HomeBeritaPeran Perguruan Tinggi Menangkal...

Peran Perguruan Tinggi Menangkal Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai– Perguruan Tinggi diminta berperan aktif dalam menangkal ekstremisme kekerasan, terutama yang mengatasnamakan agama. Insan akademis diyakini dapat berkontribusi penting bagi terciptanya perdamaian di Indonesia.

Pengajar jurusan sosiologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Mintarti, mengatakan, mahasiswa termasuk salah satu pihak yang menjadi sasaran perekrutan oleh kelompok ekstremisme kekerasan yang mengatasnamakan agama. Karena itu, mahasiswa harus lebih kritis dalam menyikapi pandangan keagamaan yang cukup beragam di dunia kampus.

Baca juga Dekan FISIP Unsoed: Terorisme Tantangan Bersama

“Seperti kisah mereka yang hijrah ke Suriah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di bawah ‘negeri Islam’. Seperti mereka yang terjebak dengan ISIS tentang sebuah ide ‘negara Islam’. Semua dianggap mudah,” kata Mintarti saat menjadi narasumber dalam seminar sehari: Halaqah Perdamaian: Belajar dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” yang digelar AIDA secara daring pada akhir  Februari lalu.

Menurut dia, kelompok ekstrem biasanya mudah menyalahkan pandangan kelompok lain, terutama kelompok yang mengambil jalan tengah. Salah satu sebabnya adalah merasa kelompoknya yang paling benar dan paling memperjuangkan agama. “Mereka melakukan perlawanan terhadap kelompok moderat seperti NU dan Muhammadiyah,” ujarnya.

Baca juga Berjemaah Membangun Damai

Dalam kajian sosiologi, agama memiliki dua sisi wajah. Pertama sebagai inspirasi dan sumber moral. Kedua, agama sebagai aspirasi untuk melakukan konflik yang berujung kekerasan. Ekstremisme kekerasan adalah cerminan dari penyalahgunaan agama sebagai landasan untuk melakukan kekerasan.

Mintarti mengungkapkan, agama sejatinya adalah sumber perdamaian. Kesalahan dalam memahami Islam dan ajarannya juga dapat berpotensi menjerumuskan seseorang pada tindakan kekerasan. “Biasanya orang-orang yang berpikir ekstrem lemah dalam memahami sejarah dan dakwah Islam,” tutur akademisi yang pernah mengikuti beberapa kegiatan AIDA itu.

Baca juga Menumbuhkan Semangat Persaudaraan

Generasi muda, yang notabene masih dalam proses pencarian identitas dan kepribadian, rentan terpapar ekstremisme bila tidak dibekali oleh pondasi pengetahuan agama yang baik dan benar. “Dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa pelaku terorisme sebagian besar usianya masih muda,” ujarnya.

Karena itu Mintarti berharap, mahasiswa dapat menangkal paham dan kelompok ekstrem di lingkungan kampus. Salah satu ikhtiarnya adalah dengan menghargai pandangan kelompok lain yang berbeda dan tidak merasa pemahamannya yang paling benar. [FS]

Baca juga Saatnya Mayoritas Menyuarakan Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...