HomeBeritaDialog Mahasiswa ITT ...

Dialog Mahasiswa ITT Purwokerto dengan Eks Napiter

Aliansi Indonesia Damai– Bekerja sama dengan Bidang Kemahasiswaan Institut Teknologi Telkom (ITT) Purwokerto, AIDA menghelat “Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya” secara daring pada akhir Mei lalu. Salah satu narasumber yang dihadirkan adalah Mukhtar Khairi, mantan narapidana terorisme (napiter).

Mukhtar berbagi kisah hidupnya yang pernah terjerat dalam jaringan ekstremisme kekerasan. Ada banyak faktor yang membuatnya tertarik saat itu, antara lain kepeduliannya terhadap umat Islam yang tertindas di belahan negeri lain dan keinginan besar untuk membela mereka. Atas ajakan kakaknya, Mukhtar mengikuti kajian salah satu kelompok yang melegalkan kekerasan dan menganggap aparat negara sebagai musuh. Ia juga mengikuti pelatihan semimiliter.

Baca juga Menyelesaikan Krisis Menghindari Ekstremisme

Karena ulahnya, Mukhtar dihukum penjara selama beberapa tahun di Lapas Cipinang Jakarta. Selama masa hukuman, Mukhtar banyak merenung dan mengkaji kembali pemahamannya. Lambat laun ia memutuskan meninggalkan penuh kelompok lamanya dan kini memilih menjadi aktivis perdamaian.

“Jika dahulu jihad hanya diartikan berperang dan mendapatkan kemampuan menggunakan senjata, maka jihad sekarang harus diartikan secara lebih luas. Dan tidak boleh malah membolehkan kekerasan,” ucapnya.

Baca juga Meluruskan Nalar Konspiratif Terorisme

Kepada Mukhtar, salah seorang peserta menanyakan pandangannya atas serangan teror yang menyasar rumah ibadat. “Bagaimana kita merespons serangan di tempat ibadat? seakan pelaku ingin mengadu domba dalam hubungan umat beragama,” katanya.

Menurut Mukhtar, tak cukup publik mengutuk setiap aksi terorisme. Lebih dari itu, khususnya para pemuka agama harus memberikan pencerahan dan upaya pencegahan agar teror tidak terjadi lagi. “Ulama harus menyatakan berlepas diri. Karena mereka adalah tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh,” katanya.

Baca juga Dialog Mahasiswa ITT Purwokerto dengan Penyintas Bom Kuningan

Pada saat bersamaan pemerintah harus lebih aktif dalam melakukan pencegahan penyebaran pemahaman yang keliru. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati. “Program pencegahan harus diberikan kepada berbagai elemen masyarakat yang belum terpapar,” ucapnya.

Peserta lain menanyakan tips agar mahasiswa tidak terpapar paham prokekerasan? Dalam hemat Mukhtar, sangat penting bagi mahasiswa untuk mengikuti kegiatan yang bernilai positif dan bisa menumbuhkan kesadaran arti pentingnya perdamaian.

Selain itu pemahaman keagamaan yang washatiyah harus terus digaungkan. “Cara yang saya lakukan adalah dengan mengajak teman-teman untuk memperdalam pemahaman Islam yang washatiyah,” ujarnya memungkasi. [FS]

Baca juga Warek ITT Purwokerto Ajak Mahasiswa Lestarikan Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Previous article
Next article

More from Author

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...