HomePilihan RedaksiSepenggal Kisah Penyintas Bom...

Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu:
Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Enam tahun telah berlalu. Awal tahun 2016 menjadi kenangan suram bagi bangsa Indonesia. 14 Januari 2016, ledakan bom dan aksi baku tembak terjadi di kawasan Jalan Thamrin, Jakarta. Aksi teror ini diawali aksi bom bunuh diri di kedai kopi Starbucks, Theater Djakarta. Kejadian itu terjadi sekitar pukul 10.39 WIB. Kedai kopi itu hancur.

Selang beberapa detik kemudian, ledakan kedua terjadi di pos polisi di dekat Gedung Sarinah. Ledakan ini lebih besar dari ledakan sebelumnya. Tak lama kemudian terjadi aksi penembakan yang diarahkan pada polisi. Baku tembak antara polisi dan pelaku tak terelakkan, bahkan pelaku sempat melempar beberapa granat rakitan. Suasana tegang dan mencekam. Korban berjatuhan. Ada duka, darah, dan air mata. Aksi melawan kemanusiaan tersebut menyebabkan sedikitnya 4 orang meninggal dan melukai 24 orang lainnya. Salah satu korban luka saat itu adalah Aiptu Deni Mahieu.

Kejadian Memilukan

Pagi itu Deni menghadiri agenda gabungan personil di kawasan Bundaran Patung Kuda. Setelah selesai, sekitar pukul 10.30 WIB, Deni langsung bergegas ke arah kawasan Bundaran HI menggunakan sepeda motor dinasnya. Kebetulan, Deni memang rutin ditugaskan untuk melakukan patroli dari kawasan Harmoni sampai ke Bundaran Hotel Indonesia (HI). “Sebagai polisi lalu lintas, saya tidak hanya mengawasi kendaraan bermotor saja. Saya juga mengamati pejalan kaki, pos polisi, dan traffic light,” katanya.

Deni sempat merasa ada yang janggal ketika berhenti di traffic light simpang Plaza Sarinah. Ia melihat pintu pos polisi di lokasi itu terbuka. Padahal selama bertugas di kawasan tersebut, sangat jarang pintu tersebut terbuka. Deni mencoba menghalau perasaannya namun, setibanya di kawasan Bundaran HI, Deni memutuskan untuk putar balik dan mengecek pos polisi yang ada di Sarinah itu.

Baca juga Afirmasi Diri: Kisah yang Menjelma Makna dan Kata-kata

Sesampainya di sana, Deni segera masuk ke dalam pos tersebut. Ia mengecek sekeliling dan menemukan sejumlah barang yang mencurigakan, salah satunya ransel yang berada di sudut ruangan. Tak lama berselang bom meledak di kedai kopi Starbucks yang lokasinya tak jauh dari pos polisi. Deni terkejut. Ia kemudian berlari ke arah lokasi ledakan. Ia melihat korban berjatuhan dan terpental dari kedai kopi itu.

Deni memutuskan kembali dan bertahan di pos untuk memantau yang sebenarnya terjadi. Ketika Deni sedang berusaha mengontak rekannya, bom kedua meledak tepat di tempat Deni berpijak. “Jadi mungkin di pos itu sudah disetel (bom) sama teroris ini. Saya kontak pesawat radio. Pencet pertama saya lapor ke rekan, pencet kedua saya kesetrum. Begitu setrumnya hilang, terdengar bunyi tuuut… tak… tak.. duuuuuarrr. Meledak. Posisi saya membelakangi ransel tadi,” tutur Deni menceritakan kisah itu.

Baca juga Berdakwah di Era Digital

Deni mengalami luka disekujur tubuhnya. Darah bercucuran keluar dari telinganya. Kaki dan paha nya sobek. “Di kepala kayak ada bintang-bintang semua, suara yang masuk ke telinga kayak langsung di otak muter seperti di-blender, di pikiran saya, duh ancur deh otak saya,” katanya. Meski terluka parah, Deni bersyukur ia tak kehilangan kesadaran. Deni sama sekali tak berteriak minta tolong. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan. Bahkan ia masih sempat mengambil beberapa paku yang menancap di tubuhnya. 10 menit kemudian ia baru mendapatkan pertolongan dan dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Ia menjalani perawatan intensif selama 1 bulan.

