HomeBeritaKisah Korban Inspirasi Ketangguhan...

Kisah Korban Inspirasi Ketangguhan Siswa di Probolinggo

Aliansi Indonesia Damai- Akhir April 2019 lalu Aliansi Indonesia Damai (AIDA) menyelenggarakan acara Dialog Interaktif bertajuk Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh di SMKN 1 Probolinggo, Jawa Timur. Kegiatan bertujuan untuk menggenjot semangat para pelajar agar senantiasa menanamkan ketangguhan dalam menjalani kehidupan. Tak kurang dari 50 siswa di sekolah tersebut mengikuti kegiatan sejak awal hingga akhir.

Dialog Interaktif menghadirkan korban dan mantan pelaku terorisme untuk berbagi semangat ketangguhan kepada para peserta. Choirul Ihwan, mantan narapidana kasus terorisme, berkisah tentang pengalamannya bergabung dengan organisasi teroris sebelum akhirnya sadar dan meninggalkan dunia kekerasan. Ia menceritakan bahwa sejak memutuskan bergabung dengan kelompok ekstrem hubungannya dengan keluarga menjadi renggang, bahkan hampir putus silaturahmi. Pada titik yang paling ekstrem, ia menganggap orang tua dan saudara-saudaranya kafir lantaran tidak sejalan dengan pemahaman keagamaannya. Sampai ibundanya jatuh sakit hingga meninggal dunia, Choirul pun tak sempat mendampingi.

Kejadian itu membuat Choirul terpukul. Ia menyesal dan merasa sangat berdosa kepada sang ibu. Dari titik itu secara perlahan ia menyadari sikap dan paham keagamaannya selama ini terlalu berlebihan. Ia pun mulai kritis terhadap doktrin agama yang diajarkan kelompoknya, kemudian secara perlahan meninggalkannya. Tekadnya menjauhi paham dan gerakan ekstrem semakin kukuh setelah mendapatkan kunjungan AIDA bersama korban terorisme saat ia masih menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan.

”Saya mendapatkan kunjungan dari Jakarta. Waktu itu Bapak Hasibullah Satrawi datang bersama salah satu korban bom Marriott yang mengalami luka bakar 60 persen. Beliau bercerita kepada saya bagaimana perjuangan beliau mengalami masa-masa kritis saat ledakan dan pascaledakan itu terjadi. Tidak lama baginya untuk bisa memaafkan kami semua, baik pelaku maupun pendukung bom bunuh diri, dan itu sempat membuat saya shock dan juga membuat saya menangis,” ujarnya.

Yuni Arsih, korban aksi teror Bom Kuningan 9 September 2004, juga berbagi kisah ketangguhan kepada para siswa peserta Dialog Interaktif di SMKN 1 Probolinggo. Tragedi itu merenggut nyawa suaminya, alm. Suryadi, yang saat kejadian sedang bekerja sebagai pengurus taman di kompleks Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Ia mengingat, pagi hari sebelum berangkat kerja tidak seperti biasa anaknya yang masih 5 tahun mendadak rewel, tidak mengizinkan sang ayah untuk pergi. “Anak saya yang biasanya selalu bersemangat ketika akan berangkat sekolah. Pada pagi itu 9 September 2004, entah kenapa ia menangis dan meminta ayahnya untuk tidak pergi bekerja,” kata dia.

Meskipun begitu, karena memiliki kewajiban untuk menafkahi keluarga, sang suami memutuskan untuk tetap berangkat bekerja, namun nahas, ia meninggal dunia menjadi korban serangan teror bom.

Tragedi Bom Kuningan membuat Yuni sangat sedih dan terpuruk. Namun demikian, ia harus tetap kuat demi menjaga dan membesarkan buah hatinya. Ia memilih untuk meredam amarah, dan memaafkan kesalahan orang-orang yang pernah terlibat terorisme. Saat dipertemukan dengan mantan pelaku terorisme dalam kegiatan AIDA, Yuni Arsih mengaku telah ikhlas memaafkan. Ia percaya, memaafkan dan tidak membalas kekerasan dengan kekerasan adalah pilihan terbaik dalam hidup.

Ia berpesan kepada para peserta Dialog Interaktif untuk senantiasa menjaga perdamaian, minimal di lingkungan masing-masing. “Setiap orang pasti memiliki masa lalu, harus bangkit dan menciptakan perdamaian. Terus semangat menjadi generasi tangguh dan berbaktilah kepada orang tua dan guru,” ujarnya.

Sejumlah siswa menyimpulkan pembelajaran yang telah mereka dapatkan dari kisah ketangguhan korban dan mantan pelaku. “Kita harus memilih teman yang baik, jika memang teman itu buruk bagi kita, kita harus kuat iman, dan mengajak teman itu ke jalan yang benar. Kemudian kita juga tidak boleh putus asa terhadap kejadian masa lalu yang menimpa kita, karena putus asa akan menjadikan suatu keburukan bagi kita di masa depan,” ujar salah satu peserta. [SWD]

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...