2 weeks ago

Apologi Takdir: Menjadi Korban Bukan Keniscayaan (Bag.2-Terakhir)

Setelah sempat marah dan memendam emosi-emosi negatif lain, para korban secara perlahan menyadari bahwa musibah yang menimpanya adalah takdir Tuhan yang harus ikhlas diterima. Karena takdir tak dapat dielakkan kecuali atas kuasa-Nya. Ini dari sudut pandang korban.

Sementara sebagian pelaku terorisme justru menjadikan takdir sebagai apologi. Dalam arti segala sesuatu yang terjadi pada korban adalah keniscayaan yang telah ditetapkan. Kelak setiap manusia akan dibangkitkan sesuai dengan amalan mereka selama hidup di dunia.

Baca juga Apologi Takdir: Memahami Penyintas Bom dalam Rukun Iman (Bag.1)

Merujuk kepada konsep takdir, jawaban dari pelaku ekstremisme tersebut benar di satu sisi, yaitu semua kejadian telah tercatat di lauhil mahfudz dan sudah menjadi kehendak-Nya. Tapi di sisi lain keliru dalam menempatkan logika dan posisi.

Jika kita membedah kembali konsep takdir, maka ada beberapa kaidah yang perlu dibaca ulang. Pertama, aksi pengeboman bukanlah peristiwa di luar kehendak manusia. Jauh berbeda dengan musibah bencana alam yang tidak ada seorang pun yang mengetahui. Para pelaku mempunyai pilihan untuk tidak melakukan aksi tersebut, sehingga tidak menimbulkan akibat fatal terhadap masyarakat luas, yang sebagian besarnya justru umat Islam sendiri.

Baca juga Urgensi Ukhuwwah dan Bahaya Perpecahan

Kedua, meskipun Allah telah menetapkan takdir atas setiap makhluk-Nya, namun tidak ada yang mengetahui seperti apa takdir manusia, bahkan nabi dan malaikat pun tidak mengetahuinya. Maka amat naif berdalih dengan takdir yang kita sendiri belum mengetahuinya.

Penulis pernah berbincang dengan salah seorang yang terkait dengan aksi pengeboman di Indonesia. Ia berdalih bahwa serangan yang dilakukan oleh teman-temannya sudah sesuai dengan hasil “ijtihad” (observasi) mereka, terkait target lokasi dan waktunya. Maka jika ada muslim berada di lokasi pada waktu yang ditentukan, maka mereka adalah pelaku maksiat.

Baca juga Mengimani Takdir

Dalih tersebut jelas keliru. Pertama, bahkan di lokasi sarang kemaksiatan sekali pun tak semua orang berniat dan berbuat kemaksiatan. Kedua, tidak ada yang mengetahui takdir seseorang di masa depan. Setiap manusia berkesempatan untuk memeroleh kehidupan yang lebih baik dalam hal keimanan.

Hal ini dicontohkan dalam kisah perang Badar. Ketika itu Nabi Saw marah ketika sahabat Usamah membunuh musuh yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Usamah meyakini bahwa ikrar tersebut hanyalah kepura-puraan. Namun menurut Nabi, manusia tidak bisa diketahui isi hatinya. Itu dalam kondisi perang yang berkecamuk. Apalagi serangan terorisme, di mana para pelaku memiliki pilihan untuk tidak melakukan pembunuhan dan bisa menggunakan cara-cara lain yang memberikan maslahat jika memang niatnya berjuang sesuai yang disyariatkan.

Baca juga Ketangguhan Penyintas Bom Kuningan, Ram Mahdi Maulana: dari Amarah Menuju Pemaafan

Maka dari itu, demi menjaga kemaslahatan umat Islam dan bangsa Indonesia secara umum, tidak seyogyanya berdalih dengan sesuatu yang kita tidak memiliki ilmu atasnya, dalam arti tidak mengetahui takdir seseorang ke depan.

Takdir memang menjadi rahasia Allah. Indra manusia memiliki keterbatasan untuk melihat ketetapan-Nya. Karenanya takdir disebut dengan sirrullahil maktum (rahasia Allah yang tersembunyi). Manusia diberi tugas dalam menentukan pilihan hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat tugas dan kewajiban dalam melaksanakan perintah atau menjauhi larangan-Nya. Melakukan kerusakan adalah sesuatu yang dilarang, karena jauh dari ajaran Islam yang disyariatkan.

Baca juga 16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *