Suara Korban
Penyintas Bom Thamrin Melawan Trauma (Bag. 1)
Aliansi Indonesia Damai- “Saya mau tidur, Ya Allah. Satu malam saja.” Doa yang lirih dipanjatkan Andi Dina Noviana, di malam kelam pascamusibah Bom Thamrin 2016 yang dialaminya. Selama 3 bulan ia tak pernah bisa memejamkan mata untuk merasakan nikmatnya terlelap di malam hari. Trauma luar biasa ia rasakan. “Setiap mau…
Read More »Kebangkitan dan Ikhtiar Memaafkan
Aliansi Indonesia Damai- Dwi Siti Rhomdoni, akrab disapa Dwiki, menderita luka fisik dan trauma psikis akibat ledakan Bom Thamrin 2016. Butuh waktu lama bagi Dwiki menyembuhkan dirinya, termasuk mengikis rasa bencinya terhadap para teroris. Adalah hal yang manusiawi tatkala Dwiki merasa marah dan benci karena dirinya secara sengaja dilukai oleh…
Read More »Berdamai dengan Masa Lalu
Aliansi Indonesia Damai – Legit dan pahit ibarat dua sisi mata uang dalam kehidupan dunia. Lika-liku ikhtiar menghadapi kepahitan layak dikisahkan kepada khalayak luas sebagai pembelajaran. Kisah ketangguhan penyintas terorisme mengajak kita untuk berdamai dengan masa lalu demi melanjutkan hidup dengan sikap optimis. Salah seorang korban tidak langsung bom Bali…
Read More »Kala Penyintas Bom Memerjuangkan Hak Asuh
Aliansi Indonesia Damai- “Setelah kejadian itu, Ibu tidak bisa melukiskan perasaan Ibu seperti apa. Hanya bengong, tidak bisa berpikir apa-apa.” Demikian Nyoman Rencini mengenang suasana batin dirinya usai kehilangan suami tercinta akibat peristiwa Bom Bali, Oktober 2002. Suaminya, Ketut Sumerawat, bekerja sebagai sopir salah satu restoran di kawasan Legian Kuta…
Read More »Makna Nikmat dalam Musibah
Aliansi Indonesia Damai – “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar.” Tak ada kalimat lain yang sanggup keluar dari bibir Sudirman Talib ketika mendapati dirinya bersimbah darah dan terkapar usai ledakan dahsyat yang terjadi di dekat posisinya berada. Ia belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Saat itu ia melihat banyak orang…
Read More »Pengalaman Spiritual Penyintas Bom Kuningan
“Saya depresi luar biasa. Setiap hari marah, emosi, benci dan dendam. Dulu sehat tapi kini harus tidur dan makan di kursi roda. Bahkan setelah satu tahun, saya masih ingin mencari pelakunya. Pada akhirnya saya sering iktikaf di masjid, menenangkan diri. Dan saya dapatkan hal luar biasa. Perlahan saya hilangkan kebencian…
Read More »Pengabdian Tak Kenal Keterbatasan
Aliansi Indonesia Damai– Pagi itu, 9 September 2004, dengan gagah seorang pemuda anggota Direktorat Pengamanan Obyek Vital (Pam Obvit) Polda Metro Jaya sedang bersiaga di depan gedung Kedutaan Besar Australia di kawasan Kuningan Jakarta Selatan. Dia lah Asep Wahyudi, pria berdarah Sunda yang masih berusia 20 tahun kala itu. Impiannya…
Read More »Asa Perempuan Tangguh Setelah 5 Tahun Bom Thamrin
Aliansi Indonesia Damai – Masih melekat dalam ingatan para korban suara ledakan kencang, kaca berhamburan, orang-orang tergeletak bersimbah darah. Lima tahun silam, 14 Januari 2016, pagi yang cerah berubah menjadi duka serta rintihan bagi korban serangan Bom Thamrin. Jakarta berduka. Ada enam kali ledakan serta rentetan penembakan dalam serangan tersebut.…
Read More »Bangkit demi Ibu
Aliansi Indonesia Damai- Aksi terorisme tidak hanya mengakibatkan luka fisik dan trauma bagi korbannya, namun juga berdampak pada perekonomian keluarga korban. Inilah yang dialami oleh Nugroho Agung Laksono, penyintas Bom Kampung Melayu 2017. Sejak usia belasan tahun, Agung, demikian sapaan akrabnya, memutuskan untuk bekerja demi membantu perekonomian keluarganya. Usai ayahnya…
Read More »Ibu Korban Bom: Kenapa Membunuh Anak Saya?
Aliansi Indonesia Damai- Mata Iyut Kasbiah berkaca-kaca saat harus kembali mengenang sosok mendiang putrinya, Rina Dewi Puspita. Rina meninggal dunia akibat peristiwa pengeboman di depan Kantor Kedubes Australia, Jalan HR Rasuna Said Kuningan Jakarta Selatan, 9 September 2004. Rina kala itu berstatus mahasiswi semester 5 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi…
Read More »