Kesempatan Hidup Kedua

Tak banyak orang yang bisa selamat dari ledakan bom. Apalagi, posisi Deni saat itu sangat dekat dengan sumber ledakan. Untuk itulah, Deni merasa ia harus banyak bersyukur. Ia merasa telah  berikhtiar agar selamat dari bahaya. Bahkan sebagai polisi ia saat itu sedang berupaya untuk waspada dan menjamin keamanan masyarakat di sekitar situ. “Ya, ini namanya takdir Tuhan, saya sudah berdoa dan berusaha untuk selamat. Alhamdulillah, saya dikasih bom dan saya hidup,” ujarnya penuh rasa syukur.

Deni menganggap peristiwa nahas yang menimpanya adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa sebab ia diberi kesempatan yang kedua untuk hidup. Ia mengaku telah ikhlas dan ridho atas segala ketetapan Allah. Ia ingin menghabiskan sisa hidupnya saat ini dengan banyak beribadah. “Apapun yang terjadi di kehidupan ini harus sabar dan ikhlas. Insya Allah kita akan lebih baik dalam kehidupan ini. Ridho sama Gusti Allah saja, kalau ada sisa kehidupan, isi yang baik-baik saja.

Tak Ada Dendam

Meski enam tahun telah berlalu, luka dalam tubuh Deni tidak pernah benar-benar hilang. Pendengarannya masih sering terganggu. Ia masih sering merasa nyeri dan kesemutan pada bagian tangan dan kakinya. Meski demikian ia tak pernah mau menyimpan dendam. “Itu urusannya sama Allah. Manusia hidup untuk beribadah, yang merusak tanggung resiko sendiri,” katanya.

Deni memilih untuk memaafkan pelaku. Bahkan di tahun 2018, saat persidangan, Deni bertemu dengan Aman Abdurrahman, otak di balik peristiwa bom yang telah membuatnya menderita. “Saya peluk dia. Saya katakan bahwa seharusnya bukan saya yang dihancurkan karena saya bukan musuhnya. Saya biarkan saja orang jahat ke saya, yang penting saya tidak jahat ke orang lain,” ucapnya. Deni juga merasa prihatin terhadap para penyintas terorisme. Ia berharap mereka bisa diberikan kesabaran, sebab kelak perbuatan yang menimpa mereka juga pasti akan mendapat balasan yang setimpal. “Saya doain semuanya diberikan kekuatan untuk kemudahan jalan yang terbaik, “ kata Deni.

Baca juga Mengenal Simbol-Simbol Perdamaian

Kini Deni masih menjalani harinya dengan bertugas di Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya. Ia ingin mengabdi dengan sebaik-baiknya sebelum pensiun di tahun 2025. Ia ingin menjalani hari-harinya dengan banyak beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Ia perlu banyak mengucap syukur atas kesempatan hidup yang dianugerahkan padanya.

Baca juga Membaca Ayat-Ayat Kauniyah Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Refleksi Hari Ibu: Perempuan, Kasih Sayang dan Perdamaian

Oleh Linda Astri Dwi WulandariAsisten Program Manager Rehabilitasi AIDA Momentum Hari Ibu,...

Kisah Inspiratif Korban Bom Bali 2002 I Gede Budiarta: Bangkit Melawan Trauma untuk Menggapai Kepercayaan Diri

Aliansi Indonesia Damai - Terorisme selalu lekat dengan kehilangan, kehancuran, dan...

16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Hari ini, tepat 16 tahun yang lalu, Indonesia berduka. Tiga serangan...

Asep Wahyudi: Potret Ketangguhan Korban Bom Kuningan 2004

Oleh Linda Astri Dwi WulandariMagister Humaniora Universitas Indonesia Pagi itu langit Jakarta...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...