Inspirasi
Tradisi Dialog dan Perdamaian
Dialog berperan penting menjaga dinamika sosial, terutama untuk mencari jalan tengah seadil mungkin agar tidak ada pihak yang dirugikan. Perdamaian yang diimpikan akan terwujud bila kita mentradisikan dialog. Alih-alih kepada mereka yang belum tentu bersalah, dengan orang yang sudah divonis bersalah sekali pun dialog harus tetap dilakukan. Dialog wajib diprioritaskan…
Read More »Self-Healing untuk Penyembuhan Luka Batin
Setiap orang pasti pernah merasakan luka, entah fisik maupun batin. Luka fisik berupa penyakit yang menyerang organ tubuh manusia, bisa dilihat atau diraba. Sementara luka batin menyerang perasaan manusia. Berbeda dengan luka fisik, ia tidak terlihat dan tidak mengeluarkan darah, tetapi penderitaannya tidak kalah hebat dari cedera fisik. Tidak seperti…
Read More »Membangun Ketahanan Keluarga: Belajar dari Bom Surabaya
Rentetan ledakan bom menerjang Surabaya selama dua hari berturut pada 13-14 Mei 2018. Minggu pagi 13 Mei 2019, tiga gereja menjadi target serangan beruntun. Pada malam harinya, bom rakitan meledak di Rusunawa Wonocolo Sidoarjo. Selang sehari berikutnya, Markas Polrestabes menjadi sasaran serangan bom bunuh diri. Rangkaian peledakan tersebut masing-masing dilakukan…
Read More »Fathu Makkah dan Spirit Perdamaian
Sejatinya sejarah telah mengajarkan banyak hal kepada kita. Di sini penulis mencoba melihat salah satu fragmen historis dari kehidupan Nabi Muhammad Saw. Dalam sejarah Islam, salah satu momentum penting yang terjadi pada bulan Ramadan adalah fathu Makkah. Secara etimologis, fathu berarti pembebasan atau penaklukan. Dengan demikian, Fathu Makkah berarti pembebasan/penaklukan…
Read More »Mereka yang Menemukan Jalan Kembali (Bag. 3-Terakhir)
Dua nama berikut pernah memiliki gairah yang sangat menggebu-gebu untuk bisa terlibat dalam gerakan jihad di Timur Tengah. Tentu saja jihad dalam arti pertempuran fisik. Pasalnya, mereka menganggap bahwa umat muslim di beberapa negeri di Timur Tengah terzalimi oleh rezim kafir. Namun takdir berkata lain. Choirul Ikhwan harus berurusan dengan…
Read More »Mereka yang Menemukan Jalan Kembali (Bag. 2)
Ada banyak faktor yang mendorong pelaku ekstremisme kekerasan memutuskan meninggalkan kelompok dan pemahamannya yang lampau. Masing-masing individu juga memiliki alasan tersendiri. Namun dari nama-nama yang dirangkum redaksi, semuanya berkomitmen untuk menebarkan perdamaian kepada khalayak luas. Sumarno Sumarno alias Asadullah sempat diburu polisi lantaran dituding menyimpan amunisi dan persenjataan yang hendak…
Read More »Mereka yang Menemukan Jalan Kembali (Bag. 1)
Seandainya hamba-hamba Allah tidak ada yang berbuat dosa, tentulah Allah akan menciptakan makhluk lain yang berbuat dosa kemudian mengampuni mereka (HR. Al Hakim). Aliansi Indonesia Damai- Ekstremisme kekerasan telah membuahkan beragam tragedi kemanusiaan memilukan. Sejumlah pelakunya masih kukuh dengan keyakinan bahwa aksinya adalah “laku suci” yang diridai Tuhan kendati ribuan…
Read More »Belajar Perdamaian dari Islandia
Mari sejenak menengok Islandia, sebuah negara yang diberkati kekayaan alam berupa es dan gunung berapi. Terletak di barat laut Britania Raya, Islandia dinobatkan menjadi negara paling damai di dunia selama tiga belas tahun berturut-turut. Dikutip dari situs kumparan, 18/06/2019, predikat tersebut diberikan oleh Global Peace Index (GPI), proyek yang dirilis…
Read More »Rindu Ibu, Ekstremisme Luruh (Bag. 2-Terakhir)
Sebagai wujud tanggung jawab ideologis, Irul pernah mengumpulkan orang tua dan saudara-saudaranya di rumah. Ia menasehati mereka agar tidak terlibat dalam Pemilu sebab itu bentuk kesyirikan. Pandangan tersebut jelas ditolak oleh keluarganya. Penolakan tersebut membuatnya marah. Irul memutuskan berlepas diri dari keluarganya, mengafirkan mereka, dan meninggalkan rumah untuk bergabung sepenuhnya…
Read More »Rindu Ibu, Ekstremisme Luruh (Bag. 1)
Aliansi Indonesia Damai- Jenjang pendidikan menengah pertama dihabiskannya di pondok pesantren. Sembari belajar formal di Madrasah Tsanawiyah (setara SMP), ia juga mengaji kitab-kitab tradisional. Meski tak menemukan kenyamanan, ia bisa lulus dari pesantren setelah belajar tiga tahun. Orang tua menghendakinya agar melanjutkan pendidikan di tempat yang sama. Namun ia menentangnya.…
Read More »










