HomeOpiniKita Merdeka!

Kita Merdeka!

Dalam kenangan masa kecil saya, setiap 17 Agustus malam-pada panggung di tanah lapang-dipentaskan drama tiga babak.
Para pejuang yang bersenjata bambu runcing melawan tentara Belanda yang memegang senapan. Dicekam bunyi dentuman dari pelantang suara yang disetel maksimum dan cahaya merah berkedap-kedip, mata para penonton tak berkedip menyaksikan pasukan penjajah bergelimpangan di sela-sela batang pisang dan perdu. Mereka dihabisi oleh pasukan Republik yang selalu menang.
Fokus atas kenangan itu kini menajam pada satu hal: drama- drama Agustusan tiap tahun dulu tak dihiasi ornamen para tokoh berjubah agamis serta slogan bertendensi religius. Kami kenal Diponegoro yang bersorban, tapi sang pangeran tak pernah muncul di atas panggung dengan kudanya. Yang menyeruak di udara kampung hanya seruan “Merdeka atau mati!” dan “Sekali merdeka, tetap merdeka!”
Semua menonton, semua terhibur, dan semua bersatu dalam semangat pesta rakyat yang fitri. Entah dia Jawa atau Sunda, Batak atau Bugis, Bali atau Tionghoa. Dengan banyaknya pabrik tekstil dan lain-lain di kota saya, semua etnis ada bersama kami.
Anak-anak “pri dan nonpri” sama-sama ikut lomba balap karung, panjat pinang, makan kerupuk, dan lain-lain. Bahkan kala itu kami anak-anak tak memiliki kesadaran bahwa ada perbedaan etnis atau agama di antara kami yang membatasi pergaulan. Kami tidak pernah mendapat masukan tentang aspek semacam itu sebagai kejanggalan dari orangtua atau guru mengaji.
Kini tanah lapang itu telah lenyap. Rumah-rumah sudah padat. Panggung Hari Kemerdekaan tidak lagi punya tempat. Mungkin kita berpikir, yang penting semangatnya, tetapi diam-diam saya merasa kasihan pada anak-anak masa kini yang tak mengalami sensasi indah yang kami rasakan dulu ketika seusia mereka.
Zaman memang telah berubah. Anak-anak masa kini bahkan ada yang diajari oleh orangtua atau orang dewasa, entah siapa, perihal perbedaan ras dan agama. Pengetahuan yang disengaja tak bebas nilai, yang tidak dibarengi kematangan berpikir dan bersikap, adalah bom waktu yang dapat menghancurkan tatanan sosial. Secara historis, kita merdeka sejak 1945, tapi anak-anak masa kini malah dibelenggu dengan penjajahan berbagai demonstrasi yang mengerkah hati nurani mereka sejak dini. Hati suci mereka telah cemar oleh perkara-perkara dangkal.
Mari kita berterus terang. Di hati kita masing-masing boleh jadi tersembunyi setitik, mungkin kecil, atau teramat kecil, kebencian pada etnis ataupun agama lain. Kedengkian yang seakan-akan ingin mengimbangi kecemburuan pada yang lain atau kecintaan pada etnis dan agama kita secara berlebihan, atau sekadar demi solidaritas pada golongan tertentu yang kita cintai.
Pada orang yang nalar dan potensi kebijaksanaan di dalam jiwanya lemah, noktah kebencian dan kedengkian itu jadi benih yang bertunas. Setelah akarnya menghunjam dan batangnya kukuh kuat, zaqum (pohon duri neraka) yang tanpa manfaat itu pun memperbudak nalar dan membengkokkan tabiat.
Kemunafikan sosial
Nilai-nilai humanitas dan religius yang ditanamkan di rumah atau lingkungan pergaulan dan sekolah tidak selalu berhasil mengerangkeng bibit-bibit hitam itu di relung batin. Kapan saja kita lengah, ia muncul sewaktu-waktu bagai monster yang bikin kacau kehidupan pribadi dan lingkungan sekitar kita.
