HomeOpini”Toxic Masculinity”: Epidemik Perundungan...

”Toxic Masculinity”: Epidemik Perundungan di Kalangan Remaja

Oleh: Renata Jati Nirmala,
Dosen Universitas Diponegoro Semarang

Perundungan terkait erat dengan konstruksi sosial terkait jender, terutama dalam konteks maskulinitas.

Perundungan (bullying), fenomena yang mengancam anak dan remaja, tidak hanya merajalela di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Baru-baru ini, perundungan di sebuah SMA di Jakarta mencuat ke permukaan, menarik perhatian publik karena melibatkan anak seorang pesohor sebagai salah satu pelaku.

Kasus-kasus seperti ini di Indonesia hanyalah puncak gunung es—meskipun hanya sebagian kecil terungkap oleh media, jumlah kasus yang melibatkan anak dan remaja terus meningkat. Studi PISA 2018 mencatat bahwa sekitar 41 persen remaja di bawah 15 tahun pernah menjadi korban perundungan (Unicef, 2020).

Baca juga Hijrah dalam Berkomunikasi Menuju Harmoni

Angka ini merupakan sebuah peringatan bagi seluruh masyarakat terkait urgensi pencegahan dan penanganan perundungan di kalangan anak dan remaja. Melalui tulisan ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang kompleksitas perundungan, kaitannya dengan toksisitas maskulinitas, dan langkah-langkah preventif yang dapat diambil untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi semua.

Perundungan atau penindasan merupakan suatu bentuk perilaku agresif atau perilaku yang dirancang untuk menyakiti orang lain (Smith, 2016). Ciri-ciri perundungan adalah terjadi pengulangan (terjadi lebih dari satu kali) dan terdapat ketidakseimbangan kekuatan/kekuasaan yang sedemikian rupa sehingga sulit bagi korban untuk membela diri (Olweus, 1999).

Baca juga Ramadhan, Konstitusionalisasi Agama, dan Bernegara Otentik

Perundungan tidak hanya dalam bentuk perundungan fisik, seperti pukulan, tendangan, atau perlakuan kasar lainnya, tetapi juga dapat berbentuk perundungan verbal termasuk ejekan, penghinaan, atau ancaman secara lisan (Björkqvist, 1992; Crick, 1995). Sementara itu, perundungan relasional mencakup isolasi sosial, penyebaran gosip, atau pengucilan dari kelompok. Kemajuan ranah digital memperluas jenis perundungan ke dalam bentuk perundungan siber (cyberbullying) melalui media sosial, pesan teks, atau platform online lainnya.

Perundungan dapat berdampak signifikan kepada korban, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang (Vanderbilt, 2010). Secara langsung, korban sering mengalami stres, kecemasan, depresi, dan penurunan harga diri sebagai efek jangka pendek. Dalam jangka panjang, korban rentan mengalami masalah psikologis yang lebih serius seperti gangguan mental, kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat, dan bahkan risiko tinggi mengalami gangguan kejiwaan yang berkelanjutan.

Konstruksi sosial
Salah satu penyebab langgengnya praktik perundungan di sekolah atau pada teman sebaya adalah konstruksi sosial terhadap gambaran maskulinitas (Rosen, 2019). Maskulinitas merupakan identitas jender seseorang yang mengacu pada sejauh mana seseorang melihat dirinya sebagai maskulin yang melekat pada jenis kelamin tertentu yang dibangun oleh masyarakat/konstruksi sosial (Burke, 1988; Spence, 1984).

Stereotipe seseorang dengan identitas yang maskulin biasanya bertindak lebih dominan, kompetitif, dan otonom (Ashmore, 1986). Perwujudan dari identitas jender tersebut dilakukan secara negatif melalui perundungan. Dengan melakukan perundungan, pelaku akan merasa bahwa dirinya memiliki kekuatan atau kekuasaan lebih atas pihak lain.

Baca juga Investasi pada Guru untuk Pendidikan Berkualitas

Nilai-nilai maskulinitas tradisional tidak hanya mendorong perilaku agresif dari pelaku, tetapi juga menghalangi saksi perundungan untuk melakukan intervensi dalam peristiwa agresif (Leone, 2016). Hal ini diperburuk oleh masyarakat yang menganggap bahwa tindakan agresif merupakan bentuk aktualisasi diri yang maskulin.

Toxic masculinity merupakan sebuah frasa yang populer digunakan untuk menggambarkan maskulinitas tradisional yang dapat berdampak merugikan bagi laki-laki dan masyarakat secara keseluruhan (Harrington, 2021). Hal ini tecermin dalam perilaku seperti penekanan emosi, agresi, dominasi, serta penilaian rendah terhadap ciri-ciri yang sering dianggap feminin, seperti sensitivitas dan kerentanan.

Baca juga Tragedi Gaza dan Masa Depan Geopolitik Global

Toxic masculinity juga dapat memunculkan objektivikasi seksual, homofobia, dan transfobia, serta mendorong perilaku berisiko. Perlu ditekankan bahwa konsep toksisitas maskulinitas bukanlah pengecaman terhadap maskulinitas itu sendiri, melainkan penyorotan kepada aspek-aspek negatif dalam pandangan tradisional tentang maskulinitas.

Konsep ”maskulinitas baru” atau juga dikenal dengan ”maskulinitas positif” atau ”maskulinitas yang sehat” mencoba untuk melampaui batasan-batasan tradisional dari gambaran maskulinitas yang lebih sempit dan toksik (Lomas, 2013) (Messerschmidt, 2018). Konsep ini melibatkan pengakuan akan keragaman dalam pengalaman dan ekspresi maskulinitas serta penolakan terhadap stereotipe dan norma-norma yang membatasi pilihan dan potensi individu berdasarkan jender.

Baca juga Membumikan Perjanjian Al-Mizan

Konsep ini menekankan pentingnya menghargai dan memahami bahwa setiap individu, tanpa memandang jenis kelamin atau identitas jender mereka, memiliki spektrum yang luas dalam ekspresi emosi, minat, dan perilaku. Hal ini berarti bahwa menjadi ”laki-laki” tidak harus selalu berarti menekankan kekerasan, dominasi, atau penekanan terhadap emosi. Sebaliknya, maskulinitas baru menghargai kepekaan, kerentanan, dan kemampuan untuk berhubungan secara emosional dengan orang lain sebagai aspek penting dari identitas maskulin yang sehat.

Langkah-langkah praktis dalam mewujudkan konsep maskulinitas baru termasuk pendidikan yang lebih baik tentang jender dan kesetaraan oleh keluarga dan institusi pendidikan, dukungan terhadap peran aktif dalam pengasuhan dan perawatan anak, serta promosi dari representasi yang beragam dalam media dan budaya populer yang menggambarkan berbagai bentuk maskulinitas yang positif dan inklusif. Dengan demikian, konsep maskulinitas baru berusaha untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat, lebih adil, dan lebih harmonis bagi semua individu.

Baca juga Mengurai Rantai Kekerasan di Pesantren

Perundungan tidak hanya masalah perilaku individu, tetapi juga terkait erat dengan konstruksi sosial terkait jender, terutama dalam konteks maskulinitas. Maskulinitas tradisional sering kali dihubungkan dengan dominasi, kekuatan fisik, dan penolakan terhadap ekspresi emosional yang lembut.

Pelaku perundungan sering kali mencari validasi dalam pandangan tradisional tentang maskulinitas ini, menggunakan kekerasan fisik atau verbal untuk menegaskan kekuasaan mereka dan mengesampingkan rasa empati terhadap korban. Lebih jauh lagi, budaya yang mempromosikan gagasan bahwa kekerasan adalah simbol kejantanan dapat membuat saksi perundungan enggan untuk melangkah atau memberikan intervensi karena takut dianggap lemah atau tidak cukup ”laki-laki” oleh teman-teman mereka.

Baca juga Puasa, Kedewasaan, dan Korupsi

Ini menciptakan lingkungan di mana perundungan terus berlanjut tanpa hambatan, merusak kesejahteraan mental dan emosional para korban serta menciptakan pola perilaku yang berbahaya dan merugikan bagi semua individu yang terlibat. Oleh karena itu, pemahaman yang lebih mendalam tentang toksisitas maskulinitas dan upaya untuk menantang serta mengubah norma-norma yang mendukungnya menjadi krusial dalam upaya pencegahan perundungan di kalangan anak dan remaja.

*Artikel ini terbit di kompas.id, Senin 26 Februari 2024

Baca juga Putus Sekolah dan Pembangunan Berkelanjutan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Menjadi Bangsa Juara

Oleh Hasibullah Satrawi, Penulis adalah pecinta Timnas Indonesia. Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara,...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...