HomeOpiniAl-Qurán dan Semangat Perdamaian

Al-Qurán dan Semangat Perdamaian

Oleh Wiwit Tri Rahayu
Alumni Ponpes Ar-Risalah Lirboyo Kediri

Al-Qurán turun dari Lauhul Mahfudh pada bulan Ramadan. Awal kali diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw pun pada bulan yang sama. Ramadan memang sangat istimewa dan monumental. Memang ada banyak peristiwa historis di bulan ini. Namun peristiwa diturunkannya Al-Qurán sebagai mukjizat Nabi Muhammad menempati posisi yang sangat penting bagi umat muslim. Mengingat Al-Qurán adalah sumber rujukan utama syariat Islam sepanjang masa.

Jika kita lihat lebih dalam, Al-Qur’an tidak hanya menjelaskan tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menjelaskan tentang hubungan sosial. Tak pelak banyak ayat Al-Qur’an yang mengisyaratkan muslim untuk menegakkan perdamaian.

Baca juga Membangun Interaksi Positif untuk Perdamaian

Ayat yang pertama kali diwahyukan Allah melalui Malaikat Jibril  kepada Nabi adalah:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. Al Alaq:1).

Secara sederhana, dapat kita artikan bahwa perintah ini bertujuan agar manusia tidak bertindak tanpa memiliki landasan yang kuat. Manusia harus membaca untuk memerluas cakrawala pengetahuan.

Baca juga Memahami Ayat Peperangan

Sebagai rujukan utama, Al-Qur’an juga dijadikan sebagai legitimasi kelompok ekstremis kekerasan untuk pembenaran atas tindakan yang mereka klaim sebagai jihad. Dengan perintah iqra’ tersebut, sudah seharusnya kita tidak langsung percaya dan kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad Saw sebagai penerima wahyu. Bukan hanya membaca terjemahannya saja, tetapi tafsir-tafsirnya dan syarah hadis yang ditulis oleh ulama-ulama yang otoritatif.

Apabila kita tidak mampu, maka sebaiknya kita tanyakan kepada orang yang berilmu.

 فَاسْأَلُوا اَهۡلَ الذِّكۡرِ اِنۡ كُنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡن

“Maka tanyakan kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui” (QS Al Anbiya’: 7).

Baca juga Memberantas Terorisme

Jika kita coba telisik lebih mendalam, akan kita temukan bahwa seruan Al-Qur’an yang mengajak pada perdamaian justru lebih banyak daripada seruan untuk berjihad. Sebagai perbandingan, ayat Al-Qur’an yang mengandung kata jihad sebanyak 44 kata. Itu pun tidak semuanya dimaknai sebagai jihad dalam artian perang yang sesungguhnya. Beberapa di antaranya menjelaskan tentang jihad melawan hawa nafsu.

Sedangkan ayat yang mengandung makna perdamaian atau salam diulang sekitar 59 kali. Di mana kebanyakan ayat tersebut merupakan ayat untuk menyerukan perdamaian ataupun berdoa kepada Allah untuk mendapatkan perdamaian.

Baca juga Menakar Persepsi tentang Terorisme

Begitu pula dengan Lailatul Qadar, malam di mana Al-Qur’an diturunkan dari lauhul mahfudh menuju baitul izzah, sering dikaitkan dengan kondisi yang penuh dengan kedamaian dan ketenangan. Peristiwa ini dijelaskan dalam surat Al-Qadr dan disebut sebanyak tiga kali. Namun, di akhir surat disebut pula seruan untuk menyebarkan perdamaian:

سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar” (QS Al Qadr: 5)

Salam dapat diartikan perdamaian, keselamatan, dan ketenteraman. Ayat ini dapat diartikan bahwa perdamaian harus diupayakan hingga perdamaian tersebut benar-benar terwujud. Karena fajar mengindikasikan kondisi yang terang, sebagai pertanda berakhirnya malam yang identik dengan kegelapan. Sebagaimana puasa yang diawali saat terbitnya fajar.

Baca juga Tarbiah Perdamaian (Bag. 1)

Sehingga sudah seharusnya Ramadan sebagai bulan Al-Qurán kita refleksikan untuk mewujudkan perdamaian di bumi. Perdamaian dapat terwujud dari hal-hal kecil sekali pun. Karena sesungguhnya perwujudan damai dimulai dari hal terkecil yang berasal dari hati kita, yaitu tidak menyakiti siapa pun.

Jika kita tidak menyakiti siapa pun, kita tidak hanya mendapatkan pahala tapi juga turut menciptakan perdamaian yang aktif, yaitu perdamaian yang tidak hanya kita rasakan sendiri tapi menyebar kepada banyak orang melalui sikap dan perilaku kita.

Baca juga Tarbiah Perdamaian (Bag. 2)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...