HomePilihan RedaksiIbu Korban Bom: Kenapa...

Ibu Korban Bom: Kenapa Membunuh Anak Saya?

Aliansi Indonesia Damai- Mata Iyut Kasbiah berkaca-kaca saat harus kembali mengenang sosok mendiang putrinya, Rina Dewi Puspita. Rina meninggal dunia akibat peristiwa pengeboman di depan Kantor Kedubes Australia, Jalan HR Rasuna Said Kuningan Jakarta Selatan, 9 September 2004.

Rina kala itu berstatus mahasiswi semester 5 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas Jakarta. Usianya belum genap 20 tahun. “Kejadiannya waktu itu dia mau pergi kuliah di Perbanas. Dia mau lewat tiba-tiba bom meledak. Saya juga nggak punya perasaan apa-apa,” ucap Iyut saat berbagi kisah di salah satu kegiatan AIDA belum lama ini.

Baca juga Ujian Ketangguhan Iman

Kasbiah ingat betul, pagi itu anaknya berangkat kuliah diantar oleh sopirnya, Suyatno, menggunakan sepeda motor. Suyatno juga menjadi korban dalam ledakan tersebut. Posisi Rina dan Suyatno saat itu sangat dekat dengan sumber ledakan, yaitu di seberang gedung Kedubes Australia. Ia mengetahui informasi bahwa Rina menjadi korban bom ketika salah satu teman Rina meneleponnya beberapa saat setelah kejadian. “Mama Rina, ada kejadian bom meledak. Coba telepon Rina,” ujar Kasbiah menirukan teman Rina yang saat itu menghubunginya.

Sontak Kasbiah panik. Ia mencoba mencari anaknya keliling Jakarta namun tak kunjung menemukan. Pada malam hari ada orang yang datang ke rumah mengantarkan KTP milik Rina. Ternyata Rina berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Di sana Kasbiah harus menerima kenyataan paling pahit. Anak perempuan satu-satunya telah pergi untuk selamanya. Malam itu juga jenazah Rina langsung dibawa pulang ke rumah.

Baca juga Anakku Penguatku

Duka bertahun-tahun menyelimuti hati Kasbiah. Tak mudah baginya kehilangan seorang belahan hati. Rina adalah harapan. Kehilangan Rina sama dengan kehilangan asa. “Sampai sekarang saya selalu ingat. Namanya juga anak ya. Kalau mengingat itu, hati seperti apa ya, mengingat kembali yang sudah lama terjadi,” ucapnya terbata-bata.

Butuh waktu lama bagi Kasbiah untuk bisa bangkit dari kesedihan. Kasbiah mengaku, selama 3 tahun pascamusibah berusaha melewati masa-masa sulit tanpa kehadiran Rina. Berbagai usaha ia lakukan termasuk menjalani konseling dengan psikolog.

Baca juga Berbagi Cerita Melawan Trauma

“Kalau ada pelakunya saya mau nanya, kenapa membunuh anak saya? Apa salah saya? Apa salah anak saya? Mudah-mudahan mereka bertobat, menjadi orang yang baik kalau udah keluar,” ujar Kasbiah.

Perlahan Kasbiah mulai ikhlas dan menerima takdir. Ia merasa beruntung keluarga dan kerabatnya terus memberikan dukungan. Ia juga ikut aktif dalam komunitas korban untuk saling mendukung dan menguatkan. “Kalau saya sekarang sudah mengikhlaskan. Hatinya sudah ikhlas, jadi tenang. Udah nggak mengingat-ingat itu lagi,” katanya memungkasi.

Baca juga Dukungan Kerabat untuk Pemulihan Korban Bom Kuningan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Previous article
Next article

More from Author

Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Enam tahun telah berlalu. Awal tahun 2016 menjadi kenangan suram bagi...

Refleksi Hari Ibu: Perempuan, Kasih Sayang dan Perdamaian

Oleh Linda Astri Dwi WulandariAsisten Program Manager Rehabilitasi AIDA Momentum Hari Ibu,...

Kisah Inspiratif Korban Bom Bali 2002 I Gede Budiarta: Bangkit Melawan Trauma untuk Menggapai Kepercayaan Diri

Aliansi Indonesia Damai - Terorisme selalu lekat dengan kehilangan, kehancuran, dan...

16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Hari ini, tepat 16 tahun yang lalu, Indonesia berduka. Tiga serangan...

Menjadi Bangsa Juara

Oleh Hasibullah Satrawi, Penulis adalah pecinta Timnas Indonesia. Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara,...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...