HomeBeritaKondisi Korban Bom Membaik

Kondisi Korban Bom Membaik

KONDISI tiga balita yang menjadi korban bom molotov di depan Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, membaik.

Mereka ialah Anita Kristabel Sihotang, 2, Alvaro Aurelius Tristan Sinaga, 4, dan Triniti Hutahaean, 4.

“Alvaro menjalani operasi pembersihan luka pada Selasa (15/11) malam dan Anita dioperasi tadi pagi (kemarin),” tutur Kepala Hubungan Masyarakat RSUD AW Syahranie Samarinda M Febian Satrio di Samarinda, kemarin.

Kondisi kedua balita yang mengalami luka bakar 15% tersebut, jelas Febian, terus membaik tetapi tetap dalam penanganan tim medis dari RSUD AW Syahranie.

Triniti yang menderita luka bakar hingga 50%, jelas dia, masih dalam kondisi kritis.

“Kondisinya masih kategori kritis walaupun secara perlahan membaik. Kami berharap Triniti bisa terus membaik sehingga ia bisa pulih,” jelas Febian.

Direktur RS AW Sjahranie Rachim Dinata mengatakan kondisi Triniti sudah membaik bila melihat luka bakar mencapai 50% di tubuhnya.

Hal itu antara lain terlihat dari perbaikan kondisi pernapasan Triniti.

“Itu dibuktikan dengan dia sudah bisa menangis. Sebelumnya, dia kesulitan untuk mengeluarkan suara ketika menangis,” kata Rachim.

Mereka bertiga dan Intan Olivia Marbun, 2, ialah korban ledakan bom molotov di halaman Gereja Oikumene, Samarinda, Minggu (13/11).

Pada Senin (14/11), Intan Olivia meninggal dunia setelah dirawat akibat luka bakar yang mencapai 75%.

Sementara itu, Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror memeriksa sebuah masjid yang menjadi tempat tinggal pelempar bom molotov Juhandi alias Joh, 32.

“Masih terus diselidiki. Pemeriksaan terhadap saksi. Pencarian barang bukti di tempat tinggal pelaku,” kata Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Fajar Setiawan.

Secara terpisah, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir menyesalkan aksi pelemparan bom molotov itu.

Menurut dia, pelaku pelemparan bom memiliki motif untuk memunculkan kecurigaan antarumat beragama.

Karena itu, dia meminta seluruh anak bangsa untuk menumbuhkan rasa saling percaya yang sedang luruh karena kepentingan politik, ekonomi, dan budaya.

“Mari kita mobilisasi budaya untuk saling percaya,” kata dia. (SY/AT/LD/Ant/N-1) [SWD]

Artikel ini pernah dimuat di harian Media Indonesia, edisi Kamis 17 November 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula. Pada 14 Januari 2016, Agus...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.” Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu. Dalam...

Pentingnya Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Berdamai dengan diri sendiri merupakan hal yang sangat penting karena apabila tidak bisa berdamai dengan diri sendiri maka tidak akan bisa berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan. Pernyataan tersebut disampaikan penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama...

Substansiasi Hijrah

Abd Rohim Ghazali, Senior Fellow Maarif Institute Artikel ini berasal dari mediaindonesia.com yang terbit pada 19 Juni 2026 MUHARAM kembali hadir. Seperti biasa, media sosial pun dipenuhi narasi tentang meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik. Komunitas-komunitas keagamaan mengajak masyarakat memperbarui komitmen spiritual mereka. Fenomena itu tentu menggembirakan. Itu...

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun Ni Luh Erniati, penyintas bom Bali 2002, tidak ingin membalas dendam kepada pelaku/mantan pelaku terorisme. Ia pun tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam...

Dukungan Sesama Korban Membantu Kebangkitan

Aliansi Indonesia Damai- Tasdik Saputra, penyintas Bom Kampung Melayu 2017, mengaku dukungan dari sesama korban terorisme sangat besar pengaruhnya bagi proses kebangkitan dirinya. Menurut dia dukungan sesama korban telah menguatkan dirinya untuk tidak terus larut dalam trauma, mampu bangkit dari keterpurukan, bahkan bisa memaafkan mantan pelaku terorisme. “Awalnya...

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Juni 2026 Dalam perkembangan dunia pendidikan sekarang, pelajar yang berprestasi bukan hanya pelajar yang tinggi nilai akademiknya. Pelajar yang punya catatan juara juga layak disebut pelajar berprestasi. Catatan juara ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....