HomePilihan RedaksiPenyintas Bom Thamrin Melawan...

Penyintas Bom Thamrin Melawan Trauma (Bag. 1)

Aliansi Indonesia Damai- “Saya mau tidur, Ya Allah. Satu malam saja.”  Doa yang lirih dipanjatkan Andi Dina Noviana, di malam kelam pascamusibah Bom Thamrin 2016 yang dialaminya. Selama 3 bulan ia tak pernah bisa memejamkan mata untuk merasakan nikmatnya terlelap di malam hari. Trauma luar biasa ia rasakan.

“Setiap mau coba merem, selalu ketarik dengan kejadian saat itu. Ketika terbayang kejadiannya, badan dan kepala saya rasanya panas. Yang ada saya panik attack, teriak, menangis, dan pusing,” ujarnya.

Baca juga Kebangkitan dan Ikhtiar Memaafkan

Dina, demikian sapaan akrab Andi Dina Noviana, tak pernah lupa detik-detik sebelum terjadi ledakan yang mengubah hidupnya. Saat itu Dina sedang menikmati kopi dan sarapan di salah satu restoran di jalan MH. Thamrin Jakarta Pusat, sembari menyelesaikan perkerjaannya. Dina adalah karyawan Digital Marketing di salah satu perusahaan di Jakarta. “Kondisi saat itu tidak ada yang mencurigakan. Normal seperti biasa. Sekitar 40 menit kemudian, baru terjadi ledakan,” katanya.

Kejadiannya begitu cepat. Dina tiba-tiba melihat banyak asap dan merasakan hawa panas. Ia tertimpa reruntuhan meja dan atap restoran. Dina merasa badannya lemas, namun dengan sekuat tenaga ia mencoba keluar dari lokasi ledakan. Ia tak sadar melompat dari jendela setinggi 1,5 meter. Sontak ia terjatuh. “Saat saya jatuh terjadi ledakan kedua di Pos Polisi,” ujar perempuan asal Sulawesi Selatan ini.

Baca juga Asa Perempuan Tangguh Setelah 5 Tahun Bom Thamrin

Dua ledakan kencang yang terjadi, membuat telinga Dina terus berdengung kencang. Ia tak bisa lagi mendengar apa pun di sekelilingnya. Beruntung ada orang yang menolong dan membawanya ke rumah sakit terdekat. “Di UGD, tindakan yang saya dapat adalah operasi bahu kiri. Harus operasi untuk mengeluarkan pecahan kaca setebal 3,5 cm yang menancap,” katanya.

Tak kurang dari 12 jahitan ia terima. Tangan Dina juga harus disokong kawat pengikat permanen agar kembali bisa digerakkan. Bukan hanya luka di bagian tangan, kakinya juga mengalami cedera serius. Selama 3 bulan ia tak bisa berjalan. Telinga sebelah kirinya juga tak pernah lagi bisa mendengar sempurna seperti sedia kala hingga kini. Meski lukanya serius, Dina memilih tidak menjalani perawatan di rumah sakit. Ia ingin dirawat di rumah oleh keluarganya.

Baca juga Menyalakan Semangat Kebangkitan

Bagi Dina, segala luka fisik yang ia alami tak sebanding dengan luka psikis yang ia rasakan. Ia sempat mengalami halusinasi, depresi, trauma, hingga paranoid. Ia seolah selalu didekap oleh perasaan takut. “Ada momen saya nggak mau keluar rumah, saya takut dengan dunia luar,” ungkapnya. 

Dina menyebut masa-masa itu adalah titik terendah dalam hidupnya. Ia merasa sangat terpuruk, bahkan sempat tiga kali mencoba bunuh diri. “Saya sempat mau bunuh diri, karena efek dari depresi. Merasa hidup tidak berguna,” ujarnya sembari menahan air mata. (Bersambung)

Baca juga Dampak Berlipat Korban Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Enam tahun telah berlalu. Awal tahun 2016 menjadi kenangan suram bagi...

Refleksi Hari Ibu: Perempuan, Kasih Sayang dan Perdamaian

Oleh Linda Astri Dwi WulandariAsisten Program Manager Rehabilitasi AIDA Momentum Hari Ibu,...

Kisah Inspiratif Korban Bom Bali 2002 I Gede Budiarta: Bangkit Melawan Trauma untuk Menggapai Kepercayaan Diri

Aliansi Indonesia Damai - Terorisme selalu lekat dengan kehilangan, kehancuran, dan...

16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Hari ini, tepat 16 tahun yang lalu, Indonesia berduka. Tiga serangan...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...