2 weeks ago

Memahami Ayat Peperangan

Oleh Fahmi Suhudi
Alumni Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Ciputat

Ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang jihad dan qital kerap dijadikan justifikasi kelompok ekstrem dalam melancarkan aksinya. Jihad dan qital sebagai mekanisme pertahanan diri berubah watak menjadi ofensif dalam pemaknaan kalangan ekstremis. Bahkan aksi-aksi terorisme pun diklaim sebagai bentuk jihad. Tak ayal muncul stigma negatif, seolah Islam menghalalkan aksi-aksi brutal itu.

Dalam situasi demikian, sangat penting bagi semua orang untuk memahami ayat-ayat jihad dan qital secara kafah. Penulis akan membedah beberapa ayat yang kerap dijadikan legitimasi kekerasan atas nama jihad.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 216).

Baca juga Memberantas Terorisme

Menurut At-Thabary, ayat tersebut menunjukkan bahwa dalam situasi tertentu hukum perang adalah fardhu kifayah sebagaimana kewajiban memulasarakan dan menyalati jenazah. Meskipun umumnya manusia tidak menyukai peperangan. Kata kurhun menurut sejumlah kamus diartikan sebagai sesuatu yang tidak disukai untuk dilaksanakan. Mengutip pendapat sebagian ahli bahasa, kata kurhun adalah sinonim dari karhun. Maknanya sesuatu yang membebani individu, baik itu dipaksakan oleh orang lain atau tidak (Tafsir At-Thabary, Vol. 3 hal. 645-646).

Dalam surat lain, Allah menerangkan tentang alasan peperangan.

فَلْيُقَٰتِلْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱلَّذِينَ يَشْرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا بِٱلْءَاخِرَةِ ۚ وَمَن يُقَٰتِلْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيُقْتَلْ أَوْ يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا.

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَآءِ وَٱلْوِلْدَٰنِ ٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ ٱلْقَرْيَةِ ٱلظَّالِمِ أَهْلُهَا وَٱجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَٱجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا 

“Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau” (QS An Nisa 74-75).

Baca juga Menakar Persepsi tentang Terorisme

Menurut ِMuhammad al-Thantawi dalam Tafsir al-Washit, ayat ini ingin menegaskan kasih sayang Allah Swt kepada hamba-Nya yang tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Oleh karenanya, perintah tentang berperang merupakan bentuk keikhlasan untuk berjuang menegakkan agama Allah. Artinya berjihad hanya mengharapkan ridha Allah Swt. Bukan sebagai ajang pamer, gagah-gagahan, apalagi berharap dapat jatah ghanimah (harta rampasan), atau membuat rasa takut kepada musuh.

Secara gamblang diterangkan dalam ayat tersebut bahwa perang adalah bentuk mekanisme pertahanan diri ketika dizalimi oleh pihak lain, dihalangi untuk menjalankan ibadah, atau terusir dari daerah/teritorial miliknya yang berdaulat. Perang hanya diwajibkan dalam situasi tersebut. Maka cukup aneh jika aksi-aksi teror di luar zona pertempuran dijalankan dengan semangat perang sebagaimana digariskan dalam ayat-ayat di atas.

Baca juga Tarbiah Perdamaian (Bag. 1)

Aksi-aksi terorisme, khususnya di Indonesia, kerap diklaim sebagai perjuangan atas nama Islam. Padahal dilihat dari sudut mana pun, aksi terorisme lebih sebagai bentuk keputusasaan dari rahmat Tuhan dan memilih mengakhiri hidup di dunia. Padahal hidup adalah karunia Allah. Hal itu jelas diharamkan.

وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah: 195).

Baca juga Tarbiah Perdamaian (Bag. 2)

Bukan hanya merusak diri sendiri, terorisme juga menumpahkan darah orang-orang yang haram untuk disakiti. Terlebih jika korbannya adalah umat muslim. Keharaman untuk menumpahkan darah sesama muslim ditegaskan dalam sabda Nabi Muhammad Saw, al-Muslimuna Tatakafa’ dimauhum (Orang muslim adalah orang yang telah dilindungi darah-darahnya).

Sudah sepatutnya, mereka yang terbesit untuk melakukan aksi kekerasan atas nama jihad, harus mengkaji ulang dalil-dalil yang dijadikan sebagai justifikasinya. Selain itu juga harus memikirkan dampak yang akan dialami oleh orang-orang yang tak bersalah akibat aksinya.

Baca juga Tarbiah Perdamaian: Berakhirnya Kekerasan (Bag. 3-Terakhir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *