HomeBeritaPenyintas Setahun Setelah Bom...

Penyintas Setahun Setelah Bom Thamrin

Inspektur Dua Denny Mahieu (48) berjalan pelan-pelan dari kursinya di bagian belakang menuju “podium”, Sabtu (14/1) siang. Ada bekas luka bakar terlihat di siku kanannya. “Kepala saya masih suka sakit,” kata penyintas bom di depan pos polisi di Jalan MH Thamrin, Jakarta, itu.

Denny merupakan petugas Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya yang menjadi salah satu korban selamat dalam ledakan bom di Jalan MH Thamrin pada 14 Januari 2016. Hanya dalam hitungan puluhan menit sejak bom meledak, menjelang pukul 11.00 pada 14 Januari 2016, foto Denny menyebar di media sosial. Di salah satu foto, Denny tengah dievakuasi menggunakan mobil. Kepalanya berdarah, juga lengan dan kaki kanannya.

Setahun berlalu, di depan penyintas serangan teroris yang berkumpul atas inisiasi Aliansi Indonesia Damai (Aida) di Gedung Dewan Pers di Jakarta, Denny perlahan-lahan menceritakan ulang kejadian yang dialaminya menjelang ledakan bom itu. Dia juga menuturkan, bagaimana dia berjuang memulihkan diri, lalu melepaskan diri dari rasa trauma. Dia merasa begitu terbantu oleh nasihat guru spiritualnya yang menenangkan.

Setahun lalu, dua ledakan di kedai kopi Starbucks dan pos polisi di Jalan MH Thamrin yang berjarak puluhan meter, yang diikuti tembakan, menyebabkan 7 orang tewas, terdiri dari 5 terduga teroris dan 2 warga sipil. Selain itu, 24 orang terluka.

Pada saat bom pertama meledak di Starbucks, John Hansen (34), karyawan swasta, tengah rapat dengan rekanan perusahaannya di gerai kopi itu. Ia menyatakan isi hatinya, selama setahun terakhir, dia memendam dendam, malu, dan takut. Ia kerap menyembunyikan identitasnya sebagai penyintas.

“Setelah bertemu dengan penyintas lain dan bertukar pikiran, saya menyadari untuk apa malu,” kata John, yang hingga kini pendengarannya terganggu akibat ledakan bom itu.

Penyintas ledakan bom di Hotel JW Marriott tahun 2003 dan penyintas ledakan bom di depan Kedubes Australia tahun 2004 juga membagikan pengalamannya menjalani kehidupan setelah teror itu terjadi. Saling tukar pengalaman dan menguatkan satu sama lain merupakan upaya penyintas terorisme ini untuk membantu rekannya.

Direktur AIDA Hasibullah Satrawi menuturkan, organisasi yang dipimpinnya berusaha membantu penyintas bangkit melalui pendampingan penyembuhan ataupun konseling. Selain itu, penyintas diajak “berdamai” dengan rasa dendam. Bagi penyintas yang sudah “siap”, Aida memfasilitasi pertemuan penyintas dengan mantan teroris.

Aida bersama penyintas terorisme berharap pemerintah memasukkan klausul kompensasi ini dalam revisi UU Pemberantasan Terorisme. (GAL)[SWD]

*Artikel ini pernah dimuat di harian Kompas edisi 15 Januari 2017, di halaman 15 dengan judul “Penyintas Setahun Setelah Bom Thamrin”.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...