HomeBeritaIbroh dari Penyintas Bom:...

Ibroh dari Penyintas Bom: Tak Ada Kejadian di Luar Takdir

Aliansi Indonesia Damai- Segala peristiwa yang terjadi di dunia ini dalam kehendak dan dengan sepengetahuan Allah. Dengan irodah-nya, Allah melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya, termasuk peristiwa ledakan bom yang menimbulkan banyak korban. Dari setiap peristiwa, kita hendaknya mengambil pelajaran, termasuk dari peristiwa kekerasan supaya tidak ada lagi aksi-aksi kekerasan dan Indonesia tumbuh menjadi lebih damai.

Pesan itu disampaikan Imam Masjid Agung Enrekang, Sulawesi Selatan, Ustaz Abbas saat menjadi narasumber dalam acara Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as yang digelar AIDA bersama KUA/Penyuluh Agama Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Senin (11/10/2021 lalu).

Baca juga Saat Mantan Napiter Berkisah Perjalanan Hidupnya

Narasumber lain kegiatan ini adalah mantan pelaku terorisme dan korbannya. Keduanya membagikan kisah-kisah mereka kepada para tokoh agama. Kisah mereka diharapkan menjadi pembelajaran sekaligus metode ibroh dalam berdakwah.

Saat mengulas isi buku La Tay’as, Abbas meyakini bahwa metode ibroh sangat layak digunakan sebagai cara berdakwah untuk masyarakat luas. Hal itu dinilai telah sesuai dengan tata cara berdakwah dalam ajaran Islam, yaitu dengan tutur kata yang baik, berdialog dengan kisah. Menurut dia, mantan pelaku adalah cermin nyata dari adanya terorisme, sementara korbannya adalah bukti bahwa kekerasan telah melahirkan penderitaan bagi orang yang tak bersalah.

Baca juga Dendam Tak Mengembalikan yang Hilang

“Buku ini menjelaskan hulu sampai hilir dari aksi-aksi kekerasan. Kenapa dan bagaimana ada orang yang mau bergabung dengan kelompok teroris, dan bagaimana korban dan keluarganya terdampak dari kekerasan itu. Inilah ibroh untuk membangun Indonesia yang lebih damai dan saling menghormati,” ujar alumni pelatihan pembangunan perdamaian di kalangan tokoh agama yang digelar AIDA beberapa bulan lalu.

Abbas menjelaskan, Islam adalah agama perdamaian dan tidak mungkin mengajarkan umatnya untuk melakukan aksi-aksi kekerasan atas nama apa pun. Jihad yang seringkali disalahpahami oleh kelompok ekstrem sesungguhnya ajaran yang mulia dan luhur, bukan ajaran yang selalu identik dengan kekerasan, tetapi segala perbuatan yang baik yang memberikan dampak kebaikan bagi orang lain.

Baca juga Ekstremisme Rentan di Era Pandemi

“Islam adalah agama rahmatan li ‘alamin, sangat menolak kekerasan, apa pun alasannya. Dalam Islam jihad tidak hanya dalam bentuk peperangan, melainkan juga dalam bentuk perbuatan ibadah-ibadah yang baik. Menahan nafsu, mencari ilmu, dan menafkahi keluarga itu semua termasuk dalam bentuk jihad,” ujarnya.

Dalam pandangannya, salah satu kecenderungan kelompok kekerasan adalah merasa paling benar sendiri dan melihat orang lain salah. Padahal sikap eksklusif bukanlah ajaran Islam. Ia lantas mengajak tokoh agama untuk merenungi perkataan Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa pandanganku benar tapi ada kemungkinan salah. Sementara pandangan orang lain salah, tetapi ada kemungkinan benar. “Pernyataan ini yang harus kita pegang dan kita ambil sebagai prinsip dalam hidup kita,” katanya.

Baca juga Dialog Mahasiswa UHO Kendari dengan Ahli Terorisme

Setelah dua kali mengikuti kegiatan AIDA dan mendengar langsung pertobatan pelaku terorisme dan derita hidup korbannya, Abbas mengaku mendapatkan berkah dan pengetahuan. Salah satu pesan paling dalam yang ia dengar dari korban ketika mereka mampu memaafkan pelakunya.

“Salah satu korban mengatakan, bukan manusia bila tidak bisa memaafkan. Saya jadi ingat bahwa dalam melakukan keputusan, lebih baik salah dalam memaafkan daripada salah dalam memberikan hukuman,” katanya.

Baca juga Terorisme bukan Ajaran Islam

Ia pun mengajak para tokoh agama untuk terlibat dalam upaya-upaya pembangunan perdamaian di Indonesia. Ada salah satu doa yang sering dilantunkan umat Islam, yaitu tentang permohonan agar dihidupkan dalam suasana perdamaian, dan kelak akan dimatikan juga dalam keadaan damai sehingga dapat bertemu dengan Allah yang Mahadamai.

“Kita selalu memohon kepada Allah akan perdamaian, allahumma antas salam. Kita berharap tidak ada lagi orang yang tertarik bergabung dengan kelompok kekerasan dan tidak ada lagi korban kekerasan,” ujarnya memungkasi. [AH]

Baca juga Wawasan Wasathiyah Tangkal Ekstremisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...