HomeInspirasiSuara Mantan PelakuDulu Kombatan, Kini Pendidik

Dulu Kombatan, Kini Pendidik

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Iswanto, eks anggota jaringan teroris mengisahkan bagaimana ia keluar dari jalan kekerasan yang dilaluinya pada masa lalu. Baginya, jalan kekerasan tidak sesuai dengan hati nurani dan ajaran Islam, karena Islam sesungguhnya mengajak untuk menebar kasih sayang, bukan kekerasan. Kisah itu ia sampaikan saat berbagi pengalaman dalam kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di SMAN 1 Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Lampung November 2018 lalu.

Ia berharap dari kisahnya, para pelajar di SMAN 1 Gadingrejo dapat mengambil pelajaran berharga (ibrah) dari perjalanan hidupnya yang pernah berada di jalan kekerasan, kemudian memilih hijrah ke jalan perdamaian dengan menjadi seorang pendidik.

Selain menjadi anggota kelompok teroris, Iswanto sendiri pernah terlibat konflik kekerasan bersenjata di Maluku dan Sulawesi Tengah. Setelah berkecimpung dengan kelompok kekerasan, ia melihat bahwa jalan perjuangan yang ditempuhnya saat itu tidak sesuai bahkan bertentangan dengan prinsip agama dan kemanusiaan.

Tidak ada manusia yang tidak pernah bersalah. Namun, menyadari kesalahan masa lalu kemudian memperbaikinya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang istimewa. Iswanto mengakui di antara kekeliruan ideologi kelompoknya adalah memaknai ajaran jihad dengan arti yang sangat sempit, yaitu perang mengangkat senjata dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Paham teror yang pernah diajarkan kelompoknya telah menghilangkan nyawa banyak manusia. Aksi-aksi yang dilancarkan kelompoknya juga menyebabkan banyak pihak menjadi apatis terhadap ajaran Islam.

Seiring waktu nalar kritisnya tumbuh. Ia melihat aksi-aksi kekerasan dengan dalih agama tidak memperbaiki keadaan tetapi justru melahirkan mudarat yang lebih banyak lagi. Kesadarannya diperkuat dengan nasihat dari gurunya untuk tidak melanjutkan gerakan kekerasan yang dibangun kelompoknya. Ia juga mengkaji ulang ajaran jihad dalam buku-buku rujukan yang muktabar. Ia pun menemukan bahwa sesungguhnya jihad tidak hanya sebatas perang. Menuntut ilmu yang bermanfaat ternyata juga merupakan bentuk jihad yang sangat dianjurkan.

Selepas dari aktivitas di dunia kekerasan Iswanto melanjutkan studinya di tingkat sarjana dan magister. Ia juga mengabdikan pengetahuan yang dimilikinya sebagai seorang guru. Dalam kegiatan di SMAN 1 Gadingrejo ia mengatakan, “Saya dulu berjuang dengan senjata, kini saya memilih jalan lain yang menurut saya lebih sesuai dengan hati nurani saya. Yaitu jihad dengan pena, dengan menulis.”

Ia menambahkan bahwa kesadarannya untuk keluar dari jalan kekerasan juga dilatari keyakinan bahwa ketidakadilan yang terjadi baik di dalam maupun luar negeri tidak bijak bila dibalas dengan menciptakan ketidakadilan baru. Karena, hal itu hanya akan membuat dendam menjadi abadi.

Iswanto mengaku semasa duduk di bangku sekolah ia sering absen dari upacara bendera dan sering membolos mata pelajaran kewarganegaraan. Sejak usia dini, ia didoktrin oleh kelompoknya untuk tidak suka dengan negara Indonesia. “Dulu saya tidak mau hormat pada bendera, tapi sekarang justru saya aktif memberikan pelajaran pendidikan kewarganegaraan untuk menunjukkan rasa cinta kepada Tanah Air, ” ujarnya.

Iswanto juga mengakui bahwa keputusannya meninggalkan dunia kekerasan juga didorong oleh faktor pertemuannya dengan korban terorisme. Dalam sebuah kegiatan AIDA di Lamongan pada 2015, ia dipertemukan dengan para korban. Ia menyaksikan sendiri bagaimana aksi teror bom menyebabkan luka yang amat menyakitkan terhadap diri korban. Aksi teror juga menimbulkan penderitaan berkepanjangan bagi keluarga yang ditinggalkan, istri menjadi janda, anak-anak menjadi yatim atau piatu. “Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri banyak korban yang tidak bersalah berjatuhan karena aksi terorisme,” ujarnya.

Pria kelahiran Lamongan ini mengakui pemahamannya tentang jihad pada masa lalu melenceng dari prinsip Islam yang sangat menjunjung tinggi nyawa manusia. Namun, kini ia telah bertobat dari dunia kekerasan. Ia menempuh kehidupan yang lebih baik, bahkan kini bersama AIDA dan para korban terorisme mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat.

Pengalaman Iswanto lepas dari jerat terorisme merupakan contoh baik sebentuk pertobatan dari jalan kekerasan menuju perdamaian. Dahulu ia bergelut dengan senjata untuk menciptakan ketakutan, namun kini ia berjuang dengan pena mendidik masyarakat agar mencintai perdamaian. [FS]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...