4 weeks ago

Menakar Persepsi tentang Terorisme

Oleh Faruq Arjuna Hendroy
Sarjana Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah

Indonesia masih dihantui oleh bayang-bayang teror. Setelah cukup lama kita tidak mendengar berita tentang serangan teror, terutama sejak menjangkitnya pandemi Covid-19, beberapa pekan lalu Gereja Katedral Makassar diguncang serangan bom bunuh diri. Pelaku yang merupakan pasangan suami istri tewas di tempat, puluhan orang mengalami luka-luka. 

Berselang beberapa hari setelahnya, seorang perempuan menerobos masuk ke Mabes Polri di Jakarta dan memberondongkan peluru dari pistolnya. Aksi pelaku bak bintang fiksi legendaris Rambo. Bedanya, ia tewas di tangan anggota kepolisian. Selain pelaku, beruntung tidak ada korban luka maupun jiwa.

Baca juga Tarbiah Perdamaian (Bag. 1)

Usai dua serangan teror ini, aparat melakukan aksi penegakan hukum. Sejumlah orang terduga terorisme yang tersebar di beberapa tempat seperti Ciputat, Bekasi, dan Jakarta Timur ditangkap. Para terduga teroris itu disebut tengah merencanakan dan mempersiapkan serangan.

Mengiringi peristiwa-peristiwa tersebut, warganet di media sosial pun bereaksi. Di antara mereka ada yang memberikan simpati kepada korban yang berjatuhan dan meminta aparat lebih serius membongkar jaringan terorisme, supaya tak ada lagi orang tak bersalah menjadi korban.

Baca juga Tarbiah Perdamaian (Bag. 2)

Namun ada pula yang merespons kasus terorisme itu secara sinis; mengaitkannya dengan strategi pengalihan isu dan drama elit politik. Pemerintah dianggap tengah ‘membuat-buat’ kasus terorisme baru agar perhatian publik teralihkan dari perkara-perkara besar yang menjadi tanggung jawab pemerintah. “Itu hanya konspirasi. Pasti ada yang akan diuntungkan,” demikian salah satu opini yang berkembang.

Dalam kasus serangan Mabes Polri misalnya, publik memertanyakan kenapa pelaku bisa lolos ke dalam kompleks markas besar korps polisi, seolah-olah dibiarkan. Ada pula yang menyoal tentang kamera yang ‘sengaja’ menyoroti tempat kejadian perkara sebelum baku tembak itu terjadi. Tudingan paling liar dan susah dinalar adalah isu bahwa pelaku sebenarnya adalah anggota polwan yang tengah menyamar.

Baca juga Tarbiah Perdamaian: Berakhirnya Kekerasan (Bag. 3-Terakhir)

Analisis konspiratif dalam peristiwa terorisme memang bukan barang baru dan selalu menarik sebagai bahan gunjingan. Siapa pun, mulai dari orang biasa hingga public figure, sangat mungkin terjebak dalam imajinasi ini. Perlu diketahui, saat kasus Bom Bali I yang terjadi 18 tahun silam, ada pejabat Negara yang mengimani bahwa pelakunya adalah negara Barat yang ingin merusak reputasi Islam.

Alasannya, tidak mungkin ada kelompok sipil yang mampu membuat ledakan sedahsyat itu. Diyakini ada peran militer asing karena merekalah yang memiliki fasilitas dan keterampilan. Analisis semacam itu ramai diperbincangkan kala itu, padahal masih belum ada media sosial. Analisis konspiratif di zaman sekarang tentu memantik perbincangan lebih luas di kalangan warganet.

Baca juga Ketangguhan Mental Modal Kebangkitan

Semua pertanyaan dan opini itu lantas terjawab melalui fakta-fakta persidangan di pengadilan. Ternyata para pelaku bukan kelompok sipil sembarangan. Mereka pernah menimba ilmu sebagai anggota kelompok paramiliter, bahkan punya pengalaman berperang di Afghanistan atau Filipina Selatan. Pengakuan bahkan datang langsung dari terpidana seumur hidup kasus Bom Bali I, Ali Imron. Seperti tersiar di beberapa kanal youtube, Ali tegas mengatakan bahwa terorisme bukanlah sebuah rekayasa. Aksi pengeboman di Pulau Dewata memang direncanakan dan dieksekusi oleh kelompoknya.

Dilihat dari faktornya, ada dua alasan mengapa orang percaya konspirasi. Pertama, karena ketidaktahuan. Konspirasi memang kerap diidentikan dengan ‘permainan di belakang layar’. Yang terlihat hanya kulit luarnya saja. Ketidaktahuan akan hal di balik layar itulah yang mengakibatkan orang berspekulasi seenaknya. Cukup dengan kepingan-kepingan informasi yang belum tentu akurat, maka cocokologi yang cenderung dipaksakan pun terjadi.

Baca juga Mengelola Fenomena Clicktivism

Alasan kedua berkaitan dengan kontestasi politik. Di saat sekelompok orang merasa diperlakukan tidak adil, dikucilkan, dan terancam, maka mereka cenderung menyalahkan penguasa yang notabene memiliki kekuasaan dan bisa melakukan apa saja dengannya, termasuk apabila ingin menyembunyikan kecacatannya dalam mengemban tugas mengurus Negara.

Dalam kasus peristiwa terorisme, konspirasi muncul karena publik tidak memiliki akses yang cukup untuk mengenal jaringan kelompok teroris yang memang bergerak di balik bayang-bayang. Ditambah lagi jika memang berangkat dari ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah. Kasus terorisme dianggap sebagai pengalihan isu agar citra pemerintah kembali naik. Tujuannya mungkin mengekspresikan kritik, namun diejawantahkan dalam bentuk imajinasi konspirasi.

Baca juga Perdamaian dari Akar Rumput

Tren semacam itulah yang sulit diterima. Kritik sah-sah saja dilakukan, tetapi membungkus kritik dengan konspirasi hanya akan menimbulkan permasalahan baru. Sebagaimana yang disampaikan Ali Imron, menyebut terorisme itu rekayasa hanya akan membantu keberhasilan misi para teroris, yaitu memupuk kebencian terhadap pemerintah. Kelompok teror yang menabur, pemerintah yang menanggung.

Aksi terorisme dilakukan oleh sekelompok orang yang ingin mengganti ideologi negara. Itu harus diungkapkan ke khalayak luas. Dari penuturan Ali Imron maupun penuturan mantan pelaku terorisme lain yang pernah penulis temui, dulu mereka melakukan aksi teror tanpa arahan pihak luar mana pun. Mereka dulu juga sangat membenci pemerintah dan perangkat-perangkatnya. Oleh karenanya, opini bahwa teroris dan pemerintah berkomplot susah dinalar secara sehat.

Baca juga Keniscayaan Perdamaian

Publik harus melihat secara jernih bahwa terorisme adalah tindakan yang mencoreng kemanusiaan. Di saat publik meributkan soal kaitan terorisme dengan konspirasi, para korban terorisme harus berjuang melawan luka fisik dan trauma psikis. Analisis konspiratif atas terorisme hanyalah imajinasi, sedangkan luka para korban itu nyata. Marilah kita merawat kemanusiaan dengan bergandengan tangan menolak aksi terorisme, daripada harus melontarkan narasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat.

Baca juga Arif Menyikapi Bencana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *