HomeBeritaMenguatkan Dakwah dengan Perspektif...

Menguatkan Dakwah dengan Perspektif Korban dan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme merupakan cermin utuh adanya terorisme. Sementara korbannya adalah potret nyata ihwal kesadisan dan dampak destruktif aksi-aksi terorisme. Kisah kedua belah pihak layak disampaikan kepada khalayak luas untuk menguatkan materi dakwah. Publik diharapkan dapat mengambil pembelajaran (ibroh).

Demikian pesan yang disampaikan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama, Riswandy Marsuki, saat menjadi narasumber dalam acara Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya, yang digelar AIDA awal bulan ini.

Baca juga Ketua Masika ICMI Sulsel: Terorisme Persoalan Bersama

Di hadapan lebih dari seratus peserta, Riswandy menekankan perlunya metode dakwah lewat ibroh dari pelaku terorisme dan korbannya. Kisah-kisah mereka penting disebarluaskan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih damai. “Ini perspektif baru, sebagai satu metode dakwah dari sisi korban dan pelakunya,” ujarnya.

Dalam kegiatan AIDA sebelumnya, Riswandy berdialog secara virtual dengan sejumlah mantan pelaku terorisme. Dari kisah-kisah kehidupan mereka, ia mengaku mendapatkan pengetahuan baru perihal terorisme dari sumber utamanya. “Saya bisa melihat bagaimana pemikiran dan perilakunya, mulai dari awal mereka mendapatkan informasinya, terpapar, dan secara sadar terlibat dalam aktivitas terorisme sampai bertobat di jalan damai,” tuturnya.

Baca juga Ibroh dari Penyintas Bom: Tak Ada Kejadian di Luar Takdir

Selain dari kisah pelaku, ia juga menyimak kisah-kisah para korbannya. Suara korban tidak banyak didengar lantaran pelaku lebih banyak mendapatkan perhatian masyarakat ketika terjadi peristiwa terorisme. Padahal perspektif korban sangat penting untuk menguatkan narasi-narasi damai di Indonesia. Dari kisah mereka, para tokoh agama dan cendekiawan diharapkan mampu menyerap pembelajaran dan mengolahnya sebagai materi dakwah kepada khalayak luas.

Riswandy mengaku kagum atas ketangguhan hidup para korban yang mampu melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Ketangguhan korban berawal dari kesediaan mereka untuk memaafkan pelakunya. Ia mencontohkan sosok Andi Dina Noviana, penyintas Bom Thamrin 2016. Meskipun mengalami cedera parah, tidak hanya secara fisik tetapi juga psikis, namun Andi Dina mampu bangkit dengan cara menerima kenyataan yang ada.

Baca juga Saat Mantan Napiter Berkisah Perjalanan Hidupnya

“Ia tidak punya pengetahuan terkait persoalan pelakunya. Namun karena sedang berada di tempat yang tidak sesuai, ia menjadi korban dan terkena ledakan. Ia tidak tahu apa-apa tetapi harus menderita. Kita bisa belajar tentang prinsip Mbak Andi Dina memaafkan pelakunya. Prinsip sabar dan ikhlas sehingga mampu melewati ujiannya,” ujar Wakil Sekretaris Masika ICMI Orwil Sulawesi Selatan itu.

Ia juga mengisahkan tentang keberanian pelakunya untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada korbannya. Ia menilai kisah pertobatan pelaku patut direnungi untuk melihat dampak buruk dari peristiwa terorisme. Dengan demikian, bahaya aksi-aksi kekerasan itu diharapkan menjadi kesadaran bersama. “Prinsip mantan pelaku yang patut ditularkan adalah keberanian meminta maaf bertemu korbannya. Ketika dia dipertemukan dengan korbannya, di situlah dia mengalami titik balik pertobatannya,” ujarnya.

Baca juga Dendam Tak Mengembalikan yang Hilang

Riswandy juga mengapresiasi AIDA yang memertemukan mantan pelaku terorisme dan korbannya, sehingga bisa merumuskan konsep pembangunan perdamaian melalui kisah keduanya.

Di tengah masih maraknya peristiwa terorisme, ia mengakui bahwa problem ketidakadilan turut menjadi salah satu pemicu adanya kekerasan. Meski demikian ketidakadilan bukan menjadi alasan untuk melakukan kekerasan. “Kalau ada ketidakadilan jangan melakukan ketidakadilan yang baru. Nah teroris ini ingin membalas ketidakadilan tetapi melakukan ketidakadilan yang baru di sini,” katanya.

Ia berharap Masika ICMI Sulsel dapat berkolaborasi bersama khalayak luas untuk menjaga perdamaian di wilayahnya. Perdamaian tidak hanya mesti diserukan ketika terjadi aksi-aksi kekerasan, akan tetapi juga harus dikampanyekan seterusnya. [AH]

Baca juga Ekstremisme Rentan di Era Pandemi

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...