HomeBeritaSerangan 9/11 Menyisakan Penyakit...

Serangan 9/11 Menyisakan Penyakit Kanker Bagi Korban

Hari ini, tepat delapan belas tahun yang lalu, merupakan momen yang kelam bagi warga Amerika Serikat. Serangan terorisme telah mengoyak kedamaian di negeri Paman Sam dan menyebabkan jatuhnya korban dalam jumlah besar. Laporan tim investigasi menyebutkan sekitar 3000 orang menjadi korban tewas, sementara sekitar 6000 lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa yang mencekam itu kemudian dikenal dengan serangan 9/11 (nine eleven).

Empat pesawat komersil Amerika Serikat, masing-masing American Airlines Penerbangan 11, United Airlines Penerbangan 175, American Airlines Penerbangan 77, dan United Airlines Penerbangan 93 dibajak oleh sekelompok teroris di waktu yang hampir bersamaan. Setelah dibajak, keempat pesawat yang mengangkut masyarakat sipil itu ditabrakkan ke empat target yang berbeda. 

Serangan pertama terjadi pada pukul 08.46 pagi. Pesawat American Airlines Penerbangan 11 diambil-alih oleh lima orang pembajak. Setelah berhasil melukai tiga penumpang, para pembajak memaksa masuk ke dalam kokpit, mengendalikan pesawat, lalu menabrak menara utara World Trade Center (WTC), New York City. Warga yang lalu lalang di sekitar kejadian menyaksikan langsung peristiwa tabrakan pesawat tersebut. 

Awalnya, banyak yang menduga tabrakan itu hanya kecelakaan. Namun hanya berselang beberapa menit kemudian, tepatnya pada pukul 09.03, peristiwa mencekam lainnya terjadi. Pesawat United Airlines Penerbangan 175 yang telah berhasil diambil-alih oleh lima pembajak lainnya menabrak menara selatan yang letaknya bersebelahan dengan menara utara. 

Tabrakan kedua ini bahkan sempat tersiarkan secara langsung oleh stasiun televisi, karena terjadi pada saat para kru TV sedang menyoroti dampak dari tabrakan pertama. Dari situlah publik mulai menyadari bahwa tabrakan pesawat tersebut merupakan aksi yang disengaja. Tak berselang lama, tersebar informasi tentang rekaan kronologi pembajakan pesawat dari dalam kabin. 

Pada pukul 9.37, warga Amerika kembali dikejutkan dengan tabrakan pesawat berikutnya. Pesawat American Airlines pernerbangan 77 ditabrakkan oleh para pembajak ke Gedung Pertahanan Amerika Serikat, Pentagon, di wilayah Virginia. 

Tidak berhenti sampai di situ. Di tengah kondisi yang semakin mencekam, pesawat terakhir yang berhasil dibajak yaitu United Airlines Penerbangan 93, jatuh di sebuah tanah kosong di wilayah Shanksville. Pesawat ini diduga jatuh sebelum mencapai target serangan karena para penumpang dan awak kabin mencoba melawan para pembajak. 

Dilansir dari pemberitaan AFP, Senin (9/9/2019), peristiwa serangan 11 September 2001, selain menyebabkan korban meninggal dan luka, juga menyebabkan puluhan ribu relawan yang memberikan pertolongan pertama pada korban dan  warga yang tinggal di sekitar menara kembar WTC tersebut terdiagnoisis penyakit kanker karena menghirup udara beracun setelah kejadian. 

Baca juga AS Perpanjang Kompensasi Korban 9/11

Akhir Juni 2019 ini, sekitar 21 ribu orang tercatat terkena dampak serangan – dua kali lipat dari jumlah yang tercatat pada Juni 2016. Dari angka tersebut, hampir 4.000 orang menderita kanker. Jenis terbanyak berupa kanker prostat, kanker payudara dan kanker kulit. 

Jelang peringatan 18 tahun Tragedi 11 September, otoritas kesehatan di AS terus menghitung jumlah warga yang terjangkit kanker atau penyakit parah lainnya akibat menghirup udara beracun yang menyelimuti Manhattan (salah satu kota bagian di New York) selama beberapa pekan setelah kejadian.

Dua dari total ribuan korban yang terdiagnosa mengidap kanker setelah dilakukan pemeriksaan oleh otoritas kesehatan bernama Jacquelin Febrillet dan Richard Fahrer.

Jacquelin Febrillet masih berusia 26 tahun pada 11 September 2001, ketika kelompok Al-Qaeda membajak dua pesawat komersial dan menabrak menara kembar WTC, dua blok dari tempatnya bekerja.

Selang 15 tahun, Febrillet yang merupakan ibu dari tiga anak terserang kanker metastasis. Penyebaran sel kanker tak terkendali dalam tubuh. Dokter memiliki dugaan kuat bahwa hirupan asap beracun saat tragedi terjadi merupakan penyebabnya.

“Saya berada di sana saat itu. Bertahun-tahun setelah Tragedi 11 September, saya masih bekerja di sana. Tak ada yang memperingatkan dampak kejadian tersebut di masa depan,” katanya kepada AFP, Senin (9/9/2019). Saat itu, ada itikad masif untuk memulihkan situasi secepat mungkin, ada semacam solidaritas untuk membuktikan AS mampu bangkit dari tragedi memilukan. Usia Febrillet sekarang 44 tahun, menjadi korban. 

“Kami bekerja seperti sediakala hanya selang beberapa hari. Tak dinyana, bertahun-tahun kemudian, orang-orang mulai sekarat,” ujar Febrillet, yang juga tinggal dekat Ground Zero, monumen peringatan di lokasi runtuhnya WTC.

Korban lain, Richard Fahrer memiliki pengalaman berbeda. Ia masih berusia 19 tahun dan tidak berada di lokasi kejadian pada 11 September. Fahrer bekerja reguler sebagai pengukur tanah antara 2001-2003 di Manhattan selatan, tempat runtuhnya menara kembar WTC. Sekitar 18 bulan silam, bapak muda yang sekarang berumur 37 tahun ini didiagnosa mengidap kanker agresif usus besar. Kanker jenis ini biasanya menyerang orang lebih tua. Tidak ada sejarah penyakit ini dalam keluarga Fahrer.

“Istri saya berkomentar, ‘Apakah teroris menjadi penyebab kamu terkena kanker?’ Saya tidak bisa memastikan 100 persen, tapi saya sadar seharusnya masyarakat dilarang memasuki daerah petaka selama waktu tertentu supaya terhindar dari kemungkinan menghirup udara beracun,” kata Fahrer.

Serangan 9/11 merupakan aksi terorisme terparah yang pernah terjadi dalam sejarah Amerika Serikat. Sampai saat ini, serangan 9/11 masih menjadi momok yang menakutkan bagi warga Amerika. Setiap tahunnya, warga Amerika berkumpul di beberapa tempat untuk mengenang dan mendoakan para korban. Mereka berharap kejadian serupa tidak akan pernah terulang kembali di masa yang akan datang. [FAH dan TH]

Baca juga PBB Peringati Hari Korban Terorisme Internasional

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...