HomeBeritaMahasiswa YARSI Bedah Film...

Mahasiswa YARSI Bedah Film ‘Tangguh’

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Sebanyak 49 mahasiswa pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Yarsi Jakarta mengikuti Diskusi dan Bedah Film ‘Tangguh’ di Café Jimbaran Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (15/12/2018). Kegiatan dilaksanakan oleh BEM Universitas Yarsi dengan dukungan Aliansi Indonesia Damai (AIDA). ‘Tangguh’ adalah karya dokumenter AIDA yang menggambarkan kehidupan penyintas dan mantan pelaku aksi terorisme. Melalui film ini diharapkan masyarakat bisa meneladani ketangguhan korban dan mantan pelaku melampaui berbagai tantangan kehidupan.

Film ‘Tangguh’ diawali dengan pengakuan khilaf dan pernyataan maaf dari pelaku peledakan Bom Bali I, Ali Imron. Terpidana seumur hidup kasus bom di Legian, Bali pada 12 Oktober 2002 itu meminta maaf kepada para korban aksi terorisme, khususnya korban Bom Bali, atas perbuatannya di masa lalu yang telah menimbulkan penderitaan bagi korban dan keluarganya.

Para korban langsung, yang terkena dampak ledakan bom, mengalami cacat permanen dan harus mengkonsumsi obat hingga jangka waktu yang tak dapat ditentukan. Sementara itu, bagi para korban tidak langsung, yaitu keluarga yang ditinggalkan, kehilangan orang terkasih menimbulkan penderitaan yang berkepanjangan, terlebih bila korban yang tiada ialah tulang punggung keluarga.

Sejumlah mahasiswa terlihat mengernyitkan dahi saat beberapa adegan film menayangkan dampak fisik yang dialami korban. Beberapa kali isak tangis juga terdengar dari mahasiswa yang khusyuk menyaksikan film.

Di balik segala penderitaan itu, dalam film ditekankan bahwa para korban tidak menyimpan kebencian terhadap pelaku. Mereka memilih untuk memaafkan. Salah satu pemeran dalam film, Sudirman A. Talib, korban Bom Kuningan 2004, menyatakan bahwa dengan memaafkan hidup terasa lebih ringan, tidak ada yang memberatkan di dalam hati.

‘Tangguh’ juga menggambarkan pengalaman tiga orang yang pernah bergabung dengan organisasi teroris dan terlibat dalam konflik kekerasan di sejumlah tempat di Indonesia pada awal Reformasi. Mereka mengakui bahwa keyakinan dan aktivitas mereka di masa lalu adalah suatu kesalahan besar. Mereka pun meminta maaf kepada korban, serta berharap agar masyarakat mewaspadai paham dan ajaran keagamaan yang menyimpang, yang pernah mereka ikuti.

Mahasiswa YARSI Bedah Film ‘Tangguh’
Mahasiswa YARSI Bedah Film ‘Tangguh’. Photo: Dok. AIDA

 

Usai pemutaran film berdurasi 30 menit itu para mahasiswa berdiskusi. Beberapa pertanyaan muncul dari peserta, di antaranya tentang korban dan semangat hidupnya untuk bangkit dari musibah. Ada juga yang bertanya seputar liku-liku kehidupan mantan pelaku.

Seorang peserta menyampaikan apresiasi kepada AIDA yang memproduksi film ‘Tangguh’. Melalui film ini, kata dia, masyarakat secara umum, khususnya generasi muda, diingatkan agar selalu menjaga perdamaian serta mewaspadai penyebaran paham-paham yang melegalkan kekerasan, seperti terorisme.

Diskusi dan Bedah Film ‘Tangguh’ yang diikuti mahasiswa Universitas YARSI merupakan kegiatan perdana dari rangkaian kampanye perdamaian AIDA di kampus. Setelah kegiatan ini akan menyusul empat kali Diskusi dan Bedah Film ‘Tangguh’ di empat kampus perguruan tinggi di Jakarta dan Bekasi. [LA, F, AH]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...