Home Berita Penyintas Bom Bali: “Jaga Perdamaian Indonesia”
Berita - Pilihan Redaksi - 14/10/2019

Penyintas Bom Bali: “Jaga Perdamaian Indonesia”

Aliansi Indonesia Damai- Duka dan luka menyelimuti Indonesia 17 tahun yang lalu, yakni pada 12 Oktober 2002, ketika serangan bom dahsyat menewaskan ratusan orang di Pulau Dewata. Serangan bom menyasar kawasan padat wisatawan, Legian, di Kabupaten Badung, Bali. Tercatat 202 orang tewas dan 300 orang lainnya luka-luka.

Jemaah Islamiah (JI) adalah pihak yang bertanggungjawab atas serangan tersebut. Sementara Al Qaeda, organisasi teroris terbesar pada masa itu, memberikan pujian atas aksi pelaku. Dalam jurnal berjudul The Bali Bombings: Impact on Indonesia and Southeast Asia, disebutkan bahwa JI menarget Pulau Bali karena termasuk sasaran empuk di mana keamanan di sana cukup terbatas. Menurut kelompok teroris, kemungkinan kerusakan bagi umat Islam pun akan minim karena populasi Bali sebagian besar beragama Hindu.

Kini, setelah 17 tahun kejadian itu berlalu, duka dan luka korban masih ada. Tidak hanya luka fisik, tetapi juga luka psikis. Salah seorang korban tidak langsung, Ni Luh Erniati, harus kehilangan suaminya yang kala itu tengah bekerja di dekat pusat ledakan. Erni harus menjadi orang tua tunggal untuk kedua buah hatinya yang sudah beranjak dewasa.

Kehilangan seseorang yang begitu ia cintai, tentu saja melahirkan duka dan derita. Namun demikian, seiring berjalannya waktu, dengan proses penyembuhan yang baik, Erni menjadi lebih kuat dan bisa menerima kenyataan. Dalam rangka memeringati 17 tahun tragedi Bom Bali 1, Erni berharap agar para korban yang belum menerima hak-haknya dari Negara, bisa segera mendapatkannya.

Baca juga Memaafkan untuk Ketenangan Hati

“Kompensasi adalah hak kami dan diharapkan pergantiannya sesuai dengan besaran yang sudah diajukan oleh para penyintas,” ujarnya kepada AIDA melalui pesan singkat, empat hari lalu. Harapan Erni bukan tanpa alasan. Menurutnya, peristiwa pengeboman adalah kegagalan negara dalam melindungi keamanan. Para korban adalah pihak yang terdampak dari serangan yang sebenarnya ditujukan oleh para teroris kepada negara. Maka dari itu ganti rugi dari negara sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada korban, dalam bentuk memenuhi hak-haknya, merupakan keniscayaan.

Selain itu, ia berharap agar tidak ada lagi serangan bom di Indonesia. Ia mengaku telah berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan orang lain. Ia mengajak masyarakat agar bisa saling memaafkan, menjaga persaudaraan, serta saling mengasihi. Terutama, menurutnya, adalah bersama-sama menjaga perdamaian Indonesia.

“Ketika kita bisa memaafkan akan ada rasa nyaman dalam hati kita. Nyaman akan terasa damai. Dan, semestinya kita sama-sama menjaga perdamaian untuk semua,” katanya. [NOV]

Baca juga Mewujudkan Harapan Mendiang Suami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *