Rindu Ibu, Ekstremisme Luruh (Bag. 2-Terakhir)

Sebagai wujud tanggung jawab ideologis, Irul pernah mengumpulkan orang tua dan saudara-saudaranya di rumah. Ia menasehati mereka agar tidak terlibat dalam Pemilu sebab itu bentuk kesyirikan. Pandangan tersebut jelas ditolak oleh keluarganya.

Penolakan tersebut membuatnya marah. Irul memutuskan berlepas diri dari keluarganya, mengafirkan mereka, dan meninggalkan rumah untuk bergabung sepenuhnya di gelanggang jihad. Ia sempat diiming-imingi untuk berjihad di Afghanistan. Tetapi sebelum itu harus mengikuti pelatihan militer di Aceh.

Baca juga Rindu Ibu, Ekstremisme Luruh (Bag. 1)

Irul bertolak dari Madiun ke Jakarta. Rencananya dari ibu kota akan ke Aceh. Namun ternyata pelatihan itu terbongkar aparat. Polisi melakukan operasi penegakan hukum secara masif. Sejumlah teman Irul tertangkap. Karena merasa tak aman, ia hijrah ke luar Jawa dan bersembunyi di daerah pedalaman Mamuju, Sulawesi Barat.

Saat masa persembunyian itu, Irul bermimpi bertemu dengan ibunya. Awalnya ia menganggap hal itu sekadar bunga tidur. Namun setelah tiga malam berturut-turut mengalami mimpi yang sama, Irul diterpa perasaan kangen pada ibunya. “Seperti apa pun ideologi yang kita yakini, ternyata tidak bisa mengalahkan kasih sayang orang tua. Kadang kita saja yang tidak menyadari,” ujarnya dalam salah satu kegiatan AIDA.

Baca juga Pendidikan Kritis Mengentaskannya dari Ekstremisme

Karena kerinduan itu, Irul menelepon kakaknya di Madiun. Dari pesawat telepon ia menerima kabar bahwa ibunya meninggal dunia sehari sebelumnya. Kesedihan mendalam menyergapnya. Ia pun menangis, hal yang sudah sangat lama tak dilakukannya. Ia menyesal telah meninggalkan orang tua karena prinsip keagamaan yang diyakininya dan belum sempat meminta maaf.

Irul kemudian banyak merenung dan berintrospeksi atas jalan hidup yang ditempuhnya. Saat kembali ke Jakarta, Irul ditangkap dan harus menjalani hukuman kurungan penjara selama 4 tahun karena keterlibatannya dalam kelompok teror.

Baca juga Dari Wilayah Konflik ke Ruang Pendidik

Dari balik jeruji penjara, Irul kian meyakini bahwa perbuatannya dulu adalah kesalahan besar. Terlebih saat di Lapas, AIDA memertemukannya dengan salah satu korban bom terorisme yang tubuhnya penuh bekal luka bakar. Perjumpaan yang semakin menguatkan komitmennya untuk meninggalkan ekstremisme. 

Setelah bebas dari Lapas Klas I Surabaya di Porong dan kembali ke Madiun, selekasnya Irul menziarahi makam ibunya. Ia melangitkan segala macam doa untuk kebaikan ibunya di alam kubur, seraya berharap Allah memaafkan perbuatannya yang telah meninggalkan sang ibu demi hasrat ekstremisme.

Baca juga Ali Fauzi Sembuh dan Menyembuhkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *