HomePilihan RedaksiPengalaman Spiritual Penyintas Bom...

Pengalaman Spiritual Penyintas Bom Kuningan

“Saya depresi luar biasa. Setiap hari marah, emosi, benci dan dendam. Dulu sehat tapi kini harus tidur dan makan di kursi roda. Bahkan setelah satu tahun, saya masih ingin mencari pelakunya. Pada akhirnya saya sering iktikaf di masjid, menenangkan diri. Dan saya dapatkan hal luar biasa. Perlahan saya hilangkan kebencian dan rasa dendam”.

Aliansi Indonesia Damai- Sepotong penuturan di atas disampaikan oleh Ram Mahdi Maulana, penyintas Bom Kuningan 2004 dalam salah satu kegiatan AIDA. Kisah Mahdi patut menjadi ibroh (pembelajaran) bahwa setiap peristiwa buruk yang menimpa seseorang bukanlah alasan untuk terpuruk dan meratapi keadaan. Sebaliknya ujian selalu ada agar setiap orang mampu bangkit dan menjadi pribadi yang lebih kuat lagi.

Baca juga Pengabdian Tak Kenal Keterbatasan

Bom yang meledak di depan kantor Kedutaan Besar Australia 16 tahun lalu itu membuat Mahdi mengalami sejumlah luka, tidak hanya fisik tetapi juga psikis. Ia mengalami penurunan fungsi pada sebagian anggota tubuhnya, terutama di syaraf. Akibat benturan yang sangat kencang, darahnya menggumpal di bagian kepalanya, rahang kanan patah dan rahang kiri lepas. Di bagian telinga kanan, gendang telinganya juga rusak.

Selama dua bulan Mahdi dirawat di rumah sakit secara intensif. Sekarang, belasan tahun setelah peristiwa itu terjadi, ia masih harus berobat. Peristiwa itu membuatnya depresi dan sempat ingin membalas dendam terhadap pelakunya. Ia harus menjalani fisioterapi karena tidak mampu memegang benda apa pun. Sejak peristiwa itu pula ia merasa masa depannya sudah tak tertolong lagi. Ia terus menerus emosi sambil meratapi keterpurukannya.

Baca juga Ibu Korban Bom: Kenapa Membunuh Anak Saya?

Tak sampai di situ, dua tahun setelah kejadian Mahdi masih mengalami depresi. Musababnya, ia tak mampu bekerja secara maksimal. Oleh rekan-rekan kerjanya Mahdi dianggap tak mampu bekerja lagi dan cenderung diremehkan. Mahdi lantas berkeinginan untuk keluar dari pekerjaannya. Kejadian demi kejadian berat terus berlanjut ia alami. Sampai ia memilih rutin beriktikaf di masjid dan mendekatkan diri pada Allah SWT.

Suatu waktu, ia bertemu dengan seseorang yang tak ia kenal. Orang itu mengatakan, “Saya tahu apa yang kamu rasakan. Kebencian akan terkikis, sementara kebaikan tidak akan pernah habis.” Mahdi merasa ada sesuatu yang luar biasa dari pernyataan itu. Ia bertanya-tanya siapa sebenarnya orang itu. Ia pun membatalkan diri untuk mundur dari pekerjaannya. Mahdi juga pernah mendapati seseorang tengah mendoakan seekor kucing yang terluka. Orang itu justru memohon ampunan bagi orang yang melukainya.

Baca juga Ujian Ketangguhan Iman

Mahdi merasa ada begitu banyak peristiwa yang mengajarinya tentang ketangguhan hidup. Semenjak itu, ia tak lagi meratapi keterpurukannya. Ia juga tak lagi bicara tentang baik dan buruk, positif dan negatif. Karena hal itu menurut dia bersifat relatif. Ia pun merenungi makna dari sebuah cinta yang sifatnya absolut dan selalu memberi.

Mahdi merasa apa yang menimpanya adalah takdir Ilahi yang harus diterima, bukan diratapi. Saat itu pula ia belajar untuk mulai menghilangkan dendam dan kebencian melalui tempaan spiritualitas dan perenungan.

Baca juga Anakku Penguatku

Mahdi kemudian mengajarkan kepada anak-anaknya tentang arti dari sebuah keikhlasan. Ia selalu meminta anak-anaknya untuk tidak menyimpan dendam dan menjadi pribadi pemaaf. Menurut Mahdi, seseorang yang memberi maaf tidak cukup sekadar mengulurkan tangan semata. Lebih dari itu, yang lebih penting adalah kesediaan melapangkan dada sebagai tanda perwujudan bahwa ganjalan hati akibat kesalahan orang lain telah hilang sama sekali.

Baca juga Berbagi Cerita Melawan Trauma

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pasang Surut Kehidupan Penyintas

Aliansi Indonesia Damai- Para korban yang terkena dampak serangan terorisme banyak...

Kebahagiaan Merayakan Idul Fitri

Aliansi Indonesia Damai- Syukur alhamdulillah, setelah dua kali merayakan Hari Raya...

Isra’ Mi’raj dan Kepekaan Empati Kita

Oleh Ahmad HifniMahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Setiap tanggal 27 Rajab...

Ibroh dari Dialog Korban dan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagian orang mungkin memandang perjumpaan antara pelaku terorisme...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....