HomeBeritaJangan Ada Lagi Korban

Jangan Ada Lagi Korban

Penyintas Bom JW Marriott 2003, Nagiyah (kiri) dan penyintas Bom Kuningan 2004, Christian Salomo (kanan) berbagi kisah dalam Short Course Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media di Surakarta, Senin (19/9/2016). Doc. AIDA

 

Suara Nagiyah (42) bergetar. Matanya berkaca-kaca. Ledakan bom di Hotel JW Marriott Jakarta pada 2003 kembali terlintas dalam ingatannya. Suaminya, Harna (37), meninggal dalam peristiwa itu.

Meskipun sudah 13 tahun berlalu, Nagiyah tak bisa melupakan tragedi itu. Saat itu, ia tahu ada ledakan bom di JW Marriott dari tayangan televisi. Ia tidak menduga suaminya yang bekerja sebagai sopir taksi menjadi korban, sampai akhirnya pihak perusahaan tempat suaminya bekerja memberi kabar duka itu.

“Saat itu anak-anak masih kecil, anak pertama (Nisa) berumur 6 tahun, anak kedua (Dini) 5 tahun, dan anak bungsu Fakhri) 1,5 tahun. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana kehidupan kami selanjutnya,” kata Nagiyah dalam acara yang diadakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Solo, Jawa Tengah, Senin-Selasa (19-20/9).

Christian Salomo, salah satu korban ledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta, juga masih mengingat peristiwa mengerikan yang menimpanya pada tahun 2004. Akibat ledakan bom itu, ia terluka parah. Tubuhnya mendapat 600 jahitan. Bahkan, hingga sekarang, masih ada pecahan logam tertinggal di dalam kepalanya. “Saya beruntung bisa selamat,” ujarnya.

Seiring waktu berputar, Nagiyah dan Christian telah kembali bangkit. Mereka yang semula sangat marah kepada para pelaku kini bahkan mampu memaafkan. Bersama para korban bom lainnya, mereka bergabung dalam tim perdamaian AIDA. Direktur Eksekutif AIDA Hasibullah Satrawi menyatakan, ada 21 korban dan 2 mantan kombatan atau pelaku teror bergabung dalam tim kampanye perdamaian AIDA.

Turut bergabung dalam tim, mantan kombatan Ali Fauzi Manzi. Ia adalah alumnus akademi militer Front Pembebasan Islam Moro (MILF) tahun 2004, juga adik Ali Imron dan Amrozi yang dihukum mati karena kasus bom Bali tahun 2002. “Kami mengajak mereka mengampanyekan perdamaian agar jangan ada lagi teror dan korban yang jatuh,” ujar Hasibullah.

Menurut dia, korban adalah pihak yang merasakan langsung dampak mengerikan terorisme. Ibaratnya, hanya orang yang minum jamu yang tahu pahitnya jamu. Para mantan pelaku teror juga dirangkul untuk menyebarkan pesan perdamaian dan deradikalisasi.

“Kalau sudah korban yang menyampaikan perdamaian, itu dari hati. Ketika mereka menyampaikan pesan-pesan perdamaian masyarakat akan langsung setuju,” katanya.

Sayangnya, pemerintah kurang memberdayakan korban untuk hal ini. Persoalan lainnya, perhatian negara kepada korban terorisme juga lemah. Mereka kerap harus berjuang sendirian melanjutkan kehidupannya. Bantuan justru lebih banyak datang dari swasta bahkan negara lain.

Christian, misalnya, mengaku justru banyak mendapat bantuan untuk pengobatan dari Pemerintah Australia. Nagiyah juga mampu melanjutkan kehidupannya bersama anak-anak dari sumbangan berbagai pihak. Kondisi itu, menurut Hasibullah, terjadi karena lemahnya regulasi terkait hak korban.

Masih mengancam

Saat ini, menurut Ali Fauzi, ancaman teror tetap tinggi meskipun secara kualitas menurun. Regenerasi pelaku terus berjalan melalui penyebaran paham radikal. “Yang direkrut dari kelompok umur 15-25 tahun. Mereka direkrut lewat dunia pendidikan. Ada sebagian lembaga pendidikan yang dijadikan ajang perekrutan. Perekrutan itu juga dilakukan lewat pengajian rahasia,” katanya.

Perekrutan juga memanfaatkan media sosial. Anak-anak muda yang memiliki pemikiran radikal lebih mudah dipengaruhi untuk direkrut. Mereka dilatih kemampuan dasar militer di pegunungan-pegunungan di pedalaman dalam waktu beberapa minggu.

Metode pelatihan sekarang berbeda dengan yang dijalani kelompok radikal pada era tahun 2000-2009. Ali mengatakan, pada periode 2000-2009 pelatihan dijalani di kamp-kamp MILF di Filipina atau di Afganistan. Dari pelatihan-pelatihan itu, akhirnya memiliki kemampuan matang hingga mampu merakit bom seberat 350 kilogram hingga lebih dari 1ton yang bisa menewaskan banyak korban. Kemampuan itu kini tidak dimiliki para pelaku yang melancarkan teror kurun 2009- 2016. Meski begitu, ancaman terorisme tetap harus diwaspadai.

Kala teror masih mengancam, para korban kian gigih menyemai benih-benih perdamaian kepada masyarakat.

“Agar apa saya alami tidak menimpa korban lain,” kata Sudarsono, anggota tim perdamaian AIDA yang juga korban bom di Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada 2004. (RWN)

 

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 September 2016, di halaman 3 dengan judul “Jangan Ada Lagi Korban”.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....