HomeInspirasiAspirasi DamaiTangguh Melawan COVID-19

Tangguh Melawan COVID-19

Sudah dua bulan lebih negeri kita dilanda pandemi Covid-19. Dalam rentang waktu tersebut, jumlah orang yang dinyatakan positif Covid-19 terus mengalami lonjakan setiap harinya. Persebarannya bukan hanya terjadi di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, tetapi menjangkau seluruh provinsi di Indonesia. Hingga sekarang belum ada tanda-tanda persebarannya menurun apalagi berhenti.

Melihat perkembangan kasus yang semakin mengkhawatirkan, Presiden Joko Widodo menetapkan pandemi Covid-19 sebagai bencana nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020. Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menerbitkan sejumlah protokol kesehatan penanganan Covid-19, di antaranya tentang isolasi, penanganan di wilayah perbatasan, area publik, transportasi umum hingga area institusi pendidikan. Semua kebijakan tersebut dibuat untuk menghentikan laju persebaran virus yang telah merenggut ratusan jiwa saudara kita.

Baca juga Solidaritas di Tengah Pandemi: Belajar dari Korban Terorisme

Kebijakan dan protokol yang ditetapkan pemerintah hendaknya dipatuhi oleh siapa pun tanpa terkecuali. Namun faktanya masih ada sebagian masyarakat yang tak menghiraukannya. Di sisi lain pemerintah juga tidak cukup tegas dan konsisten dalam implementasi lapangan dari kebijakan-kebijakan tersebut.

Permasalahan virus menular yang bisa mengakibatkan pada kematian bukan kali ini saja terjadi di negeri ini. Bangsa ini pernah menghadapi dan menangani wabah MERS dan SARS yang dampaknya tak kalah ganas dari Covid-19. Bahkan kita pun bisa menangani penyakit berbahaya lain seperti demam berdarah dan TBC. Hal ini mengindikasikan bahwa bangsa kita memiliki ketangguhan dalam menghadapi persoalan kesehatan.

Baca juga Membudayakan Perdamaian

Dalam konteks pandemi Covid-19, ketangguhan masyarakat tak hanya bisa ditunjukan melalui penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), melainkan juga dalam bentuk ketaatan terhadap peraturan dan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah maupun tenaga medis.

Kepatuhan menjadi kunci agar kita lekas terbebas dari persoalan virus apa pun. Tanpa kepatuhan terhadap aturan maka penanganan permasalahan akan menelan waktu lebih lama, sumber daya yang membengkak, dan korban yang rentan terus bertambah. Hal yang tentu tak diinginkan.

Baca juga Makna Perdamaian

Ketaatan terhadap aturan pernah dicontohkan oleh orang-orang yang menjadi korban bom terorisme. Selama menghadapi situasi kritis, para korban menaati seluruh aturan dan anjuran yang ditetapkan pihak berwenang di rumah sakit, baik dokter maupun perawat.

Meskipun hal itu harus dijalani berbulan-bulan dengan berat dan tidak nyaman, tetapi mereka melakoninya dengan sabar demi kesembuhan. Berkat kepatuhan pada aturan, para korban yang terluka parah bisa terselamatkan dan sembuh kendati tidak seperti sedia kala. Sebagai bentuk ketaatan pula sebagian korban terus mengonsumsi obat-obatan hingga kini.

Baca juga Pandemi dan Semangat Berbagi

Dalam Islam, mematuhi aturan pemerintah (ulil amri) merupakan bentuk penghayatan dan pengamalan ajaran agama sebagaimana dalam QS. an-Nisa: 59 dan hadis yang diriwayatkan Muslim.

Allah Swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan kepada para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisa: 59).

Baca juga Membangun Lingkungan Positif

Nabi Muhammad Saw bersabda: “Barang siapa yang menaatiku sungguh ia telah menaati Allah. Barangsiapa yang durhaka padaku sungguh ia telah mendurhakai Allah. Barangsiapa yang taat pada pemimpin sungguh ia telah taat padaku, dan barangsiapa yang durhaka pada pemimpin sungguh ia telah durhaka padaku” (HR. Muslim No. 1835).

Selama masa krisis, kita memang “dipaksa” menjalani kehidupan dalam situasi yang tidak normal. Pelbagai aktivitas sosial harus dibatasi, baik keagamaan, kemasyarakatan, maupun bisnis. Sebagian masyarakat pun telah merasakan kesulitan ekonomi sebagai dampak pandemi Covid-19. Tentu kita berharap situasi demikian segera berakhir sehingga kehidupan normal kembali.

Baca juga Dukungan Komunitas untuk Kebangkitan Korban

Karena itu mari kita taati protokol penanganan Covid-19, seperti menjaga jarak dalam interaksi sosial (physical distancing), tidak mudik saat lebaran Idul Fitri, dan menerapkan PHBS di lingkungan keluarga dan sekitar sebagai perwujudan sikap ketangguhan. Semoga pengorbanan kita dengan mematuhi peraturan dapat segera menjauhkan Covid-19 dari bumi pertiwi.

Baca juga Tiga Mantra Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Refleksi Hari Peringatan dan Penghormatan bagi Korban Terorisme

Setiap tanggal 21 Agustus, diperingati sebagai Hari Internasional Peringatan dan Penghormatan...

Kisah Zulqron Terkena Ledakan Bom

Aliansi Indonesia Damai- 24 Mei 2017 menjadi hari kelabu bagi Zulqron...

Tantangan Kembali ke Jalan Perdamaian

Bagi seseorang yang pernah bergabung dalam kelompok ekstrem, lalu memutuskan keluar...

Menguatkan Semangat Damai Pelajar Melalui Sanlat

Setiap bulan suci Ramadan sekolah dan madrasah biasanya menyelenggarakan kegiatan pesantren...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...