HomeBeritaPenyintas Bom Bali: “Jaga...

Penyintas Bom Bali: “Jaga Perdamaian Indonesia”

Aliansi Indonesia Damai- Duka dan luka menyelimuti Indonesia 17 tahun yang lalu, yakni pada 12 Oktober 2002, ketika serangan bom dahsyat menewaskan ratusan orang di Pulau Dewata. Serangan bom menyasar kawasan padat wisatawan, Legian, di Kabupaten Badung, Bali. Tercatat 202 orang tewas dan 300 orang lainnya luka-luka.

Jemaah Islamiah (JI) adalah pihak yang bertanggungjawab atas serangan tersebut. Sementara Al Qaeda, organisasi teroris terbesar pada masa itu, memberikan pujian atas aksi pelaku. Dalam jurnal berjudul The Bali Bombings: Impact on Indonesia and Southeast Asia, disebutkan bahwa JI menarget Pulau Bali karena termasuk sasaran empuk di mana keamanan di sana cukup terbatas. Menurut kelompok teroris, kemungkinan kerusakan bagi umat Islam pun akan minim karena populasi Bali sebagian besar beragama Hindu.

Kini, setelah 17 tahun kejadian itu berlalu, duka dan luka korban masih ada. Tidak hanya luka fisik, tetapi juga luka psikis. Salah seorang korban tidak langsung, Ni Luh Erniati, harus kehilangan suaminya yang kala itu tengah bekerja di dekat pusat ledakan. Erni harus menjadi orang tua tunggal untuk kedua buah hatinya yang sudah beranjak dewasa.

Kehilangan seseorang yang begitu ia cintai, tentu saja melahirkan duka dan derita. Namun demikian, seiring berjalannya waktu, dengan proses penyembuhan yang baik, Erni menjadi lebih kuat dan bisa menerima kenyataan. Dalam rangka memeringati 17 tahun tragedi Bom Bali 1, Erni berharap agar para korban yang belum menerima hak-haknya dari Negara, bisa segera mendapatkannya.

Baca juga Memaafkan untuk Ketenangan Hati

“Kompensasi adalah hak kami dan diharapkan pergantiannya sesuai dengan besaran yang sudah diajukan oleh para penyintas,” ujarnya kepada AIDA melalui pesan singkat, empat hari lalu. Harapan Erni bukan tanpa alasan. Menurutnya, peristiwa pengeboman adalah kegagalan negara dalam melindungi keamanan. Para korban adalah pihak yang terdampak dari serangan yang sebenarnya ditujukan oleh para teroris kepada negara. Maka dari itu ganti rugi dari negara sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada korban, dalam bentuk memenuhi hak-haknya, merupakan keniscayaan.

Selain itu, ia berharap agar tidak ada lagi serangan bom di Indonesia. Ia mengaku telah berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan orang lain. Ia mengajak masyarakat agar bisa saling memaafkan, menjaga persaudaraan, serta saling mengasihi. Terutama, menurutnya, adalah bersama-sama menjaga perdamaian Indonesia.

“Ketika kita bisa memaafkan akan ada rasa nyaman dalam hati kita. Nyaman akan terasa damai. Dan, semestinya kita sama-sama menjaga perdamaian untuk semua,” katanya. [NOV]

Baca juga Mewujudkan Harapan Mendiang Suami

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...