HomeBeritaKetua Masika ICMI Sulsel:...

Ketua Masika ICMI Sulsel: Terorisme Persoalan Bersama

Aliansi Indonesia Damai- Konflik kekerasan dan aksi-aksi terorisme yang terjadi di Indonesia merupakan salah satu persoalan serius yang mesti diatasi bersama. Tragedi terorisme bukan hanya urusan aparat penegak hukum dan pemerintah semata, melainkan menjadi tanggung jawab bersama.

Ketua Majelis Sinergi Kalam (Masika) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Sulawesi Selatan, drg. Ardiansyah S. Pawinru mengingatkan hal itu saat memberikan pengantar dalam Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya, Sabtu (06/11/2021). Menurut dia, pelbagai peristiwa terorisme yang masih terus terjadi di Indonesia merupakan persoalan bersama yang harus diselesaikan oleh semua pihak.

Baca juga Ibroh dari Penyintas Bom: Tak Ada Kejadian di Luar Takdir

“Peristiwa kekerasan adalah tanggung jawab kita semua. Sebab, jika ada kekerasan dan konflik maka kita juga yang akan kena dampaknya, kita juga yang jadi korbannya,” ujarnya kepada seratus lebih peserta yang hadir secara virtual itu.

Ia menilai wilayah Makassar cukup rentan akan adanya aksi-aksi kekerasan, termasuk terorisme. Di awal tahun ini misalnya, ledakan bom terjadi di depan Gereja Katedral Makassar. Karena itu, kampanye-kampanye perdamaian dan ikhtiar untuk mendorong semua pihak agar lebih peduli terhadap isu terorisme mesti terus digalakkan. “Kampanye antikekerasan dan membangun perdamaian harus terus dilakukan, dan ini juga salah satu bentuk perjuangan Masika ICMI di sini,” katanya.

Baca juga Saat Mantan Napiter Berkisah Perjalanan Hidupnya

Sebagai wadah bagi tumbuh kembangnya cendekiawan muslim di Indonesia, Masika ICMI bertekad menjadikan kampanye perdamaian sebagai program prioritasnya. Cendekiawan muslim mesti turut terlibat dalam pembangunan perdamaian. Sebab mengemban amanat untuk selalu menjaga lingkungan masyarakat agar senantiasa hidup dalam kedamaian.

“Kami beberapa kali melakukan dialog yang fokus dengan kampanye perdamaian. Bersama para aktivis perdamaian, kita punya visi untuk menjadi cendekiawan yang mampu mendamaikan masyarakat dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya,” katanya.

Baca juga Dendam Tak Mengembalikan yang Hilang

Ia lantas mengajak peserta yang hadir untuk tidak berdiskusi semata, melainkan juga mesti melakukan hal-hal nyata ke depannya untuk mewujudkan lingkungan tetap kondusif. “Ke depan kita perlu berkampanye dan berkolaborasi bersama untuk melakukan hal-hal konkrit di lapangan, terutama dalam memberikan pengetahuan kepada masyarakat luas tentang bahaya terorisme,” ujarnya.

Ia berharap semua pihak bisa berkolaborasi untuk menanggulangi terorisme, khususnya di wilayah Sulawesi Selatan. “Makassar sebagai salah satu simpul yang sangat sering terjadi kekerasan dan pengeboman, harus menjadi perhatian bersama. Tidak boleh persoalan terorisme ini kita biarkan. Kami membuka kran kerjasama seluas-luasnya bagi semua pihak untuk membangun perdamaian,” katanya tandas.

Baca juga Ekstremisme Rentan di Era Pandemi

Buku La Tay’as merupakan karya yang ditulis oleh Hasibullah Satrawi, Ketua Pengurus AIDA. Buku tersebut merupakan hasil refleksi dari pengalaman penulisnya selama bertahun-tahun mendampingi pemulihan korban terorisme dan pertobatan mantan pelakunya. [AH]

Baca juga Dialog Mahasiswa UHO Kendari dengan Ahli Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru)...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...