HomeBeritaDialog Petugas Lapas dengan...

Dialog Petugas Lapas dengan Penyintas Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Tiga puluh lima orang petugas pemasyarakatan dari puluhan Lapas di Indonesia secara aktif mengikuti kegiatan Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Petugas Pemasyarakatan, Selasa-Kamis (15-17/07/2021). Kegiatan digelar secara daring atas kerja sama AIDA dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham. Salah satu narasumber yang dihadirkan adalah Ni Luh Erniati, penyintas Bom Bali 2002.

Erni, sapaan akrab Ni  Luh Erniati, berkisah tentang perjuangannya mendidik dan membesarkan kedua buah hati tanpa kehadiran sosok suami terkasih, Made Badrawan. Suaminya meninggal dunia dalam serangan bom yang terjadi pada 12 Oktober 2002 lampau. Bertahun-tahun ia dan kedua anaknya mengalami trauma psikis. Anak pertama berubah pendiam dan anak kedua menjadi hiperaktif sembari terus menuntut bapaknya kembali ke rumah. Untuk menyembuhkan problem psikisnya, Erni menjalani terapi bersama psikiater dan mengonsumsi obat penenang.

Baca juga Direktur Pemasyarakatan Dorong Penguatan Kapasitas Petugas Lapas

Tak sekadar itu, ia juga nyaris kehilangan hak pengasuhan anaknya. Keluarga besar dari mendiang suaminya merasa pesimis Erni mampu menjadi single parent, sehingga berniat mengambil hak asuh. “Saya bilang, saya tidak bisa kehilangan anak-anak. Dari situ saya bertekad bisa membesarkan mereka walaupun sendiri. Saya berpikir, saya harus bangkit,” ujarnya.

Erni memang sempat menyimpan amarah kepada para pelaku pengeboman. Namun seiring waktu, Erni menyadari bahwa menyimpan dendam dan amarah hanya akan membuat dirinya sakit dan menderita. Bahkan sekira tahun 2015, saat dipertemukan dengan Ali Fauzi Manzi, mantan pelaku ekstremisme kekerasan yang juga adik kandung trio pelaku Bom Bali 2002, Erni secara legawa memaafkan Ali Fauzi. Bahkan kini ia bersahabat baik dengannya.

Baca juga Dirjen Pemasyarakatan: Sinergi Korban, Pamong, dan Mantan Napiter

Menurut Erni, memaafkan akan menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang. “Karena kekejaman terorisme, saya kehilangan satu cinta. Tetapi dengan kegiatan ini, saya bisa sharing dengan harapan bisa menumbuhkan ribuan cinta dan kasih sayang satu sama lainnya,” ucapnya.

Salah seorang peserta merespons kisah Erni dengan menanyakan bagaimana perasaannya setelah tahu bahwa para pelaku pengeboman yang notabene adalah muslim serta mengklaim berjuang atas nama agama. “Apakah pernah menaruh rasa marah dan dendam kepada umat Islam, sebagaimana para pelaku yang kebetulan beragama Islam?” katanya.

Baca juga Kemenkumham Beri Penghargaan Kepada AIDA

Erni menerangkan bahwa dirinya tidak pernah menaruh dendam dan marah kepada umat Islam. Baginya, tidak ada agama yang mengajarkan terorisme. Hanya oknum pemeluknya yang salah memahami ajaran agama. Sejak lama ia berteman dengan orang-orang muslim di Bali, terlebih banyak pula korban Bom Bali yang beragama Islam. “Saya bersahabat dengan teman-teman muslim yang juga menjadi penyintas. Kita merasa senasib dan seperjuangan,” tuturnya.

Salah seorang peserta lain memberikan dukungan kepada Erni. “Semoga Bu Erni dan keluarga senantiasa diberikan kesehatan dan ke depannya lebih baik lagi,” ucapnya. [FS]

Baca juga “Kasih Sayang Orang Tua Mengalahkan Itu Semua”

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...