HomePilihan RedaksiMakna Nikmat dalam Musibah

Makna Nikmat dalam Musibah

Aliansi Indonesia Damai – “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar.” Tak ada kalimat lain yang sanggup keluar dari bibir Sudirman Talib ketika mendapati dirinya bersimbah darah dan terkapar usai ledakan dahsyat yang terjadi di dekat posisinya berada. Ia belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Saat itu ia melihat banyak orang bergelimpangan. Kepulan asap hitam membumbung tinggi. Pagi menjelang siang yang awalnya cerah seketika gelap. Daun-daun berguguran. Serpihan gedung berserakan.

Peristiwa itu terjadi 17 tahun silam, tepatnya 9 September 2004. Sudirman kala itu adalah petugas keamanan di pintu selatan kantor Kedubes Australia kawasan Kuningan Jakarta Selatan. Ia hanya berjarak sekira 10 meter dari titik ledakan. “Saya tidak menyadari bahwa itu adalah ledakan bom. Saya merasa tiba-tiba ada yang menghantam dada saya. Saya merasa badan saya terbang dan terjatuh,” ujarnya dalam salah satu kegiatan AIDA.

Akibat rasa sakit yang tak terperi, Sudirman merasa ajalnya telah dekat. Ia lantas berserah diri sepenuhnya kepada Allah Swt. “Saat itu, Allah berikan ketenangan hati yang luar biasa. Saya merasa begitu ikhlas menjalani ujian hari itu. Saya berpikir mungkin hari itu hari terakhir saya. Saya ingat bahwa (manusia: red) pasti akan kembali pada Allah,” ujar Sudirman. 

Takdir berkata lain. Allah masih mengizinkannya hidup. Ia menjalani serangkaian perawatan intensif di rumah sakit selama 5 bulan. Beberapa kali operasi harus dijalani. Tak sedikit pun terlintas rasa putus asa dalam diri Sudirman. Ia merasa bahwa hanya karena kehendak Allah ia bisa merasakan kesakitan itu. “Allah memberikan kenikmatan batin yang luar biasa yang belum pernah saya rasakan sebelumnya selama saya hidup. Kepasrahan yang luar biasa yang saya alami,” ungkapnya

Bahkan, ketika mata kirinya harus diangkat karena infeksi akibat serpihan bom di dalamnya, pria kelahiran Bima ini tetap menganggap itu sebagai nikmat Allah yang harus dihadapinya. “Saya harus tetap optimis. Hidup harus berlanjut. Ini adalah bagian dari kehendak Allah,” katanya.

Trauma memang tak pernah betul-betul hilang, namun ia berkomitmen tak menyimpan dendam terhadap pelaku. Ia ingin melawan trauma yang ia rasakan dengan perasaan damai. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya ia coba untuk syukuri. Bahkan kini Sudirman turut serta menyuarakan perdamaian bersama mantan pelaku terorisme yang sudah bertobat. 

Ia juga tak pernah ingin keterbatasannya menjadi penghalang bagi dirinya untuk terus menggapai mimpi. Tekadnya untuk bisa membahagiakan orang tuanya di kampung halaman terus berkobar. Setelah segala sesuatu yang ia alami, ia masih bisa meraih gelar Sarjana Pendidikan pada tahun 2016. “Jangan sampai penderitaan, kemiskinan, kecacatan membuat kita terpuruk. Segera bangkit dan lakukan yang terbaik. Insya Allah akan sukses,” ujar Sudirman dengan mantap. (LADW)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Enam tahun telah berlalu. Awal tahun 2016 menjadi kenangan suram bagi...

Refleksi Hari Ibu: Perempuan, Kasih Sayang dan Perdamaian

Oleh Linda Astri Dwi WulandariAsisten Program Manager Rehabilitasi AIDA Momentum Hari Ibu,...

Kisah Inspiratif Korban Bom Bali 2002 I Gede Budiarta: Bangkit Melawan Trauma untuk Menggapai Kepercayaan Diri

Aliansi Indonesia Damai - Terorisme selalu lekat dengan kehilangan, kehancuran, dan...

16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Hari ini, tepat 16 tahun yang lalu, Indonesia berduka. Tiga serangan...

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...