HomeBeritaJadi Tangguh dan Damai...

Jadi Tangguh dan Damai Bersama Tim Perdamaian

Dok. AIDA – Suasana diskusi kelompok dalam Seminar Kampanye Perdamaian “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 8 Bandung (10/8/2017).

Seorang guru tampak sibuk mengumpulkan anak didiknya untuk mengikuti Seminar Kampanye Perdamaian di Sekolah dengan tema ‘Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh’. Wakil Kepala Sekolah SMAN 8 Bandung ini antusias memberikan dispensasi bagi siswa-siswi untuk sejenak meninggalkan pelajaran di kelas agar mengikuti seminar.

“Di ruangan ini juga anak-anak akan belajar tapi dengan konsep lain, yakni belajar dari kisah atau pengalaman hidup Tim Perdamaian,” ujarnya saat memberikan sambutan.

Seminar yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) dan didukung Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu bertujuan untuk menanamkan semangat cinta perdamaian dan mencegah tindak kekerasan di kalangan pelajar. AIDA menghadirkan Tim Perdamaian, yang terdiri atas korban dan mantan pelaku terorisme yang telah berekonsiliasi, untuk berbagi pengalaman dan kiat menjadi generasi tangguh. Selain di SMAN 8 Bandung, kegiatan ini juga digelar di SMAN 3 Bandung, SMAN 1 Ngamprah, dan SMAN 1 Dayeuhkolot pada awal Agustus lalu.

Di hadapan puluhan siswa di tiap sekolah Tim Perdamaian dari unsur mantan pelaku, Ali Fauzi, berbagi pengalaman hidupnya. Dia pernah bergabung dengan kelompok teroris sebelum memutuskan untuk keluar. Ketika berpendirian untuk meninggalkan dunia kekerasan dia mengaku kerap menerima teror dan ujaran kebencian dari anggota kelompok tersebut.

“Di akun media sosial saya ada banyak teror dan ujaran kebencian tapi itu semua tidak menyurutkan semangat saya untuk terus melakukan kampanye damai. Saya juga tidak ada niatan sama sekali untuk kembali ke masa lalu atau bergabung lagi dengan kelompok prokekerasan,” kata dia.

Ali menambahkan keputusannya keluar dari jaringan terorisme semakin menguat setelah dirinya bertemu dengan korban terorisme. Kesaksian para korban mengalami penderitaan luar biasa akibat ledakan bom semakin menyadarkannya bahwa aksi teror tidak dapat dibenarkan. Dalam Seminar, pria asal Lamongan ini meminta maaf kepada para korban karena pernah terlibat dengan kelompok teroris.

“Kehadiran Tim Perdamaian di sekolah-sekolah untuk mengajak generasi muda tidak memiliki niatan bergabung dengan kelompok teroris. Melalui kisah ini saya harap anak-anak muda bisa menjadi duta damai di sekolah dan lingkungan masing-masing,” dia berpesan.

Tim Perdamaian dari unsur korban yang hadir dalam Seminar adalah Albert Christiono, penyintas Bom Kuningan 2004, dan Vivi Normasari, penyintas Bom JW Marriott 2003. Pada kesempatan Seminar yang berlangsung di SMAN 1 Ngamprah dan SMAN 3 Bandung, Albert menceritakan dampak ledakan bom yang menimpa dirinya tiga belas tahun silam. Dia mengalami luka serius di kepala karena tertancap serpihan logam akibat ledakan. Darah juga mengucur dari beberapa luka sobek di badannya.

“Pada hari kejadian, saya sedang libur kuliah. Saya diminta Bapak untuk mengambil dokumen ekspedisi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan menggunakan transportasi umum. Saat bus kota yang saya naiki melintas di Halte Kampus Perbanas atau seberang Kedubes Australia, tiba-tiba sebuah mobil boks meledak hebat,” ujarnya mengenang peristiwa.

Sementara itu, Vivi menceritakan derita yang dialaminya saat terkena ledakan bom di Hotel JW Marriott Jakarta pada 5 Agustus 2003.  Waktu itu dia sedang mengantre untuk makan siang di Restoran Syailendra yang ada di Hotel JW Marriott. Vivi terguncang ledakan bom yang disertai semburan api sangat besar.

Dia mengalami luka di sejumlah bagian tubuh hingga mengalami cacat permanen. Jari jemari tangannya mengalami fraktur sehingga tidak bisa lagi difungsikan secara normal. Kondisi tersebut sempat membuatnya terpuruk dan kehilangan kepercayaan dirinya.

Albert dan Vivi telah melewati masa-masa kesedihan. Meskipun menderita akibat aksi teror mereka telah memaafkan dan mengaku tak memiliki dendam terhadap mantan pelaku. Mereka telah berekonsiliasi dengan mantan pelaku dan bersatu menjadi Tim Perdamaian untuk mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat.

Seminar Kampanye Perdamaian mendapatkan respons positif dari peserta dan pihak sekolah. Salah seorang peserta di SMAN 8 Bandung mengatakan bahwa kegiatan ini sangat penting bagi kalangan remaja karena dapat menanamkan kembali semangat kebangsaan dan perdamaian yang belakangan ini tengah diuji berbagai tantangan.

“Remaja sekarang banyak yang keluar track dan melalui seminar ini kita diarahkan kembali ke track yang lurus untuk mencintai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia-red). Kita harus menjadi agen perubahan dan satu kontribusi dari kita untuk perubahan yang besar di masa depan,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu Wakil Kepala Sekolah SMAN 3 Bandung menilai Seminar dapat memperkuat pembentukan karakter anak didik agar tidak terjerumus dalam kelompok ekstrem yang belakangan ini gerakannya kian masif.

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, mengharapkan agar peserta Seminar menyerap pembelajaran yang didapatkan dari Tim Perdamaian. Setelah mendengarkan kisah korban dan mantan pelaku terorisme, diharapkan peserta memiliki kesadaran diri untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan dan tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan. “Itulah makna ketangguhan. Seorang yang tangguh itu bukan yang tidak pernah salah melainkan seorang yang berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya,” kata dia. [AS]

 

 

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi XIV Oktober 2017.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...