HomeBeritaAlim Ulama Harapan Perdamaian...

Alim Ulama Harapan Perdamaian Bangsa

Aliansi Indonesia Damai- Peran alim ulama diyakini mampu meredakan berbagai konflik yang terjadi di kalangan masyarakat. Tokoh agama diharapkan berkontribusi untuk mewujudkan perdamaian di Indonesia.

Harapan itu disampaikan sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo, saat memberikan pengantar dalam acara “Halaqah Alim Ulama: Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan di Surakarta, Sabtu (31/8).

Menurut Imam, tugas tokoh masyarakat adalah mendamaikan segala persoalan-persoalan bangsa yang berpotensi mengarah pada perpecahan. “Bagaimana kita menjadikan kehidupan ini lebih damai, masa depan lebih optimistis. Oleh karena itu, kita harus memutuskan langkah apa yang akan kita lakukan,” ujarnya.

Imam mengingatkan bahwa bangsa Indonesia pernah mengalami gejolak konflik komunal yang membuat kehidupan masyarakat tercerai-berai. Melihat perkembangan situasi keamanan mutakhir ini, di antaranya kasus kerusuhan di Papua, sosiolog berambut perak itu menilai jika perdamaian tidak segera ditegakkan maka potensi konflik akan terus mengancam persatuan bangsa. Karena itu, Imam meminta para tokoh masyarakat, termasuk tokoh agama, untuk terus berhati-hati mengantisipasi konflik horizontal.

Baca juga Mahfud MD Ajak Tokoh Agama Jaga Kedamaian

“Kita mengalami gejolak masa lalu luar biasa, dan alhamdulillah Tuhan masih ada kasih sayang kepada bangsa ini, sehingga Indonesia kembali damai. Tetapi hari ini, di Papua masih bergejolak, di Aceh mulai ada keinginan untuk mengibarkan bendera kemerdekaan. Ini akan terus menerus terjadi kalau kita tidak hati-hati, sedikit demi sedikit akan tergoncang dan mengikuti negara-negara lain yang konflik di Timur Tengah. Kita berdoa mudah-mudahan itu tidak terjadi di Indonesia,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, Imam juga menampilkan cuplikan video tentang kekerasan yang pernah terjadi dua puluh tahun lalu, yakni tahun 1998 di mana bangsa Indonesia dikoyak-koyak oleh sejumlah konflik etnik di berbagai daerah. Ia meyakini, melalui kesadaran bersama, terutama di kalangan tokoh agama, konflik itu tidak akan terjadi kembali, dan perdamaian akan tetap lestari. “Para alim ulama saya yakin memiliki kekuatan luar biasa untuk mempersatukan bangsa, dan menjadikan kita bangkit kembali,” ucapnya.

Kegiatan ini menurut Imam adalah pembelajaran (ibroh) dari masa lalu. Karena itu, AIDA menghadirkan mantan pelaku terorisme yang telah tersadarkan bahwa tindakannya keliru dan penyintas dari aksi terorisme. Melalui kisah-kisah mantan pelaku dan penyintas diharapkan tokoh agama mengambil pembelajaran berharga dari masa lalu. “Kita belajar dari kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu. AIDA hari ini memberikan kesempatan untuk berbagi cerita, kisah-kisah,” jelasnya.

Baca juga Dari Jalan Kekerasan, Menjadi Duta Perdamaian

Imam juga mengapresiasi kesediaan mantan pelaku dan korbannya untuk menyampaikan kisah-kisahnya. Pasalnya, menurut Imam tak mudah menemukan orang-orang seperti kedua belah pihak, yang bisa berdamai dengan masa lalunya, bahkan mau untuk mengampanyekan perdamaian Indonesia. “Jarang sekali orang seperti Kurnia Widodo (mantan narapidana kasus terorisme-red) mau menampilkan cerita, itu akan menjadi pelajaran yang luar biasa,” tandasnya.

Imam juga mengajak para tokoh agama untuk menyampaikan narasi-narasi perdamaian dan melakukan langkah nyata agar konflik-konflik dan kekerasan di masa lalu tidak terjadi kembali. Apalagi, setiap generasi memiliki tugas besar untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia yang sangat beragam penduduknya. “Oleh karena itu, tidak mungkin kita hanya sekadar berbicara, kita harus melakukan sesuatu, langkah nyata. Menjadikan ini sebagai gerakan. Apalagi negeri yang keragamannya luar biasa,” pungkasnya.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh penggagas Gerakan Suluh Kebangsaan, Prof. Dr. Mahfud MD sebagai keynote speaker. Selain Imam, beberapa tokoh juga dihadirkan sebagai narasumber, di antaranya KH. M. Dian Nafi, Wakil Rais Syuriah PW Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, Kurnia Widodo, Joshua Ramos (penyintas Bom Kuningan 2004), Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, dan dimoderatori oleh tokoh Muda Muhammadiyah, Zuly Qodir. [AH]

Baca juga Empati Tokoh Agama kepada Penyintas

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman...

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...