HomeInspirasiAspirasi DamaiMenjaga Akhlak di Medsos

Menjaga Akhlak di Medsos

Media sosial (medsos), ibarat pedang bermata dua. Jika dimanfaatkan untuk hal-hal positif maka akan melahirkan kemaslahatan individual maupun publik. Sebaliknya, jika digunakan secara negatif maka akan menimbulkan hal-hal yang kontraproduktif, yang tak saja memudaratkan diri sendiri namun juga orang lain.

Salah satu dampak negatif dari medsos adalah menjamurnya ujaran kebencian. Caci-maki, provokasi, hasutan, pengkafiran, bahkan ancaman fisik bertebaran di pelbagai jejaring media sosial dan laman-laman internet. Semua orang, tanpa pandang predikat, jabatan, atau lainnya bisa menjadi obyek kata-kata negatif.

Baca juga Paradoks Ekstremisme: Belajar dari Perubahan Pandangan Napiter (Bag.1)

Penulis agak heran dengan orang-orang yang begitu mudahnya mengkafirkan saudara seagamanya. Padahal masing-masing syahadatnya sama, Tuhannya sama, Nabinya sama. Para pencaci tampak yakin dirinya sebagai muslim penjaga kebenaran sehingga berhak memaki orang yang tidak sependapat dengannya.

Jagat maya adalah ruang publik di mana setiap orang berhak untuk berpendapat. Tetapi tentu dalam koridor etika dan norma hukum. Petuah Arab menyatakan, likulli haalin adabun wa likulli makanin adabun wa likulli waqtin adabun (untuk setiap perilaku ada tata kramanya, dalam setiap ruang ada sopan santunnya, dan untuk setiap waktu ada etikanya sendiri).

Baca juga Paradoks Ekstremisme: Belajar dari Perubahan Pandangan Napiter (Bag.2)

Dalam Qs. Al-Hujurat ayat 11 Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (menjelek-jelekkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita (yang dijelek-jelekan) lebih baik dari wanita (yang menjelek-jelekkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, serta janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) fasiq sesudah (panggilan) iman, dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Dalam Asbabun Nuzul, (1991: 263), Abi al-Hasan al-Nisabury, menerangkan bahwa ayat tersebut diturunkan untuk menegur beberapa orang yang menghina seorang sahabat Nabi bernama Tsabit bin Qois bin Syamas. Biasanya, karena telinganya tuli, saat sahabat-sahabat sowan kepada Nabi, Tsabit dipersilakan duduk di sisi Nabi, agar mampu mendengar petuah-petuah Nabi dengan lebih baik.

Baca juga Paradoks Ekstremisme: Belajar dari Perubahan Pandangan Napiter (Bag. Terakhir)

Pada suatu kesempatan, orang-orang yang bertamu di rumah Nabi telah menduduki tempat di mana Tsabit biasa menempatinya. Tsabit yang telat dating lantas duduk sambil menggerutu dan marah. Melihat Tsabit marah, seorang laki-laki yang menduduki tempatnya lalu mencelanya dengan menuturkan bagaimana tingkah laku ibunda Tsabit di masa Jahiliyyah lampau. Maka turunlah ayat tersebut.

Sementara ayat tentang larangan memberikan label yang jelek diturunkan sebagai teguran kepada laki-laki  yang memanggil temannya dengan nama “Yanbuzah”. Karena laki-laki yang dipanggil itu tidak suka dengan nama tersebut, ia lapor kepada Nabi dan mengadukan panggilan itu.

Baca juga ‘Kepungan’ Menjaga Harmoni

Ibnu al-Katsir, Al-Nawawi, dan Wahbah Al-Zuhaily sepakat bahwa ayat ini menandaskan haramnya mencela kepada sesama muslim. Sebab di samping hal itu dapat menyakiti hati orang yang dihina, belum tentu juga kalau yang menghina itu lebih baik perilakunya, penampilannya, dan sebagainya, daripada yang dihina. Pendek kata saling mencela antarmuslim dengan beragam bentuk dan caranya adalah tindakan yang jelas haram.

Termasuk dalam golongan pencelaan adalah memberikan nama panggilan, predikat, atau julukan buruk kepada seseorang dengan sebutan-sebutan yang kurang enak didengar, yang berakibat orang itu membenci panggilan yang dilekatkan kepada dirinya. Menurut Imam Nawawi, yang keharamannya tidak bisa ditawar-tawar lagi adalah penyebutan dengan panggilan, “Hai Kafir!”, “Hai Fasik!”, “Hai Munafik!”, dan semacamnya kepada orang Islam yang nyata-nyata telah menunjukkan keimanannya. Oleh Allah hal ini disebut sebagai predikat terburuk yang haram dilontarkan.

Baca juga Berdamai dengan Ketidaksukaan

Dalam masyarakat modern yang tidak lagi mengenal jarak pergaulan tanpa melihat segala atribut-atribut simbolis seperti agama, suku, ras, etnis, dan bahasa, tentunya siapa pun dilarang mencaci maki kepada siapa pun pula. Pendek kata Islam mengharamkan segala bentuk ujaran kebencian.

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, dikisahkan ada seorang sahabat meminta Rasulullah Saw untuk mengutuk orang musyrik. Namun beliau tegas menolak, dan menjawab, “Aku diutus bukan menjadi pengutuk, melainkan sebagai rahmat.”

Baca juga Falsafah Bugis untuk Perdamaian Bangsa

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

9 Tahun Bom Jakarta; Ikhtiar Penyintas Berdamai dengan Trauma (Bag. 4-Terakhir)

Sembilan tahun silam, tepatnya 14 Januari 2016, teroris menyerang jantung kota...

9 Tahun Bom Jakarta; Ikhtiar Penyintas Berdamai dengan Trauma (Bag. 2)

Sembilan tahun silam, tepatnya 14 Januari 2016, teroris menyerang jantung kota...

9 Tahun Bom Jakarta; Ikhtiar Penyintas Berdamai dengan Trauma (Bag. 1)

Sembilan tahun silam, tepatnya 14 Januari 2016, teroris menyerang jantung kota...

Mengikis Kebencian Menuai Perkawanan

Aliansi Indonesia Damai- Senja kian larut, rombongan yang ditunggu sejak matahari...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...