HomeBeritaTerorisme Menyengsarakan Korban dan...

Terorisme Menyengsarakan Korban dan Pelakunya

Aliansi Indonesia Damai- Tindakan terorisme oleh sebagian pelakunya mungkin dipicu niat yang baik, namun dilakukan dengan cara-cara yang salah. Karena tidak mendapatkan informasi dan pengetahuan yang tepat, pelaku terorisme justru menyengsarakan kehidupan korban sekaligus pelakunya sendiri.

Demikian diungkapkan Ketua Pengurus AIDA, Hasibullah Satrawi, saat menjadi narasumber dalam seminar sehari “Halaqah Perdamaian: Belajar dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” yang digelar AIDA secara daring, akhir Februari lalu.

Baca juga Peran Perguruan Tinggi Menangkal Ekstremisme

Menurut Hasibullah, sebagian pelaku terorisme mulanya ingin membantu saudara-saudara muslim yang terzalimi di wilayah tertentu. Namun karena tak bisa berangkat ke sana, ia lantas melakukan aksi teror di wilayah lain sebagai bentuk pembalasan (kisas). Walhasil ideologi kekerasan membuat niat baik tertutupi dan justru menjerumuskannya pada aksi-aksi tak berperikemanusiaan.

“Sebagian besar para pelaku terorisme awalnya tidak semua jahat, karena mereka resah akan ketidakadilan agama, ekonomi, sosial, dan keputusan-keputusan politik. Akan tetapi mereka justru keliru atas ideologi yang mereka pahami. Ada niat baik, tapi caranya keliru,” ujar Hasibullah.

Baca juga Dekan FISIP Unsoed: Terorisme Tantangan Bersama

Ia menjelaskan, terorisme adalah tindakan kejahatan luar biasa sehingga penanganannya pun harus dilakukan secara khusus. Oleh sebab itu, Hasibullah mengajak masyarakat untuk sadar akan bahaya terorisme karena setiap orang potensial menjadi korban sekaligus pelakunya. “Kita semua mestinya punya kesadaran tentang potensial konflik kekerasan ini,” katanya.

Hasibullah menambahkan bahwa terorisme juga tidak identik dengan simbol dan pakaian. Seseorang tidak bisa ditengarai terpapar paham ekstrem lantaran baju atau tanda-tanda fisiknya. Salah satu indikator seseorang terpapar ekstremisme adalah ketika mulai mengkafirkan muslim lain, bahkan menghalalkan darahnya serta tidak mau berbaur di luar kelompoknya.

Baca juga Berjemaah Membangun Damai

“Saya anjurkan setelah kegiatan ini tidak stereotipe terhadap terorisme. Jangan mencela orang yang tidak menyembah Allah dan jangan mencela orang yang beda menyembah Allah,” ungkap alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir itu.

Ia berharap diskursus akademik di Perguruan Tinggi kembali dihidupkan dan diperkuat. Pemahaman apa pun layak didiskusikan, namun jika telah mengarahkan pada aksi-aksi kekerasan, maka harus ditinggalkan. “Nalar akademis ditingkatkan dengan batasan tidak sampai pada tahap kekerasan, agar nilai-nilai moral terus terjunjung tinggi,” tuturnya [AH]

Baca juga Menumbuhkan Semangat Persaudaraan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan...

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...