HomeBeritaEmpati Tokoh Agama kepada...

Empati Tokoh Agama kepada Penyintas

Aliansi Indonesia Damai- Aksi kekerasan terorisme telah menyebabkan banyak korban menderita. Para korban harus menanggung luka fisik, juga trauma psikis, atau cacat seumur hidup, bila masih beruntung tak terenggut nyawanya. Namun, musibah yang ada tak menyurutkan semangat hidup penyintas. Sebagian mereka justru bangkit dan berkontribusi bagi pembangunan perdamaian. Pengalaman hidup terorisme mengundang empati dari kalangan tokoh agama, salah satunya dari perwakilan Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Surakarta, Sri Jumtari Wiyono.

Hadir sebagai peserta “Halaqah Alim Ulama: Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibroh” yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan di Surakarta, Sabtu (31/8) lalu, Sri mengaku takjub akan ketangguhan korban terorisme. Ia tak kuasa menahan tangis saat menyimak kisah Josuwa Ramos, penyintas aksi teror Bom Kuningan.

Berbicara di hadapan ratusan tokoh agama, Josuwa menceritakan bagaimana tragedi bom di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada 9 September 2004 memecah kedamaian. Sebuah mobil boks bermuatan bom meledak hebat tepat di depan tempat kerjanya, Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia di Jl. HR Rasuna Said Kuningan. Berbagai serpihan benda asing menembus tubuhnya. Salah satu yang paling ia ingat, serpihan logam bersarang di antara lutut dan tulang kering kaki kirinya.

Baca juga Pesan Perdamaian untuk Generasi Muda Bangsa

Di samping luka fisik, pemikiran Josuwa juga terguncang. Pasalnya, saat tragedi Bom Kuningan terjadi, ia baru sekitar sebulan memutuskan untuk memeluk agama Islam. Waktu itu santer diberitakan bahwa jaringan pelaku terorisme di Indonesia adalah kelompok ekstremis muslim.

Kisah Josuwa menyadarkan Sri bahwa tokoh agama memegang peran penting untuk memberikan arahan yang baik bagi masyarakat. Para alim ulama dituntut untuk mampu menetralisir propaganda kelompok teroris yang hingga taraf tertentu mencoreng citra agama.

Dari itu, ia mengapresiasi AIDA yang sukses menyelenggarakan halaqah di kalangan ulama di Solo Raya dengan mengedepankan pendekatan ibroh (pelajaran berharga) dari kisah korban dan mantan pelaku terorisme. Sebelum mengikuti acara ini, ia mengaku tidak pernah megetahui nasib orang-orang yang menjadi korban dari aksi teror. Namun setelah mengikuti Halaqah Alim Ulama: Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibroh, ia merasa tercerahkan.

Ia mengajak para pendakwah untuk bekerja keras membentengi masyarakat dari pengaruh paham-paham kekerasan. “Kita harus tanggap dengan lingkungan kita, kita harus turun tangan,” kata Sri.

Baca juga Keluarga Berperan Penting dalam Menjaga Kedamaian

Menurutnya, narasi-narasi perdamaian dalam dakwah, seperti dengan mengulas kisah korban dan orang-orang yang telah bertobat dari dunia terorisme, harus dimasifkan. Sebab, ancaman penyebaran paham terorisme di masyarakat juga semakin meresahkan. Ia meyakini bahwa ibroh dari kisah korban bisa efektif meningkatkan kesadaran masyarakat agar mewaspadai ideologi kekerasan yang berbungkus agama.

Sebagai anggota ormas Islam dengan basis umat terbesar kedua di Tanah Air, Sri mengaku berkomitmen untuk menebarkan semangat perdamaian. Ia ingin membagi pengalamannya mengikuti Halaqah Alim Ulama kepada para jamaah, khususnya anggota PD Aisyiyah Kota Surakarta. “Saya akan berusaha bagaimana audiens yang akan saya dakwahi tidak menjadi teroris. Saya kan sering mengisi pengajian, pengalaman ini akan saya sampaikan kepada masyarakat sehingga tidak sinis melihat peristiwa terorisme,” jelasnya.

Sri juga mendukung dan mengharapkan agar AIDA mengembangkan acara Halaqah Alim Ulama lebih luas lagi. Menurutnya, ibroh dari kisah korban sangat baik bila disebarluaskan kepada masyarakat. “AIDA harus lebih aktif lagi ke depan, menyampaikan informasi yang baik kepada masyarakat, sehingga publik tahu bagaimana korbannya. AIDA harus dikembangkan terus,” ujarnya. [AH]

Baca juga Mahfud MD Ajak Tokoh Agama Jaga Kedamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....