HomeBeritaMemetik Ibrah Dari Kehidupan...

Memetik Ibrah Dari Kehidupan Teroris dan Korbannya

Akhir pekan lalu di Jakarta Aliansi Indonesia Damai (AIDA) meluncurkan buku “La Tay’as/Jangan Putus Asa: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya”. Buku tersebut karya Hasibullah Satrawi, cendekiawan muda alumnus Universitas Al-Azhar Kairo yang sekaligus adalah Direktur AIDA.

Buku tersebut merupakan buah pikiran dan pengalaman penulis selama lima tahun terakhir bersama AIDA mendampingi dan membantu para korban terorisme, termasuk memfasilitasi mereka yang telah siap untuk berekonsiliasi dengan mantan pelaku terorisme yang telah bertaubat.

Melalui karyanya Hasibullah mengajak semua elemen masyarakat untuk mengambil pelajaran berharga (ibrah) dari interaksi kehidupan mantan teroris dan para korban aksi teror di Indonesia. Kisah korban dan mantan pelaku menurutnya mengandung ibrah yang wajib diteladani masyarakat, terutama di tengah kondisi di mana provokasi kebencian menyebar secara liar di mana-mana. Banyak nilai positif yang bisa diambil sebagai ibrah dari kisah korban dan mantan pelaku, di antaranya nilai pemaafan, ketangguhan, semangat optimisme menghadapi tantangan hidup, serta pertaubatan.

Pembina AIDA, Farha Ciciek Assegaf, memberikan sambutan dalam acara tersebut. Dia memulai dengan berterima kasih kepada segenap hadirin. Menurutnya setiap manusia adalah guru kehidupan yang dapat memberikan pelajaran atau ibrah. Secara khusus dia menilai mantan teroris dan para penyintas yang sudah saling memaafkan dapat menjadi contoh wujud nyata bentuk perdamaian yang bisa diteladani seluruh bangsa.

Farha Ciciek didampingi guru besar UIN Jakarta, Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE, menyingkap kain penutup lalu sesaat kemudian tampilan halaman cover buku La Tay’as muncul. Seremonial simbolik tersebut sekaligus menandai peluncuran buku secara resmi. Peluncuran buku di atas panggung disaksikan langsung oleh Sucipto Hari Wibowo, Ketua Yayasan Penyintas Indonesia (YPI), Mohammad Bakir, Redaktur Pelaksana Harian Kompas, Ali Fauzi, mantan pelaku terorisme yang juga Ketua Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP), dan Hasibullah Satrawi, penulis buku.

Sejumlah tokoh mendapatkan penganugerahan buku dalam acara tersebut. Di antaranya adalah para korban dan mantan pelaku terorisme yang kisahnya menjadi inspirasi penulisan, perwakilan dari Kantor Staf Presiden, Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham, Direktorat Pembinaan SMA Kemendikbud, dan perwakilan media massa.

Usai peluncuran, diskusi bedah buku yang dimoderatori oleh Mohammad Bakir dimulai. Sebelum berkata-kata, Bakir menahan isak tangis karena merasa haru kepada para penyintas yang dengan lapang dada memaafkan mantan pelaku. Bakir tak kuasa memberikan pembukaan yang lebih panjang dan langsung menyerahkan waktunya kepada narasumber pertama, Ni Luh Erniati, penyintas Bom Bali 2002.

Secara singkat Erni menceritakan pengalamannya setelah suami tercinta meninggal dunia menjadi korban bom. Dilanjutkan dengan penuturan kisah Ali Fauzi, mantan anggota Jamaah Islamiyah, adik dari trio pelaku Bom Bali 2002 yang telah diadili. Setelah meninggalkan dunia kekerasan saat ini Ali Fauzi mendirikan Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP), perkumpulan mantan teroris/kombatan yang bergerak untuk mengampanyekan perdamaian. Narasumber lainnya, Prof. Azyumardi Azra, membahas buku La Tay’as dari sisi intelektual akademis secara umum. Guru Besar UIN Jakarta ini menekankan agar pemerintah memperhatikan nasib para penyintas dan mantan pelaku terorisme.

Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris & Korbannya berkisah tentang liku-liku proses kehidupan beberapa bekas teroris yang saat ini sudah berubah haluan pada jalan perdamaian serta interaksi mereka dengan para korban aksi teror. Penulis mengatakan, poin penting dalam buku ini adalah penekanan bahwa masyarakat penting memetik ibrah atau pembelajaran berharga dari kisah korban dan mantan teroris. Para penyintas adalah contoh konkret dari sifat lapang dada, penerimaan takdir, welas asih, dan pemaafan. Mantan teroris adalah wujud nyata dari bentuk pertobatan. [AM]

launching dan bedah buku
(Dok. AIDA) Farha Ciciek Assegaf, Pembina AIDA, didampingi guru besar UIN Jakarta, Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE, dan disaksikan oleh Ketua Yayasan Penyintas Indonesia, Perwakilan Media, dan penulis buku, saat menyingkap kain penutup halaman cover buku La Tay’as di Jakarta, Sabtu, 24 Februari 2018.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...