HomeBeritaMembina Generasi Penyeru Damai

Membina Generasi Penyeru Damai

Aliansi Indonesia Damai- Tak ada yang menyangkal bahwa perdamaian adalah prasyarat bagi terwujudnya kehidupan yang makmur sejahtera. Dalam rangka membina generasi pembudaya damai, dibutuhkan kerja keras untuk menguatkan ketangguhan pelajar.

Demikian kurang lebih Nur Anriansah, Wakil Kepala bidang Hubungan Masyarakat SMAN 11 Pekanbaru, Riau, mengatakan saat membuka acara Diskusi Interkatif: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh, Rabu (24/5/2023). Mewakili Kepala Sekolah, pihaknya menyambut baik inisiatif AIDA yang mengajak para siswa untuk mengasah karakter dalam diri sehingga tangguh menghadapi tantangan kehidupan.

Baca juga Tangguh Itu Menebar Manfaat

“Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah, pagi ini di suasana pembelajaran, hadir semua siswa-siswi di sini dipilih untuk bisa mewakili kelas dan tentunya menjadi penyeru perdamaian,” ujarnya di hadapan 80 siswa yang menjadi peserta kegiatan.

Dalam hematnya, suasana damai yang bisa dirasakan pagi itu merupakan anugerah Tuhan yang wajib disyukuri. Bila direfleksikan terhadap situasi dan kondisi di negara-negara yang sedang pecah konflik, sungguh keamanan dan kenyamanan belajar di SMAN 11 Pekanbaru merupakan nikmat yang besar. Anriansah pun menyampaikan kebahagiaannya lantaran AIDA menyelenggarakan kegiatan yang positif di sekolahnya.

Baca juga Kita Butuh Perdamaian

“Ini salah satu apresiasi bagi sekolah kita, dari Tim AIDA-nya bisa berkunjung dan nanti bisa berdiskusi langsung,” katanya.

Lebih jauh Anriasah berpandangan bahwa ketangguhan pelajar berbanding lurus dengan kondisi perdamaian masyarakat di masa depan. Sesuai nasihat bijak yang mengatakan bahwa ‘pemuda hari ini adalah pemimpin esok hari,’ maka nasib bangsa ini apakah terus berlanjut menuju peradaban yang maju atau jatuh terpuruk ditentukan oleh keseriusan pendidikan di masa kini.

Baca juga Menyambung Estafet Perdamaian

“Semoga ini bisa menjadi bekal siswa nanti menyerukan perdamaian. Artinya, tidak hanya sebatas di lingkungan kelas, keluarga, tapi lebih luas lagi masyarakat, sehingga perdamaian ini bisa kita rasakan di seluruh dunia,” katanya berharap.

Kegiatan Diskusi Interaktif: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh diselenggarakan AIDA untuk menguatkan karakter pelajar dengan mengambil hikmah dari kisah korban dan mantan pelaku terorisme. Saat kegiatan berlangsung, peserta menyimak penuturan kisah inspiratif dari para narasumber, yakni korban aksi teror bom serta mantan anggota kelompok teroris yang telah bertobat. Kisah korban mengandung nilai pembelajaran tentang semangat pantang menyerah kendati dihadapkan pada titik nadir kehidupan. Sementara itu, kisah mantan pelaku mengajarkan hikmah tentang pentingnya semangat untuk terus belajar dan tidak gampang berpuas diri. Para siswa peserta kegiatan didorong untuk menyerap ketangguhan seperti para korban yang mampu bangkit dari keterpurukan, juga layaknya para mantan pelaku yang telah insaf dari dunia kekerasan.[MLM]

Baca juga Menuju Generasi Remaja yang Tangguh

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman...

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....