digelar AIDA.

Salah satu faktor yang mendorongnya bergabung dalam kelompok ekstrem adalah pengaruh pertemanan. Ia diajak mengikuti pengajian-pengajian eksklusif yang mengembangkan narasi kezaliman terhadap umat Islam. Hal itu menumbuhkan kebencian dalam diri Mukhtar hingga ingin membalaskan dendam dengan cara kekerasan.

Baca juga Inspirasi Pemaafan Pelajar Bandung

Mukhtar juga sempat mengikuti pelatihan militer di Aceh hingga belajar cara membuat bom dan merakit senjata. Ia terlibat baku tembak dengan aparat sampai menimbulkan korban jiwa dan akhirnya dipenjara. Saat di balik jeruji besi, Mukhtar justru semakin ekstrem karena bergaul dengan orang yang lebih ekstrem. Mukhtar bahkan pernah mengkafirkan orang tuanya sendiri.

Empat bulan sebelum keluar dari penjara, Mukhtar mulai membuka diri karena merasakan kejanggalan-kejanggalan dalam kelompok ekstrem. “Mereka selalu mendukung aksi-aksi pembunuhan. Membunuh orang yang tidak sepaham. Saya rasa Islam tidak mungkin mengajarkan pertumpahan darah,” ucapnya.

Baca juga Penyintas Bom: Jangan Berhenti Bercita-cita

Perlahan ia berubah dan mau mengikuti kajian-kajian di luar kelompoknya. Ia berusaha keluar dari komunitas, meskipun awalnya sangat berat karena sempat dibenci. Puncaknya, pertemuan dengan korban terorisme membuatnya semakin menumbuhkan rasa empati dan kesadaran akan pentingnya perdamaian. “Ketika mendengar kisah-kisah korban, saya berpikir betapa gegabahnya apa yang dilakukan kelompok saya,” ucapnya.

Kini Mukhtar telah bertobat dan menempuh jalan-jalan kebaikan melalui jihad lain seperti mengajar, menumbuhkan semangat cinta literasi di lingkungannya, dan bergabung bersama AIDA untuk menyebarluaskan perdamaian.

Usai mendengar kisah Mukhtar, salah satu siswa menyampaikan kesannya. “Setiap manusia tak luput dari kesalahan, namun setiap manusia juga punya kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan itu,” ujar siswa tersebut. [LDAW]

Baca juga Pelajar Lampung: Terima Kasih, Penyintas Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id...

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...