HomePilihan RedaksiAsa Perempuan Tangguh Setelah...

Asa Perempuan Tangguh Setelah 5 Tahun Bom Thamrin

Aliansi Indonesia Damai – Masih melekat dalam ingatan para korban suara ledakan kencang, kaca berhamburan, orang-orang tergeletak bersimbah darah. Lima tahun silam, 14 Januari 2016, pagi yang cerah berubah menjadi duka serta rintihan bagi korban serangan Bom Thamrin.

Jakarta berduka. Ada enam kali ledakan serta rentetan penembakan dalam serangan tersebut. Sejumlah orang meninggal dunia seketika dan puluhan lainnya terluka. Di antara mereka ada Dwi Siti Romdhoni dan Anggun Kartikasari.

Pagi itu Dwiki, sapaan akrab Dwi Siti Romdhoni, ditugaskan untuk melakukan rapat dengan salah satu klien kantornya di salah satu restoran kompleks Plaza Sarinah. Saat proses pembicaraan kerja sama, terdengar ledakan pertama yang mengubah suasana menjadi sangat kacau. Di antara puing-puing pecahan kaca, Dwiki mencari jalan keluar dengan tertatih-tatih karena sekujur tubuhnya terasa sakit.

Baca juga Menyalakan Semangat Kebangkitan

Ia dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Karena keterbatasan peralatan, Dwiki langsung dirujuk ke Rumah Sakit Permata Hijau. Dari pemeriksaan medis, tulang leher dan beberapa ruas tulang punggungnya patah. Selain menderita cedera fisik, Dwiki juga mengalami problem psikis. Emosinya tidak stabil, karena merasa ada yang kurang dari dirinya.

Sementara Tika, sapaan akrab Anggun Kartikasari, terkena ledakan di ruas Jalan MH. Thamrin Jakarta Pusat. Saat itu ia berniat mengikuti pelatihan untuk bekerja di sebuah pabrik di Jepang. Dari Kendal Jawa Tengah, ia datang ke Jakarta. Selain untuk menikmati waktu liburan tahun baru, ia berniat mencari pekerjaan dalam masa tunggu itu.

Baca juga Dampak Berlipat Korban Terorisme

Ia sama sekali tak menyangka bila kunjungannya ke Jakarta akan menjadi peristiwa kelam kelam dalam hidupnya. Usai melamar kerja bersama adik sepupunya, Riko Hermawan,  mereka diberhentikan polisi karena salah menggunakan jalur. Saat berjalan menuju pos polisi, ledakan terjadi. Suasana sempat tampak gelap karena penuh asap.

Kala Tika membuka matanya, ia menyadari dirinya terlempar ke tengah jalan. Kakinya mengucurkan darah. Oleh seorang pengemudi ojek daring, ia dilarikan ke rumah sakit. Ditemukan banyak serpihan metal yang masuk ke pinggul, paha, perut, dan betisnya. Bagian betisnya bolong karena tertancap paku. Hal yang sangat membuatnya sedih adalah kabar kematian adik sepupunya akibat peristiwa itu.

Tika melakukan rawat jalan selama dua minggu di Jakarta dan akhirnya pulang ke kampung halamannya. Karena tak kunjung bisa berjalan, ia kembali memeriksakan dirinya ke RSUP Kariadi Semarang.

Baca juga Penyintas Bom Thamrin Memaafkan demi Ketenangan

Ada bagian yang terlewatkan ketika operasi di Jakarta. Tulang kaki kanannya patah. Operasi pun dilakukan lagi. Ia diharuskan memakai penyangga kaki. Hampir 1 bulan ia menggunakan kursi roda untuk menunjang pergerakan tubuhnya. Sampai hari ini penyangga kaki tersebut belum diambil.

Kebangkitan dan Harapan

Karena musibah ini, Tika gagal untuk pergi bekerja ke Jepang. Biaya pelatihan yang sudah ia bayarkan juga tak bisa ditarik. Sementara Dwiki harus berdamai dengan kenyataan bahwa kondisi fisiknya tak lagi seperti sedia kala. Namun kedua perempuan hebat ini tidak patah arang.

Dwiki terus berusaha untuk menerima serta memaafkan situasi yang pernah menimpanya demi masa depan yang lebih baik. Proses itu tentu tak mudah. Namun akhirnya ia sampai pada tahap memaafkan para pelaku terorisme. Menerima dengan ikhlas dan memaafkan mantan pelaku adalah salah satu kunci membentuk perdamaian. “Kita harus bergandengan tangan dengan berbagai konflik, agar korban seperti saya dan yang lainnya tidak ada lagi,” tuturnya.

Baca juga Bersahabat dengan Mantan Ekstremis

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Anakku Penguatku

Aliansi Indonesia Damai – “Saya langsung menyalakan televisi dan muncul berita...

Dampak Berlipat Korban Terorisme

Aliansi Indonesia Damai– Anggun Kartikasari mencoba mengingat kembali peristiwa pilu yang...

Berbagi Cerita Melawan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- “Saya belum siap untuk menceritakan pengalaman pilu serangan...

Dukungan Kerabat untuk Pemulihan Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai – Serangan bom 16 tahun silam di depan...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...