HomeOpiniTerapi Pemaafan

Terapi Pemaafan

Oleh Muhammad Saiful Haq
Sarjana Psikologi UIN Maliki Malang

Setiap orang tentu pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan saat berinteraksi dengan individu maupun kelompok tertentu. Hal tersebut tentu normal dalam kehidupan sosial. Beberapa kesan akan mudah dilupakan, namun banyak pula yang terendap dalam pikiran.  

Kesan buruk yang tersimpan berubah menjadi emosi negatif yang rawan menjadi rasa dendam hingga amarah berkepanjangan. Hal ini dapat merusak atau setidaknya mengganggu kondisi psikis.

Baca juga Pemuda dan Dakwah di Media Sosial

Beberapa penelitian menunjukkan, membalas dendam kerapkali tidak menyelesaikan masalah, bahkan tidak sama sekali menuntaskan amarah. Pelaku tidak merasa lebih baik setelah membalaskan dendamnya, bahkan situasi dapat menjadi lebih buruk. Fakta seperti ini memunculkan kajian pentingnya memaafkan (forgiveness) sebagai salah satu solusi menetralisasi emosi negatif.

Hasil riset tersebut sejalan dengan pengalaman korban terorisme yang pernah menaruh dendam terhadap pelaku terorisme, namun pada akhirnya memberikan maaf. Tidak jarang para korban dapat merasakan kelegaan dan ketenangan batin. Beban hilang setelah memberikan maaf yang tulus kepada mantan pelaku terorisme.

Baca juga Pendidikan Perdamaian (Tarbiyah Silmiyah): Memaknai Kembali Tujuan Jihad

Dalam studi psikologi positif, pemaafan merupakan proses psikis internal individu yang secara sukarela melepas perasaan dan pikiran atas rasa benci, marah, serta keinginan balas dendam terhadap orang lain, bahkan dirinya sendiri. Bahkan pemaafan disebut bagian dari terapi personal bagi seseorang yang ingin memiliki mental yang lebih baik. Sebagian ahli menyebutkan, memaafkan adalah usaha untuk mengatasi dampak negatif terhadap orang yang menyakiti dengan menunjukkan rasa kasihan, perdamaian, dan cinta (McCullough, Fincham & Tsang, 2003).

Fase-fase memaafkan

Meski berdampak baik, tidak mudah memberikan maaf. Lewis B. Smedes dalam bukunya, Forgive and forget: healing the hurts we don’t deserve, menuliskan bahwa memaafkan membutuhkan proses yang tidak mudah. Ada banyak fase yang ditempuh.

Baca juga Analisis Budaya: Halalbihalal

Fase pertama, kemampuan untuk membalut luka hati. Pada fase ini seseorang berusaha meredakan sakit hati dan menghilangkan kebenciannya agar tidak menjadi penyakit hati. Seseorang akan mulai menyadari bahwa rasa benci, marah, serta keinginan balas dendam pada akhirnya hanya akan menghilangkan ketenangan dan kesenangan dalam kehidupan.

Fase kedua, meredakan kebencian. Hal ini bertujuan untuk memahami alasan orang lain menyakitinya, sekaligus introspeksi diri atas alasan orang lain melakukan tindakan yang menyakitkan. Muncul kesadaran untuk mengurangi kebencian karena dengan kebencian segala hal menjadi lebih buruk. Rasa benci, marah serta keinginan balas dendam tidak hanya melukai orang lain, namun juga diri sendiri.

Baca juga Memaafkan dan Membangun Peradaban

Fase ketiga, upaya penyembuhan diri dengan melepaskan segala ingatan yang menyakitkan dengan berfokus melupakan kesalahan orang lain di masa lampau. Fase ini sebagai upaya meraih ketenangan hati lantaran jenuh dengan pikiran negatifnya. Seorang akan mulai memaafkan sekaligus melepaskan sakit hati terhadap kesalahan atau kejadian yang menyakitkan di masa lalu.

Fase terakhir yaitu berjalan bersama. Pada fase ini timbul ketulusan antara seseorang yang disakiti dan yang menyakiti untuk bersama-sama melupakan kesalahan dan permusuhan. Kebencian di hati berubah menjadi jembatan membangun hubungan baik, sekaligus merajut asa untuk perdamaian.

Memang memaafkan bukan perkara mudah. Perlu proses dan waktu melakukannya. Namun seseorang yang mampu memberikan maaf telah menunjukkan sikap kedewasaan dan kearifan lebih baik daripada orang yang masih terkurung dalam kebenciannya.

Baca juga Memberantas Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...