HomePilihan RedaksiBerhijrah ke Jalan Damai

Berhijrah ke Jalan Damai

Aliansi Indonesia Damai- Aksi kekerasan terorisme telah menimbulkan kerusakan nyata, terutama bagi para korban. Penderitaan yang dialami korban adalah bukti nyata betapa dampak aksi teror menghancurkan kehidupan. Kesaksian korban telah menyadarkan sebagian mantan pelaku tentang kekeliruan jalan perjuangan yang pernah ditempuh. Ibarat tetesan air yang mampu menembus kerasnya batu, kisah korban pun demikian, menginspirasi pelakunya untuk hijrah, dari jalan kekerasan menuju perdamaian.

Adalah Iswanto, mantan pelaku ekstremisme yang bertobat karena terinspirasi salah satunya dari ketangguhan korban. Sebelum pertobatannya terjadi, pada 1997 di usianya yang masih muda, 19 tahun, ia telah berbaiat untuk bergabung dengan kelompok Jemaah Islamiyah (JI), yang berafiliasi dengan Al-Qaeda. Selama berada dalam jaringan ekstremis, ia pernah terlibat dalam aksi kekerasan yang terjadi di Maluku dan Sulawesi.

Pemahaman Iswanto muda kala itu praktis sama dengan yang didoktrinkan oleh guru-gurunya, menganggap jihad sebagai perang mengangkat senjata melawan pihak-pihak yang dipersepsikan sebagai musuh Islam. Pemerintah Indonesia dikategorikan termasuk pihak yang harus dimusuhi lantaran dinilai tidak berdasar pada ajaran Islam. Salah satu cita-cita kelompoknya adalah mengubah Indonesia menjadi negara berbasis agama.

Baca juga Jalan Panjang Mantan Kombatan Menuju Perdamaian

Setelah teror Bom Bali 2002 terjadi hingga menewaskan ratusan jiwa, Iswanto mulai mempertanyakan doktrin kelompoknya. Meskipun ia tidak terlibat dalam aksi teror tersebut, namun ia menyadari para pelakunya ialah rekan-rekannya sesama anggota JI. Ia mengaku nuraninya berbisik, benarkah agama memperbolehkan aksi seperti itu, yang membunuh orang-orang awam, yang tak tahu-menahu urusan yang dipersoalkan kelompok teroris. Kegelisahan Iswanto makin memuncak ketika salah seorang guru yang dihormatinya, Ali Imron, menyuruhnya untuk menghentikan segala bentuk perjuangan dengan kekerasan.

Dalam perenungannya, Iswanto pun menyadari bahwa banyak korban dari aksi yang dilakukan kelompoknya adalah orang-orang yang tak bersalah, hanya sekadar lewat di dekat lokasi namun turut menjadi korban. Ia merasakan, faktor guru sangat memengaruhi dalam hidupnya. Dari guru ia direkrut  ke dalam kelompok kekerasan, namun dari guru pulalah ia bisa bertobat dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu, saya berjuang karena diperintahkan oleh guru, tetapi kini karena dorongan guru pula saya menyadari dampak kekerasan,” ujarnya di sebuah kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Indramayu.

Iswanto juga kemudian mengulas kembali pemahaman tentang jihad. Ia baca ulang buku-buku rujukan agama berbahasa Arab, kemudian ia menyadari bahwa makna jihad tidaklah terbatas pada aktivitas perang mengangkat senjata. Dengan tegas ia meyakini bahwa menimba ilmu dengan sungguh-sungguh semata-mata karena Allah, juga termasuk jihad. Setelah keluar dari jaringan kelompok kekerasan, ia memilih melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Saat ini ia berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah di Lamongan.

Baca juga Dulu Kombatan, Kini Pendidik

“Apa yang dahulu saya pelajari tentang jihad, ternyata tidak benar. Saya menyadari bahwa jihad tidak selalu berarti mengangkat senjata. Dahulu saya mengangkat senjata, sekarang saya memegang pulpen mengajarkan ilmu kepada anak-anak,” ujarnya.

Mengampanyekan Perdamaian

Tekad dan niat Iswanto untuk hijrah makin mantab ketika AIDA mempertemukannya dengan sejumlah korban terorisme. Ia menyimak kesaksian para korban saat mengalami berbagai penderitaan akibat aksi teror. Hal yang membuatnya takjub adalah kebesaran hati korban. Meskipun terluka atau kehilangan orang tercinta, mereka mampu untuk bangkit bahkan memaafkan orang yang pernah terlibat dengan dunia terorisme.

Iswanto membayangkan bagaimana jadinya bila kejadian teror mengenai diri atau keluarganya. Ia mengaku belum tentu bisa memaafkan seperti yang dilakukan para korban. Dari lubuk hati terdalam, ia meminta maaf kepada korban-korban terorisme di Indonesia.

Sebagai bentuk pertanggungjawabannya atas masa lalunya yang pernah bergabung dengan kelompok kekerasan, Iswanto kini berjuang untuk mengampanyekan perdamaian. Dalam berbagai kesempatan kegiatan AIDA, ia menegaskan bahwa cara-cara kekerasan tidak akan bisa menyelesaikan masalah. “Saya mendengarkan kisah korban yang terluka secara fisik dan psikis, serta banyak dari mereka yang merasakan dampak dari aksi setelah bertahun-tahun. Pesan saya jangan membalas kekerasan dengan kekerasan,” katanya.

Selain itu, demi kelestarian perdamaian, Iswanto terus berikhtiar mencerdaskan masyarakat dengan menjadi seorang guru. Sebagai seorang pendidik, ia berkomitmen untuk mencetak generasi muda yang mencintai perdamaian. [FS]

Baca juga Kisah Pertobatan Eks-Kombatan, Iswanto

Most Popular

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...