Daya rasionalisasi tidak selalu bisa diandalkan meski relatif ampuh memperteguh integritas sosial dan religius yang toleran. Celakanya, setiap hari ada rangsangan yang mengada-adakan berbagai dalih yang mengendurkan kewaspadaan dan melepaskan tali pada leher hewan buas di dalam diri kita sehingga bebas menerkam sasaran kebencian, tak peduli ada kesalahan atau tidak di pihak sana!
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi, lingkungan yang homogen berpotensi menciptakan pribadi yang tidak terlatih menerima perbedaan, kendati tidak selalu berperilaku intoleran atau radikal. Terutama pada pribadi-pribadi yang sejak kecil terbiasa hidup di lingkungan primordial yang tak dicampuri faktor sosial eksternal, sangat kecil kemungkinan untuk bisa keluar dari cangkang yang dirasakan melindungi mereka sejak masa kanak-kanak. Hal ini terjadi pula pada mereka yang mengenyam pendidikan tinggi di kota mereka sendiri.
Selama 72 tahun eksistensi NKRI, polarisasi pri-nonpri, kini ditambah segregasi agama, apa boleh buat, masih eksis dan rentan dijadikan bahan bakar konflik sosial demi kepentingan politik pihak tertentu yang mencampakkan komitmen kebangsaan. Dengan kecenderungan eksklusif yang ditumbuhkan oleh lingkungan alamiah yang homogen semenjak kecil hingga dewasa pada pribadi-pribadi tertentu, bahan bakar itu laksana daun dan ranting kering yang hanya menanti percikan api untuk menghanguskan ladang nan luas.
Dengan populernya frase yang dicetuskan Jokowi, “demokrasi kebablasan”, terbukti perkakas kehidupan sosial-politik yang bernama “demokrasi” kini bagaikan ular berbisa di tangan para pawang yang saling bersaing dengan daya hipnosis atau pesona mantra masing-masing. Ular itu tak lagi sekadar disuruh menari untuk menghibur penonton.
Peringatan Hari Kemerdekaan tahun ini perlu pemaknaan aktual perihal keberagaman ras dan agama dan pembongkaran kemunafikan sosial. Pola pikir picik dan sikap hidup bermuka dua, oportunisme orang dewasa mudah ditiru oleh anak-anak. Kalau kita abai pada realitas ini, itu artinya kita dengan sukarela mewariskan bangsa dan negara ini ke tangan generasi yang akan hidup dalam puak-puak yang saling menafikan satu sama lain, hingga jadi abu seluruhnya.
Mari kita yakinkan lagi diri kita dan generasi penerus bahwa kita merdeka! Sungguh-sungguh merdeka. Merdeka untuk menolak pengaruh pikiran picik dogmatis yang ingin membelenggu jiwa kita. Kita merdeka untuk hidup damai dalam keberagaman dan maju bersama. Kita yang maknanya mencakup Anda dan saya. Bukan kita dalam celoteh kaum ABG (anak baru gede) yang maksudnya kami, saya dan kelompok saya saja, tanpa Anda.
Artikel ini pernah dimuat di harian Kompas edisi 16 Agustus 2017.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun Ni Luh Erniati, penyintas bom Bali 2002, tidak ingin membalas dendam kepada pelaku/mantan pelaku terorisme. Ia pun tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam...

Dukungan Sesama Korban Membantu Kebangkitan

Aliansi Indonesia Damai- Tasdik Saputra, penyintas Bom Kampung Melayu 2017, mengaku dukungan dari sesama korban terorisme sangat besar pengaruhnya bagi proses kebangkitan dirinya. Menurut dia dukungan sesama korban telah menguatkan dirinya untuk tidak terus larut dalam trauma, mampu bangkit dari keterpurukan, bahkan bisa memaafkan mantan pelaku terorisme. “Awalnya...

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Juni 2026 Dalam perkembangan dunia pendidikan sekarang, pelajar yang berprestasi bukan hanya pelajar yang tinggi nilai akademiknya. Pelajar yang punya catatan juara juga layak disebut pelajar berprestasi. Catatan juara ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...